Selasa, 27 Maret 2012

novel : DO'A SI MARJAN Bag. 1

novel : DO'A SI MARJAN Bag. 1

oleh Gurindam Kelana pada 27 Maret 2012 pukul 10:45 ·
KATA PENGANTAR


Alhamdulillah puji syukur,kehadirat ALLAH SWT saya ucapkan atas selesainya penulisan novel ini , tanpa ridho dan petunjuk dari-Nya mustahil buku ini dapat dirampungkan . Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang membantu dalam menyelesaiakan novel ini.
Suatu cerita yang dikemas dalam satu buku,mungkin dalam ukuran novel ia belum di katan tepat karena  halaman yang di tulis mungkin saja kurang dari standar untuk ukuran novel lebih tepatnya buku ini bisa disebut mini novel atau novel pendek. Sengaja di tulis demikian memang buku ini ditujukan pada bacaan ramaja khususnya dan masyarakat luas umumnya,ini disebabkan pada biasanya anak-anak akan merasa bosan dan jenuh jika harus membaca buku cerita berlama-lama. Satu kisah tentang perjuangan hidup seorang anak yang menyikapi hidupnya dalam pandangan positif.

Kisaran ,
Penulis



IWAN SEKOPDARAT








Rona kelabu pada langit,menutupi sinar mentari,seakan turun hujan, namun rintiknya enggan datang, bias-bias cakrawala yang kusam. Pada nuansa mega berselimut  pada mendung yang temaram.
Sepasang sepatu usang yang dijemur di atas kursi kayu dibelakang rumah masih belum kering benar. Seorang anak kecil berumur 8 tahun berdiri tak jauh dari sepatu tersebut. Sesekali terlihat ia jongkok seakan menunggu sesuatu.
“ Marjaan !’ mongapo kau bajomur di siang buto, itu,
( marjan,mengapa kau berjemur di siang buta, itu )
Ujar  seorang nenek kepada anak kecil yang di panggilnya marjan dari dalam rumah.
“ manunggu sopatu pung tak koring-koring “
( menunggu sepatu nek yang tak kering-kering ) ujar anak kecil yang ternyata bernama marjan.
“ karang koringnyo sopatu tu, tak usah kau batunggu “
( nanti keringnya sepatu itu,tak usah ditunggu )
“ iyolah pung “ tukas marjan.
Neneknya hanya tersenyum melihat tingkah cucunya si marjan, di karenakan mereka tinggal di lingkungan dimana tetangga-tetangganya banyak yang bersuku batak mereka lebih sering memanggil neneknya marjan dengan sebutan opung marjan ( neneknya si marjan ).
Marjan tinggal bersama neneknya, ibunya meninggal disaat melahirkan marjan, sementara ayah marjan kini bekerja sebagai TKI di negeri jiran, genap setahun usia si marjan dulu ayahnya pun merantau mengadu nasib di negeri orang.
Marjan dan opungnya tinggal di kisaran Asahan,Sumatera Utara. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari opung marjan berjualan kue buatannya sendiri. Jika ada pasar malam,pesta pernikahan atau sunatan, biasanya marjan menemani opungnya jualan jagung bakar, tak jauh dari lokasi pesta tersebut. Tak jarang mereka pulang larut malam selesai menjajakan barang dagangannya.
Saat ini marjan bersekolah di SDN 09 Kisaran,duduk di bangku kelas 2. Ia tergolong anak yang pintar, ia gemar bermain sepak bola. Jika da waktu luang selesai sore menjajakan kue. Marjan berkumpul bersama anak-anak yang lain dan mereka bermain sepak bola. Marjan anak yang bersahaja dan ramah pada semua orang. Teman-teman marjan sanagt suka bermain dengan marjan.


“ assslamu’alaikum “
“ wa’alaikum salam wr.wb “ jawab marjan.
Dengan sedikit berlari marjan menuju pintu depan yang tak tertutup sehingga dari dalam rumah ia melihat wajah yang tadi mengucapkan salam.
“ mana opung kau marjan, incek bawa jagung posanan opung kau “ tukas lelaki setengah baya yang turun dari sepedanya.
“ sabontar incek, dongar pun opungku itu “ sela marjan.
“ sakojap lagi datangnya “ sambung marjan lagi.
Tak lama nenek marjan pun keluar menghampiri marjan dan incek umar.
“ borapo biji kau bawa jagungnyo umar ?” Tanya si nenek.
“ tigo puluh opung, sesuai posanan opung “ jawab incek umar.
“ bah ! yang banyaklah tu jang ! mongapo sampai limo puluh samantaro yang aku posan tigo puluh “
“ ha,,kau dongarkan itu marjan,opungmu itu, kau torangkanlah samo opungmu itu”ujar incek sambil geleng-geleng kepala kepada marjan.
“ tigo puluh pung yang di bawa incek umar “
Sela marjan kepada neneknya dengan memberi isyarat tangannya.
“ O..tigo puluh. Mengapo tadi kau manggeleng-geleng kepalo kau itu umar,yang kau bilangnyo aku ini pokak samo si marjan ?”
Incek umar yang disangka opung marjan mengejek dirinya hanya tersenyum-senyum ia pun tersenyum kepada si marjan,sambil berkata,
“ biasolah marjan,opung kau itu ponyakit tuo,yang sabar lah kau jang “
“ hai umar, apo yang kau kombur ( cerita ) samo marjan “ tanya nenek marjan penasaran.
“ tidak adolah pung , aku hanya membilang sama si marjan,jago opung kau itu “
Dengan suara sedikit keras incek umar menjawabnya agar nenek marjan mendengarnya,opung marjan pun mengangguk sambil tersenyum.
“ sabontar you umar, aku ka dalam mengambil duit,harga biasokan “
“ iyo pung “ angguk incek umar.
Opung marjan pun masuk kedalam rumah mengambil uang untuk pembayaran jagung tersebut.
“ sudah kolas borapo kau jan ?”
“ kolas duo incek “ jawab marjan.
“ juaronyo kau di sekolah ?”
“ Alhamdulillah incek,aku juaro duo “
“ bah ! sudah mantaplah itu jang,paringkat kaduo,baparingkat di sekolah yang semangat lagi kau bolajar biar biso paringkat ka satu “ nasehat incek umar.
“ iya incek “
Opung marjan pun keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka sambil menyerahkan uang kepada incek umar.
“ kau kiro lagi umar,kadang bakurang “
“ iyo pung “
Incek umar pun menghitung uang yang diberikan opung marjan.
“ pas nyo pung,ma kasih yo pung,ayok jan,incek pulang dulu .assalamu’alaikum”
“ wa’alaikum salam wr.wb “ jawab opung marjan dan marjan bersamaan.
Incek umar pun kembali mengayuh sepedanya berlalu dari hadapan marjan dan opungnya.

Hari ini tetangga yang tak jauh dari rumah mereka mengadakan hajatan kecil dengan menyewa organ tunggal yang lazim di sebut keyboard. Tetangga tersebut berniat mengadakan pesta sunatan ( syukuran dengan khitanan putra mereka ). Kesempatan ini di gunakan opung marjan untuk berjualan jagung bakar di lokasi tersebut. Biasanya ± pukul 15:00 wib sore opung marjan sudah mulai berjualan di lokasi pesta, jika tidak ada pesta atau tidak bukanya pasar malam biasanya marjan sering berjualan kue keliling menjajakan kepada tetangganya dari rumah ke rumah.
Dulu opung marjan berjualan kue di pajak ( pasar ). Tiga  tahun belakangan ini opung marjan tidak lagi berjualan di pajak , mungkin di karenakan umur yang sudah tua membuat ia memutuskan untuk tidak lagi berjualan ke pajak, yang harus bangun pagi-pagi benar. Opung marjan hanya membuat kue dan marjan sebelum berangkat ke sekolah mengantarkan kue buatan neneknya ke pajak untuk di jual pedagang kue langganan mereka yang dulu kawan opung marjan selagi masih sama-sama jualan di pajak .
“ marjan,,nanti malam kau pulang copat yo,karan (nanti ) mengantuk sekolah, jam 8 malam sudah biso kau pulang “ ujar opungnya sambil membuat bumbu racikan jagung bakar yang sore nanti akan di jualnya.
“ iyo pung “ jawab marjan. Ia pun membantu opungnya di dapur.
“ pogi lah kau tidur siang,biarlah bumbu ini opung yang menyiapkannyo.”
“ sakojap lagi pung,tanggung “ ujar marjan.
Opungnya hanya tersenyum melihat cucunya dengan rela membantu pekerjaanya.
Selesai menggilingkan bumbu racikan jagung bakar,barulah marjan beristirahat sejenak,tak jauh dari opungnya bekerja dan marjan pun tertidur. Di tempat tidur kecil beralaskan tikar tanpa kasur yang sengaja di letakkan opungnya di ruangan dapur. Dulu sewaktu marjan kecil opungnya sering menidurkan marjan di tempat tidur yang terbuat dari kayu tersebut,sambil memasak  ia bisa melihat dan menjaga cucunya.
Suara besi yang bergesek di lantai membangunkan marjan dari tidur siangnya. Matahari sudah tidak tegak di atas kepala lagi,sedikit condong kea arah barat menandakan siang telah bertukar dengan sore. Opungnya yang sudah siap-siap hendak berangkat jualan tersenyum ke arah marjan.
“ mongapo aku tak di bangunkan pung ?” sela marjan dengan suara sedikit di keraskan.
“ sodap ku tengok kau tidur marjan,tak sampai hati opung membangunkan kau “
“ tunggu aku ya pung, aku mandi sabontar,biar samo-samo kito borangkat bajualan ”
Tanpa menunggu jawaban dari opungnya marjan pun beranjak dari tudurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri,tak lupa ia menyambar handuk yang tak jauh dari pintu kamar mandi yang sejajar di gantungkan. Terdengar suara air ari dalam kamar mandi yang di siramkan secara tergesa-gesa.
Opungnya pun berjalan ke teras depan sambil melihat-lihat barang kali ada becak yang lewat,yang akan membawakan barang dagangannya  ke lokasi yang tak jauh dari pesta sunatan tersebut.
Dengan menggunakan becak sampailah marjan dan opungnya di lokasi pesta tersebut,di pinggir jalan tukang becak itu menurunkan barang dagangan opungnya, jagung, kursi, tempat pembakaran dan sebuah mangkok berukuran sedang tempat bumbu yang akan di oleskan ke jagung sebelum jagung itu di bakar. Opung marjan berjualan jagung bakar di pinggir jalan tak jauh dari tempat di mana pesta hajatan itu di laksanakan.
Setelah menyusun sedemikian rupa baru lah opung marjan meletakkan arang di atas tempat pembakaranyang tidak begitu besar. Dengan sedikit minyak tanah  opung marjan pun menyalahkan apinya,arang kini terbakar dalam tempat pembakaran. Opung marjan mulai mengipas-ngipas dengan menggunakan kertas koran,hingga arang yang terbakar menjadi bara yang merah membara .
Suara organ masih bergema, mengalunkan irama pada tarian jiwa, seorang biduan dengan suara khasnya membawa tembang kenangan. Tembang lawas yang menjadi pamungkas bagi mereka.
Opung marjan mulai mengolesi jagung tersebut dengan racikan bumbu yang ia buat siang tadi di rumahnya.
“ opung, biar aku sajo yang mengipasnyo “ ela marjan. Ia pun turun dari kursi dan menghampiri tempat pemkaran. Marjan mengambil Koran bekas lalu tanganya bergerak lincah mengipas-ngipas di atas bara.
“ jangan terlalu dokat karan tabakar “ opung marjan menasehati cucunya, ia pun meletakkan jagung yang sudah di olesi dengan racikan bumbu tersebut, meletakkannya di atas bara yang membara.
Marjan asyik mengipas-ngipas, sesekali matanya memandang ke arah pentas dimana seorang biduan membawakan tembang yang tak asing lagi di dengar dari tempat mereka jualan. Marjan dapat melihat jelas,suara organ tunggal pun cukup membuat gendang telinga berdenyut. Namun, bagi marjan dan opungnya sudah biasa.
Jika jualan mereka belum habis hingga malam,tak jarang marjan tertidur di kursi plastik yang sengaja dibawa opungnya, dan opungnya pun menyelimuti cucunya dengan selendang yang di gunakannya kemana ia pergi.
Bukan hanya opung marjan saja yang berjualan dadakan dipinggir jalan tak jauh dari tempat hajatan tersebut, disana juga ada yang berjualan molen (pisang yang di goreng dalam lilitan  tepung ), berjualan balon, berjualan mainan anak-anak berjualan gorengan dan lain-lain.
Satu persatu para undangan mulai berdatangan pihak keluarga yang menyelenggarakan kegiatan, menerima tamu dengan senyum ramah dan sopan tak lupa mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi hidangan yang telah di sediaakan, biasanya para tamu undangan yang pulang dari tempat hajatan singgah sejenak ketempat-tempat dimana para penjual menjajakan barang dagangannya mereka membeli makanan tau mainan anak-anak untuk di bawah pulang sebagai oleh-oleh atau buah tangan untuk keliuarga.
Seorang wanita setengah baya menghampiri jualan marjan dengan mengundang seorang anak  perempuan yang seumuran dengan marjan kepada marjan ibu dan anak perempuan itu berujar.
 “ marjan kemana opung boru mu”( marjan kemana nenekmu )
 “ membeli plastic, tompat, jagung bakar wak “. ( membeli plastic tempat jagung bakar)  jawab marjan.
“ Jan, PR kau sudah siap, besok dikumpulkan PR nya “ ujar anak  perempuian itu yang ternyata teman sekelas marjan.
“ Sudah pun Halimah, semalam ku kerjakan”pungkas marjan sesekali ia membolak-balikan jagung yang di kipasnya di atas bara.
Ternyata anak perempuan yang di gandeng ibunya bernama Halimah.
Tak lama opung marjan pun kembali ketempat semula.
“ Opung jagung bakarnya ada berapa semua, aku borong ya ? “ ujar ibi si halimah
“apo sarung tabakar, sarung siapo tabakar ?” tanya opung marjan yang salah mengartikan  pertanyaan “ bukan pung, kato omak halimah, basiso berapo lagi jagung nyo, ondak diborong orang ito samuo” sela marjan yang bangkit berdiri dari jongkok, menghampri opungnya dengan suarasedikit agak dikeraskan mengimbangi suara speaker dari organ tunggal tersebut.
Halimah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah marjan dan orang tuanya.opung marjan pun menerangkan pada halimah dan ibunya.
“ O ..tinggal dua puluh lima bijik, saribu satu jadi samuo nyo duo puluh limo ribu, yan banyaklah jang membolik apo hajatan apo”.
“ Gk ada apa-apa lah pung, saudara dari medan saja yang datang berkunjung kerumah” jawab ibunya halimah opung marjan mengernyitkan dahinya seakan tidak paham apa yang diucap ibunya sihalimah memang saat itu suara music sangat keras di tambah lagi opung marjan yang memang kurang pendengarannya.
“ Maklum lah wak, opung aku pokak, kurang pendengarannyo, karankah  wak kuantar kerumah wak, ini belum semua kubakar”.
“ iyalah jan, makasi ya “ ibunya halimah pun memberikan uang dua pulu lima ribuan kepada kepada opung marjan dan mereka pun pamit pulang kepada opung marjan.
“ yok jan, aku pulang sampai ketemu dirumah ya,tukas halimah kepada marjan.
“iyolah halimah” jawab marjan.
Dengan semangat marjan mengipasi jagung bakarnya
“ Opo kato omak kawan kau itu jan, Tanya opung nya.
“ nantilah pung, dirumah aku critakan di sini suaronyo gaduh “ ujar marjan.
Opungnya hanya mengangguk kepalahnya, tanda mengerti, hari ini mereka pulang dari berjualan agak cepat karena ibunya sihalimah memborong semua jagung bakar mereka. Selesai memberesi dan merapikan jualannya opung marjan berniat memanggil becak yang tidak parkir dari lokasi hajatan tersebut, dengan isyarat lambaian tangan opung marjan, seseorang pengendara becak menghampiri marjan dan dan opungnya, ia pun turun dari becaknya membantu opung dan marjan mengangkat perlengkapan jualan tersebut.
“ opung marjan tunggu “ seseorang dari salah satu pihak keluarga berlari kecil menghampiri marjan dan opungnya sambil memberikan sebuah bungkusan.
“ Apo ini “Tanya opung marjan
“ tak ada apo-apolah pung, ini ada bontot sikit biar dibawak pulang kerumah”. (makanan yang dibungkus).
“ terimah kasih la yo” jawab opung marjan sambil menyalami orang yang memberikan bungkusan  makanan tadi, setelah menyalami opung marjan orang tersebut kembali ketempat kegiatan.
“ marjan kau tunggu sebentar yo, sogan opung tak menyalami orang itu”marjan mengangguk,
Opung nya berjalan menuju ketempat kegiatan, dengan uang yang digenggam ia menyalami pihak keluarga yang mengadakan kegiatan, pihak keluarga menolak halus pemberian opung marjan, mereka mengatakan, mereka memberi bungkusan, itu ikhlas, lebih bagus uang yang tadi diberikan opung marjan digunakan untuk keperluan sekolah marjan, sekali lagi opung marjan mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga yang mengadakan acara, tak lupa opung marjan berdoa semoga anak yang baru dikhitankan menjadi orang yang berguna  bagi keluarga bangsa dan Negara nantinya, atas doa tersebut sepasang suami istri itu memeluk opung marjan secara bergantian.
Dengan menggunakan becak marjan dan opungnya pulang ke rumah tak lupa mereka singgah sebentar di rumah halimah mengantarkan jagung bakar pesanan ibu halimah.
Di dalam kelas sekolah dasar seseorang guru sefang menerangkan pelajaran berhitung kepada anak didiknya, marjan dan teman-teman yang lain menyimaknya dengan seksama.
“ dolah dua di tambah duah sama dengan berapa ? ” Tanya Pak Lokot.
“ e..h…eh  sarupo pak “ jawab dolah gelagapan sontak murid-murid yang lain jadi tertawa semua.
“ bah ! unang modom no dolah.”
   (bah ! jangan tidor kau dolah ) tukas dapot sihotang teman sebangku dolah.
“ Dolah, mari’’ panggil pak lokot.
Dengan wajah tertunduk malu dolah pun berjalan kedepan kelas.
“ jam berapa kau tidur semalam “
“ jam sebelas pak “jawab dolah
“  kan kamu tau besoknya sekolah kenapa tidurnya larut malam “ ujar pak Lokot kembali.
“ somalam ado kenduri di rumah pak, aku lah membantu omak menyusun dan mencuci piring, jawab dolah membela diri.
Pak Lokot hanya tersenyum, dan meminta dolah untuk kembali ketempat duduknya.

Kepada murid-murid pak lokot juga mengingatkan untuk bisa berbahasa atau dapat menggunakan  bahasa Indonesia di lingkungan sekolah , dari dinilah mereka harus membiasakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar agar dikemudian hari tidak susah bagi mereka.
Pak lokot menerangkan seperti itu bukan berarti pak lokot melarang murid-murid atas siswa-siswanya menggunakan bahasa suku daerah masing-masing melainkan harus bisa menempatkan di mana bahasa tersebut dipergunakan.
Tak lupa pak lokot juga bertanya kepada murid-murid akan cita-cita mereka di masa depan.
“ Halimah, apa cita-citamu ?
“ mau jadi dokter pak” jawab halimah
“Mukdin, kalau kamu? “ kembali pak lokot bertanya .
“ mau jadi tentara pak wong tentara gagah tenan”
“ Kamu Dapot apa cita-citamu ?
“ mau macam bapakku pak, jual minyak biar nanti bisa jadi raja minyak”
Murid-murid yang lain mendengar perkataan dapot, menahan tawa geli, pak lokot pun coba menenangkan anak didiknya.
“ sudah-sudah jangan berisik jadi raja minyak pun tidak gampang harus pandai menguasai ilmu hitung seperti yang bapak ajarkan tadi.
“ iya pak, dengan serempak mereka menjawabnya,
“ kamu dolah apa cita-citamu “
“ mau jadi polaut pak, biar biso mengelilingi lautan samudro, menangkap ikan yang bosar-bosar.”( mau jadi pelaut pak, agar dapat mengelilingi samudra, dan menangkap ikan besar )
Mendengar jawaban dolah yang kocak murid-murid yang  lain jadi tertawa semua.
“ sudah anak-anak harap tenag, memang bagus dolah cita-citamu untuk jadi pelaut, tapi mengapa harus menangkap ikan besar ? Tanya pak lokot.
“ kasian ayahku dirumah pak, io pun pelaut, nelayan perahunyo kocil, asal agin koncang tak bisa melaut,takut karam, jadi tak menangkap ikan lah, tak ado yang di jual omakku  dipajak, nanti mengambil ikan orang untuk dijual mahal pak.
Karno itu aku ingin jadi pelaut membawa kapal bosar, walaupun bahaya kabarat ditokan tonggaro, ke salatan ditorjang baratdayo, aku aku tidak peduli, kapalku bosar “ jawab dengan kocak.
Pak lokot dan murid-murid yang laen tersenyum mendengar penjelasan dolah yang sederhana, kembali pak lokot berkata.
“ Dolah, kan tadi sudah bapak bilang,harus dapat menempatkan bahasa dimana ia layak di ucapkan,ini kan di lingkungan sekolah. Hendaknya kita dapat menggunakan bahasa Indonesia,begitu juga dengan anak-anak yang lain tidak terkecuali Dolah,paham kalian !”
“ paham pak “ ujar murid serempak.
“ ya Dolah “ dengan tersenyum pak lokot berujar pada dolah.
“iyo pak, e tasilap,iya pak “ jawab dolah.
“ kamu marjan, apa cita-cita mu ?”
“ mau membawa opungku naikhaji pak,e…..membawa nenek naik haji pak “
“ mengapa dirimu ingin membawa nenekmu naik haji ?”
“begini caritanyopak,bah ! tasilap lagi,,,,,begini ceritanya pak,saya ingin besar nantimemberangkatkan nenek ke tanah suci,karena saya sring dengar nenek mengatakan ingin ke tanah suci,tapi duitnyo tak ado “
Pak lokot terharu mendengar jawaban marjan dengan semangatnya ia ingin memberangkatkan neneknya ke tanah suci memenuhi panggilan ilahi melaksanakan rukun islam yang ke lima.
Pak lokot tahu benar siapa marjan dan opungnya. Ia bertetangga dengan marjan dan opungnya. Sebelum bersekolah pun marjan kecil sudah sering main ke rumah pak lokot atau sengaja dititipkan opungnya sebentar untuk menjaga marjan kepada istri pak lokot jika opungnya ada keperluan sejenak.
Pak lokot juga tahu bahwa marjan anak yang rajin dan giat belajar. Jika ada pelajaran yang kurang paham menurut marjan kepada pak lokot yang masih tetangganya marjan sering bertanya.
Lonceng sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran sudah usai, kepada murid pak lokot meminta untuk memberesi dan memasukkan buku ke dalam tas mereka masing-masing. Duduk yang rapi dan berdo’a sebelum pulang.
Dengan tertib setelah berdo’a satu persatu anak didik pak lokot menyalami gurunya dan keluar dari kelas pulang menuju ke rumah masing-masing.

Dapot, Dolah, Mukdin, Halimah, dan Marjan pulang berbarengan, mereka adalah sahabat yang kemana-mana selalu bersama, berangkat, pulang dan bermain mereka selalu bersama-sama.
“ teman-teman nanti siang main kerumahku ya “ujar halimah kepada marjan, dolah, mukdin dan dapot.
“weh,,,makan enaklah ya “ sela mukdin
“ makan saja bah ! yang kau piker Din “ celetuk dapot.
“emang ado apo limah di rumahmu “ Tanya dolah
“kalau aku limah karanlah selesai menjago kue, ini hari tak ado yang bapesta, potang aku menjual kue lah,salosai bajualan baru aku kerumah mu “ tambah marjan.
Halimah pun mengangguk, kepada teman-temannya halimah menyatakan bahwa kemaren sepupunya anak dari ibunya, berkunjung kerumahnya, paman halimah menyatakan menitipkan anaknya yang bernama maymunah untuk bersekolah disini. Kebetulan maymunah pun kelas 2 SD, jadi mereka akan mendapat teman baru di kelasnya.
Jadi karena itu, maksud halimah mengundang sahabat-sahabatnya main kerumahnya ingin memperkenalkan maymunah kepada sahabat-sahabatnya, teman-teman halimah pun mengiyahkan dan berjanji untuk bisa datang kerumah halimah sore nanti. Di persimpangan jalan mereka pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.
Di rumah dari jendela dapur yang di biarkan terbuka marjan mendapati opungnya masih rebahan sekedar istirahat di tempat tidur kecil yang terbuat dari kayu beralas tikar usang tanpa tilam atau kasur di ruangan dapur mereka sengaja marjan jalan memutar kea rah pintu belakang untuk masuk ke dalam rumah.
“ assalamu’alaikum “ ujar marjan dengan suara sedikit di kuatkan agar opungnya yang kurang pendengarannya dapat mendengar salam dari marjan, 3 kali marjan mengulang salamnya barulah terdengar suara perempuan tua dari dalam rumah.
“ wa’alaikum salam wr.wb, kaunyo itu marjan “ jawab opungnya yang malah balik bertanya.
“ iyo pung, aku ini marjan “
Mendengar suara marjan opungnya pun membukakan pintu. Marjan pun masuk ke dalam rumah setelah terlebih dahulu melespaskan sepatunya, sepatu tersebut ia letakkan di samping pintu dapur. Marjan mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian sehari-hari.
“ salosai baganti baju copat kau makan jan “
“ iyo pung, sakojap “ jawab marjan sambil menggantungkan seragam sekolahnya.
Marjan pun berjalan ke ruang dapur dan siap-siap untuk makan siang.
“ jangan lupo badoa sabolum makan jan, salosai makan sabontar yo kau kerumah pak lokot kau itu, kau bilang opung suruh kemari menabangkan pisang di belakang rumah ini “ ujar opung kepada marjan sambil tangannya menuju kearah luar  halaman belakang rumah mereka yang di tumbuhi pohon pisang.
Marjan pun mengiahkan perkataan opungnya selesai makan dan istirahat sejenak. Marjan kerumah pak lokot yang tidak begitu jauh dari rumah mereka yang hanya berjarak lima rumah.setibahnya dirumah pak lokot, marjan pun memberi taukan apa yang dipesankan opungnya kepada pak lokot.
Pak lokot pun baru selesai makan dan istirahat, bersama marjan pak lokot pun berangkat menuju rumah opung marjan.
Opung marjan berkata kepada pak lokot begitu mereka sudah tiba dirumah.
“ lokot kau tobangkan dulu pisang itu, aku hari ini agak domam, kurang batanago.”
“ iya opung “ jawab pak lokot.
Marjan pun masuk kedalam rumah, tak lupa kepada marjan pun opungnya mengatakan agar marjan tidur siang, marjan pun masuk ke dalam kamar dan merebakan dirinya dipembaringan,mungkin karena kelelahan marjan pun tertidur pulas.
± 20 menit pak lokot pun telah selesai menebang dan mennnyisiri pisang ia pun pamit pulang kepada opung marjan setelah pekerjaannya selesai, pak lokot menolak secara halus ketika opung marjan memberikan dua sisir pisang kepada pak lokot. Sebagai tanda terima kasihnya yang sudah menebangkan pisang dan menyisirnya, opung marjan hanya berdoa semoga pak lokot sekeluarga selalu dalam lindungan tuhan yang maha kuasa ketika dengan sopan pak lokot mengatakan ia ikhlas membantu opung marjan.
Marjan bangun dari tidur siangnya setelah merasakan badannya yang kembali bugar, ia pun langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, didapur opung marjan masih menggoreng pisang yang tadi ditebang pak lokot, selesai mandi dan badan terasa segar marjan pun kembali mengulang-ulang pelajaran menyelesaikan pekerjaan rumahnya sambil menunggu pisang yang di goreng opungnya masak dan siap dijajakan, ia belajar diruang dapur tak begitu jauh dari opungnya yag sedang menggoreng dengan duduk dikurdsi kecil dan bermejakan tempat tidur marjan membuka-buka buku pelajarannya.
Tak lama kemudian pisang yang digorengkan opungnya sudah diletakkan dengan rapi dikeranjang plastic kecil dan siap dijajakan marjan, marjan pun telah menyelesaikan pekerjaan rumah  yang diberikan guru sekolahnya ia pun bersiap-siap berangkat dan menjajakan goreng pisang tersebut, opung marjan tidak menggoreng semua pisang yang tadi disisiri pak lokot ia meninggalkan sebagian untuk di goreng esok pagi dan di tolak (diberikan) kepada pedagang kul yang berdagang dipajak, langganannya.
Sebelum berangkat opungnya sempat berpesan.
“ marjan karan, kau singgahi katompat pak lokot kau kasihkan pisang goreng yang    opung masukkan kedalam plastik tadi yang didalam keranjang itu yo”.
Iyo opung, aku berangkat dulu, assalamualaikum”
“ walaikum salam wr. wb” jawab opungnya dengan wajah tersenyum.
Marjan pun mulai menjajakan gorengannya ia menawari kepada setiapo orang yang berpapasan barang dagangannya dari rumah  ke rumah pun marjan jalani menjajakan goreng pisangnya.
Dengan suara lantang marjan sedikit berteriak
“ goreng..pisaaang..goreeeng..!
goreng pisang buk !
pisang goreng pak !
ujar marjan sambil tersenyum ramah .
beberapa orang yang berpapasan dengan marjan dan rumah yang dilewatinya membeli goreng pisang yang marjan jajakan, tak lama marjan pun tiba didepan rimah pak lokot,pak lokot dan istrinya sedang duduk santai diteras depan rumah mereka, pak lokot membaca surat kabar dan istrinya sedang menyulam.
Marjan pun menyerahkan goreng pisang kepada istri pak lokot sambil menyatakan pisang goreng ini opung yang menyuruhnya memberikan pada pak lokot dan keluarganya, pak lokot dan istrinya menerimanya dengan senang hati dan tak lupa mengucapkan terima kasih istri pak lokot menyelipkan uang lima ribu di saku marjan, namun dengan polos marjan mengembalikan uang tersebut kembali marjan menyatakan kalau goreng pisang ini tidak dijual kepada pak lokot itu sebagai tanda terima kasih opung kepada pak lokot yang sudah membantu opung menebang pisang tadi, pak lokot hanya tersenyum mendengar jawaban polos marjan, dan marjan pun tak kuasa menolak menerima uang ini.ketika pak lokot mengatakan bahwa sengaja uang tersebut diberikan kepada marjan untuk membeli kaus kakinya yang sudah kedodoran, dan pak lokot ingin dengan uang itu besok marjan bersekolah dengan menggunakan kaus kaki baru, dengan hati riang marjan pun mengucapkan terima kasih kepada lokot dan istrinya, marjan pun kembali menjajakan kuenya setelah berpamitan kepada pak lokot dan istrinya .
Dengan berjalan kaki ia menyusuri sisi jalan tak lupa ia menawarkan dan menjajakan barang dagangannya.
“goreng..pisaaang…goreeeng….”
Tak terasa marjan sudah berjalan tak jauh dari rumah halimah marjan pun melihat dolah, mukdin dan dapot duduk diteras depan rumah halimah dari teras rumah dapot berkata kepada marjan”marjan, nanti kalau sudah siap jualan kemari ya.?”
“iya marjan, nanti kemari ya? ”
  tambah halimah dari seberang jalan marjan menjawabnya.
“ iyolah, kalau solosai berjualan aku kesitu “
Mendengar suara anak-anak ibunya, halimah keluar dari dalam rumah ia melihat di sebrang jalan marjan sedang menuntun keranjang kecil menjajakan barang dagangannya, dan isarat tangan ibunya halimah melambai kearah marjan, sambil berkata “ marjan mari “ marjan pun menyebrangi jalan dengan hati-hati dan berjalan menujuh rumah halimah, goreng pisang yang dijajakan marjan masih 12 biji, halimah membelinya semua dan kepada halimah ibunya menyatakan agar membagi-bagi gorengan itu sebagian untuk di makan teman-teman halimah.
Kepada marjan yang baru datang halimah memperkenalkan saudara sepupuhnya maymunah yang sebelumnya sudah kenalkan duluan pada mukdin, dolah dan dapot.
Mereka pun larut dalam obrolan kocak mereka. Maymunah dapat menyesuaikan diri dan cepat berbaur dengan mereka, bercerita, bercanda, dan tertawa bersama.dengan iseng dolah bertanya kepada marjan.
“ marjan, sabonarnyo mano yang botul, pisang goreng, atau goreng pisang, tadi ku dengar tadi kau berteriak goreng pisang, pisang goreng !”
“ menurutmu  mano yang betul ?”  jawab marjan.
“ kayaknya pisang goreng, apo botul ? ‘’ tukas dola
“ saruponyo itu dolah, sepak bola sama bola sepak menurut mu yang mano yang botul
“marjan mala balik bertanya pada dolah, sementara teman-teman yang lain mendengarnya sambil tersenyum kecil melihat raut wajah keduanya dengan cepat dolah menjawab
“ sepak bola la marjan, macam mano pulak kau ini “ marjan hanya tersenyum dan menjawab
“berarti yang botulnyo goreng pisang la dolah, aku hanya berteriak ponat ku mambilang goreng pisang  ku bilanglah pisang goreng”.
“ bah ! kau dolah tendangan pinalti dari marjan , ha…ha…ha..” celutuk dapot
“ karna itu dolah jangan coca kau menjebak kawankan kau sendiri yang masuk perangkap, piyetoh” imbuh mukdin. Dolah hanya yengir kuda melihat teman-temannya menertawakan dirinya sambil menyomot goreng pisang dolah pun berkata.
“ ahh, tak ponting lah itu, mau pisang goreng, atau goreng pisang, yang penting     masukkan kedalam mulut, ha..ha..ha..”
Teman-teman yang mendengar perkataan dolah pun ikut tertawa.
Tak terasa hari telah menjelang senja mukdin, marjan, dolah dan dapot pamit pulang kepada halimah, tak lupa sebelum pulang mereka mengucapkan salam, hanya dapot saja yang tidak mengucapkannya karena memang dapot seorang nasrani, dalam berteman mereka tidak memilih-milih teman yang penting bagi mereka sahabat itu adalah seorang yang selalu baik, pengertian dan perhatian kepada sahabatnya, dapat merasakan suka duka sahabatnya dan juga selalu menghargai rasa persahabatan tersebut.
 Detik demi detik berpacu mengejar menit dan menit tiada henti mengikuti jam, jam  berputar menemani hari, hari demi hari tiada lelah menggapai bulan, bulan-bulan pun bergulir menambah angka pada tahun, tahun pun berganti menelusuri masa.
Tanpa terasa kini marjan, mukdin, dolah, dapot, halimah dan maymunah telah beranjak remaja. Dari sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama mereka selalu bersama, bahkan di sekolah menengah umum pun mereka masih bersama bersekolah di tempat sekolah yang sama. Susah,senang mereka lalui bersama dengan canda dan tawa, menyikapi hidup dan persahabatan dengan positif. Di sekolah menengah umum mereka duduk di bangku kelas 1, atau siswa baru di sekolah menengah tingkat umum tempat mereka menimbah ilmu.
Seperti teman-teman yang lainnya marjan pun beranjak dewasa. Opungnya sudah semakin tua, namun semangat dari nenek tersebut masih tetap menyala.
Marjan masih tetap membantu opungnya membuat kue untuk di jual atau di tolak sama pedagang kue yang berjualan di pajak ( pasar ). Ia pun masih berjualan jagung bakar jika ada pesta pernikahan atau hajatan dengan berjualan di pinggir jalan tak jauh dari lokasi pesta atau  hajatan tersebut. Begitu juga jika ada pasar malam marjan pun mengambil tempat di lokasi tersebut berjualan jagung bakar, opung nya lebih sering dirumah karena memang dengan halus marjan meminta opungnya untuk di rumah saja, marjan pun masih ingat ayahnya sudah dua kali pulang dan menemui mereka, pertama sewaktu marjan duduk dibangku kelas lima sekolah dasar dan terakhir dua tahun yang lalu tepatnya marjan duduk dibangku kelas dua sekolah menengah tingkat pertama kini ayahnya telah kembali membina rumah tangga dengan wanita setempat  diperantauan  dan ia ingin membawa marjan untuk tinggal bersmanya di perantauan  bersama ibu baru (tiri) marjan, karena memang saat ini ayahnya telah menjadi pemborong bangunan yang sukses, namun dengan halus marjan menolaknya dengan mengatakan ingin menjaga opung.
Kepada opung ibu dati mantan istrinya yang telah lama wafat ayah marjan pun mengatakan akan mengurus dan membawa beliau ikut serta bersama ayah marjan, seperti marjan dengan halus opung pun menolak, dengan mengatakan biarlah ia tetap tinggal di kisaran, dirumah peninggalan suaminya, sampai akhir hayatnya.
Dengan keputusan marjan dan opungnya, ayah marjan tak dapat berbuat banyak, ia pun kembali keperantauan, dari dulu pun ayah marjan sering mengirimkan uang untuk keperluan sekolah marjan dan kebutuhan sehari-hari, marjan beserta opungnya, oleh opung marjan uang tersebut selalu ditabung di bank terdekat berharap dengan uang itu marjan dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dikemudian hari kelak untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan sekolah marjan, opungnya masih bisa mengatasi dengan membuat dan berjualan jagung bakar walau yang dihasilkan tidaklah begitu banyak.
Antara pekerjaan dan sekolah, marjan dapat menyiasatinya dengan baik menggunakan waktu luang untuk kembali mengulang-ulang pelajaran dan dengan sungguh-sungguh belajar di saat sang guru sedang menerangkan didepan kelas.
Marjan juga gemar bermain sepak bola, jika sore hari ia tidak berjualan jagung bakar, bersama dolah, dapot dan mukdin mereka selalu satu tim, dan marjan pun masuk di tim sekolah karena keahliannya dalam mengolah bola sangat diperhitungkan tim  sekolahnya.
Bagi marjan bermain sepak bola adalah suatu permainan yang menjunjung tinggi ras persamaan, kekompakan dalam persahabatan, tiada mempersoalkan siapa yang lebih hebat, namun bagai mana cara bekerja sama dengan tidak mementingkan diri sendiri atau membuat mereka keluar sebagai  pemenang.
Karena itu ketika lawan bertemu dengan tim dolah, marjan, mukdin dan dapot mereka bermain harus sangat berhati-hati jika tidak ingin gawang mereka kebobolan berulang-ulang dipermalukan tim marjan.
Mereka juga tahu dolah marjan,mukdin dan dapot mempunyai keahlian dalam menggiring bola yang tidak boleh di anggap remeh, akan tetapi kekompakkan mereka dalam menyusun serangan yang rapi itulah yang di takutkan lawan.
Sekalipun marjan yang menurut tim paling bersinar, tidak membuat marjan menjadi sombong dan angkuh, malahan dengan skill yang dimilikinya ia lebih sering memberikan umpan-umpan yang akurat kepada teman untuk diselesaikan melesakan bola ke gawang lawan dengan sempurna.
Perna juga disaat bermain bola melawan kampung sebelah di saat mereka masih duduk di banku kelas dua sekola menenga tingkat pertama .
Berujung dengan pertengkaran dan berakhir dengan perkelahian setelah menderita kekalahan telak dari tim marjan 4-0, anak kampung sebelah mulai bermain dengan tidak professional dan sedikit agak curang, mereka selalu melanggar peraturan permainan, dapot tidak terima dirinya dijatuhkan dengan tindakan curang mahtub anak kampung sebelah, mereka pun terlibat adu mulut dan berujung dengan adu jotos, marjan yang coba memisahkan malah disangka teman-teman mahtub membantu dapot akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi diantara mereka namun untunglah aparat yag melintasi jalan tak jauh dari tempat mereka bermain dengan sigap dapat memberentikan perkelahian tersebut dan dapat menyelesaikannya dengan cara damai.
Marjan pun masih sering main kerumah  pak lokot guru SDnya dulu, jika ada pelajaran yang kurang ia pahami, marjan pun bertanya kepada pak lokot, marjan pun sangat senang dengan kemahiran pak lokot dalam bermain gitar pak lokot sangat pandai, jari-jari tangannya sangat lihai memetik dawai gitar mengalunkan nada-nada yang dapat menyentuh jiwa, pak lokot tidak pelit untuk membagikan ilmunya dalam hal bermain gitar mengajari marjan, marjan pun merasa sangat bahagia ketika pak lokot mengatakan .” sudahjah, bawa saja gitar ini kerumah mu, biar kau makin mahir bermain gitar, jika aku ingin bermain gitar biar saja aku yang kerumahmu sekalian bersilatuhrahmi dengan opung, dirumah pun bukannya pandai si roma memainkannya, tapi kau harus janji merawat dan menjaga gitar ini”.
“ iya pak, terima kasih “ jawab marjan, roma adalah anak perempuan satu-satunya pak lokot yang dua tahun lebih tua dari marjan, ia duduk dibangku kelas 3 satu sekolahan dengan marjan, ia sangat baik dengan marjan walau ia sedikit pendiam dan tergolong pribadi yang agak tertutup.
Marjan masih ingat ketika lagu pertama yang di ajarkan pak lokot dalam bermain gitar lagu itu pak lokot yang menciptakannya sendiri dan sampai saat ini marjan masih sering membawakan lagu tersbut di iringi petikan gitarnya.

Minggu, 18 Maret 2012

TIANG - TIANG AKSARA Bag. 2

TIANG - TIANG AKSARA Bag. 2

oleh Iwan Sekopdarat pada 19 Maret 2012 pukul 10:59 ·

Di dalam tidurnya abang bermimpi melihat pemuda yang berbaju kotak – kotak itu bersama 3 sahabatnya. Pemuda itu tidak membawa gitarnya. Abang ingat betul dengan mereka walau kenangan itu sudah berlalu ± 15 tahun yang lalu, abang ingin mendekat namun langkahnya tertahan seolah – olah ada dinding kaca yang tebal menahannya. Abang coba berteriak memanggil mereka namun suara abang seolah terpantul ke wajahnya sendiri. Abang pun hanya terdiam mendengar mereka saling bertukar cerita antara pemuda itu yang mereka sebut dengan penulis, tuan pujangga, tuan petuah dan sang penyair. Abang ingat buku yang tadi dipinjamkannya dari Bu Ida kini berada di tangan siempunya buku, si penulis mulai membolak balikkan halaman demi halaman, ia mulai berkata,
“ kepadamu para tiang – tiang aksara, aku yang masih buta dalam menulis dan membaca banyak yang ingin aku tanyakan”
“ tanyalah wahai penulis dengan apa yang dikau tanya kami coba untuk menjawab dan menjabarkannya menurut pengetahuan kami masing – masing”, ujar tuan petuah
Penulis berkata,
 “ all the wealth, of the world could not buy you friend, not pay you for the lose of one “
  ( segala kekayaan di dunia tidak dapat membelikan kamu seorang sahabat dan juga tidak dapat membayar kamu oleh kehilangan seorang sahabat )
Tuan petuah pun mulai menjawab,
          “ indah nian petuah yang dikau bacakan penulis akan arti sahabat yang melebihi dengan emas seikat.
                   Sahabat ialah obat
                   Obat dari segala raja obat
                   Dengan perkataan mampu menyirami hati yang nestapa
                   Dengan perbuatan mampu menyejukkan langkah yang fana
                   Ingatlah akan makna sahabat
                   Sekalipun gigi dengan lidah adakalanya tergigit
                   Hendaklah jangan menjadi minyak bercampur air
                   Carilah kamu seorang sahabat
                   Yang mau menangis dalam kesusahan “


Tuan pujangga coba menjawab dengan bahasa pantunnya,
            “ maka ku ikat tepak tembikar
              Tembikar menyilau di kias kata
              Makna sahabat tiada tertukar
              Sekalipun dengan kilau emas permata
                             Tiada bertemu ujung dikebat
                             Jika lidi tinggal sebatang
                             Ingatlah kamu seorang sahabat
                             Disaat iri dirantau orang
              Sekerat ujung jari
              Sekebat yang jadi peniti
              Sahabat yang terpatri
              Ialah sahabat yang mengerti isi hati “
Sang penyair pun menanggapinya dengan bahasa puisinya,
            “ Sahabat hati…
              Tiada harta dunia untuk mengganti
              Tak terganti
              Sekalipun bumi berhenti
              Berputar tuk matahari
              Andai pun tau, harga emas permata
              Maka sahabat
              Tidak terharga dengan harta dunia

              Sahabat hati…
              Mungkin suatu saat kan pergi
              Namun maknanya
              Tetap bersemi di hati
              Beruntunglah diri
              Dapat bertemu dan berbagi
              Dengan sahabat hati “


Si penulis pun puas dengan jawaban tiang – tiang penyangga sastra, kembali ia bertanya, dari buku yang dibacanya,

                          “ a bird in the bag is worth two on the song”
              (seekor burung di dalam tas lebih berharga daripada dua ekor dicabang kayu)

Kali ini tuan pujangga yang mulai menjawabnya,
              “ jika hendak belajar ilmu ikhlas
                 Taulah ia rasa sukur yang berkias
                             Barang siapa yang berharap sekerat
                             Tentulah yang ditangan tiada ia dapat
                 Sebutir telur yang dipegang lebih terpandang
                 Daripada seekor ayam dikandang orang
                             Syukuri yang di dapat saat ini
                             Jangan berharap lebih melampaui “ 

Tuan petuah pun coba menggenapinya,
                   “ ialah nafsu…
                      Yang slalu meraja …
                      Sekalipun ada tetap kurang adanya
                      Tiada mengenal cukup untuk suatu nafsu
                      Yang ada seakan dibiarkan
                      Yang tiada selalu diharapkan
                      Harapkan merpati yang terbang tinggi
                      Punai ditangan dilepaskan “

Sang penyair pun coba menjawab menurut bahasa hatinya,
                      “ aku terpelanting
                        Dari hasratku sendiri
                        Banyak sungguh bunga
                        Yang ditangan layu kurasa
                        Aku buta oleh rasa
                             Tuli oleh rindu
                                      Dan bisu oleh cinta
                        Mengharap mawar yang temaram
                        Seroja ditangan tidak kusiram “

“ wahai penulis adakah lagi suatu kata pada tiang – tiang aksara yang hendak kau baca agar kami bisa menjabarkannya”, tukas tuan pujangga.



Si penulis pun mulai bertanya dalam buku yang dibacanya,
                                “ it is no use crying over spilt milk “
                        ( tidak ada gunanya menangisi susu yang terbalik )
Adakah tuan – tuan dapat menjelaskannya ?” 
Sang penyair pun menjawab,
              “ dari candu dunia
                 Terkadang terlupa
                 Dengan kesenangan sesaat yang terpedaya
                 Sesal timbul dibelakangnya
                 Terlena dekapan candu yang menggoda
                 Menangisi sudah tiada guna
                 Dengarkan bisikan nurani
                 Jarang ia mengingkari “

Tuan petuah pun menjawab dalam madahnya,
              “ ingatlah olehmu akan pepatah
                 Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna
                 Ingat jua olehmu akan satu pepatah kalau nasi
                 Sudah menjadi bubur, keduanya menandakan
                 Hitung hidupmu dalam langkahmu
                 Seumpama engkau berusaha
                 Sebisa engkau berdoa “
Tuan pujangga pun menafsirkannya,
              “ jika hasrat yang berencana
                 Hendaklah di niat dengan doa
                             Barang siapa memulai usaha
                             Rugi dan untung ia terima
                 Hendaklah dipangkal bertanya
                 Niscaya dihujungnya berupaya
                             Berpikir sebelum melangkah
                             Agar kecewa tiada singgah “
Abang dengan seksama mendengar semua pembicaraan mereka, si penulis kembali mulai bertanya dari buku yang dibacanya,
                      “ as the old cock crows, the young cock learns “   
              ( sebagai juga ayam jantan tua berkokok, yang muda pun belajar )
Tuan petuah menjawab,
“ laksana buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya bagaikan tunas yang tumbuh tak jauh dari induknya seumpama air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua
Ialah kaca
Yang dicermin oleh anaknya
Akan perangai dan tabiat yang ada
Hendaklah menjadi tauladan
Bagi yang muda menjadi pedoman “
Sang penyair pun menambahkannya,
              “ dari pundi – pundi
                 Tersingkap batas mengekang
                 Jangan salahkan yang muda
                 Jangan kucil mereka
                 Jangan acuhkan semua
                 Ingat sewaktu mereka bertanya
                 Pahami yang muda berjalan
                 Telusuri langkah semua
                 Dimana tempat bersangga
                 Cerminan yang muda di depan
                 Ajari sebongkah rasa
                 Andaipun cermin janganlah retak
                 Agar yang muda berkaca
                 Tidak hilang dalam gerak “




Tuan pujangga pun menjawab dalam kiasan pantun,
                 “ satu pun dihadapkan
                   Akarnya ditiang anjungan
                   Sepantun bertauladan
                   Agar tak hilang berpedoman
                                      Bawalah naik peti ditangga
                                      Tangga tidak dihanyutkan
                                      Hendaklah baik budi bahasa
                                      Semoga kelak diturutkan
                   Naik perahu disiang hari
                   Ingatlah pendayung jati
                   Baik buruk budi pekerti
                   Anaklah yang menuruti

Kembali si penulis bertanya dari buku yang dibacanya,
                              “ as you have brewed so shall you drink “
                   ( sebagai yang kamu tarak, begitu pula yang akan kamu minum )

Tuan petuah pun coba mengupas dari perkataan tersebut,
                 “ seumpama menyemai, ialah beroleh menuai
                 Sebagaimana menanam, ia jua yang memetik
                               Hendaklah arif dan bijaksana
Dalam menyikapi hidup dialam fana
Memang terkadang tiada ia sempurna
Namun berusahalah
Berlaku adil pada sesama”





Tuan pujangga pun menjawab
                 “ hendaklah berlaku didunia dengan arif dan bijaksana
                 Niscaya hidup tiada siang sengketa
Barang siapa menabur fitrah
Niscaya disorga tiada tempat ia bertadah
                 Barang siapa menabur kebajikan
                 Ilmu amalan tentu ia dapatkan
                               Berlakulah seperti timbangan
                               Adillah ia dalam soalan
                 Bertanam nafsu diraga sendiri
                 Tahulah klak tiada satupun tercukupi

Sang penyair pun menjawab
                 “ pucuk niur dipatah
Kelapa berbuah tak berguna
Air laut pasang
Pasir dipantai pun tenggelam
Ketika angin berkumandang
Cemara dan jati ikut tumbang
Jangan berharap
Pucuk niur yang dipatah
Buah kelapa santan terasa
Jangan berharap air laut yang pasang
Pasir dipantai pun tergenang
Jangan diharap angin yang berkumandang
Cemara dan jati hanya bergoyang
Haraplah pada untaian
Semoga kelak menjadi tiang aksara pada kiasan


Sipenulis terkagum mendengar untaian mereka,  kembali ia bertanya dari buku yang dibacanya
                        “ beauty is but skin deep “
                   ( kecantikan hanya sedalam kulit )

Kali ini sang penyair yang mulai menjabarkannya
                 “ Cantik …………….
Terkadang aku tersesat oleh kilau mu
Terpedaya oleh pancarmu
Tak dipungkiri
Rasa terluah diawal rupa
Rindu bertekuk diawal bentuk
Cinta terpatri dipandang mata
Asmamu berembuk diujung lekuk
Hingga aku terlupa
Bahwa cantik akan memudar
Digiling sang waktu yang berputar
Hingga aku tak sadar
Cantik akan luntur
Digilas sang masa yang bertutur”
Tuan petuah pun menjawabnya
                 “ Jika engkau bertanya tentang kcantikan
Kenalilah olehmu kecantikan yang hakiki
Kecantikan yang terpancar dari dalam diri
Yang bermuara dihati
Sinaran insan disanubari
Kecantikan wajah hanya sedalam kulit ari
Tak kekal dan abadi
Namun kecantikan dan ketinggian budi pekerti
Selalu bersinar sampai di akhir hayat nanti
Ia tetap berseri di hati pecinta yang sejati “
Tuan pujangga pun menjawabnya,
              “ kenali cantik dari hati
            Taulah ia akhlak yang berbudi
  Jika terkagum dengan wajah yang mempesona
  Disitu awal ia terpedaya
             Pujilah akan kecantikan hatinya
            Jangan terlalu menyanjungkan kecantikan wajahnya
Janganlah cantik dibuat pedang menusuk jantung jantan
Disitulah mulai masuk godaan setan
          Cantik adalah karunia dari Allah semata
          Syukuri dan tawaduklah kepadanya
                      Cantik terkadang membuat jiwa jadi angkuh
                      Hendaklah melapisinya dengan tasamuh “
Kembali si penulis bertanya dari buku yang dibacanya,
                   “ take time while time server “
            ( ambillah waktu selagi waktu meladeni )

Tuan petuah pun menjawabnya,
          “ kerjakan bagimu apa yang dapat dikau kerjakan hari ini, jangan menunda–nunda
            gunakan padamu kesempatan karena kesempatan jarang beroleh dua kali
            dengan bermalas – malas banyak waktu yang terbuang percuma
          Sebagaimana memetik buah yang sudah masak pada tangkainya, maka petiklah buahnya sebelum ia layu dan jatuh ke tanah
          Sebagaimana perahu yang siap membentang layar di laut yang tenang, maka mulailah berlayar sebelum ombak menerjang diterpa angin barat daya yang garang “

Sang penyair pun menjawabnya,
            “ Waktu terus berlalu
              Bagai kuda yang berpacu
              Meninggalkan kenangan bagai debu
Waktuku waktumu
Kadang terbuang percuma
Dengan bermuram durja
Masih banyak pekerjaan yang tertunda
Yang tak sempat ditulis oleh pena
Dari tinta – tinta
Selagi bisa
Buatlah pena menari selagi diisi tinta
Rangkaikan satu kata
Pada tiang – tiang aksara
Segenap engkau menulisnya “

Tuan pujangga pun berkata,
            “ seteru terkadang berbahaya
Jika diselimuti dendam di dada
Waktu tidak terbuang percuma
Selagi mengisi dengan yang berguna
Paku lurus dipalu
Ditempa parang pada pahatannya
Waktu terus berlalu
Tanpa seorang dapat menahannya
Ditempa parang pada pahatannya
Berkelah siku selarik yakin
Tanpa seorang dapat menahannya
Gunakanlah waktu sebaik mungkin
Berkelah siku selarik yakin
Tangan hamparkan berkelang hampa
Gunakan waktu sebaik mungkin
Jangan biarakan hilang percuma

Sesaat si penulis membolak balikkan buku yang dibacanya, halaman demi halaman ia lihat. Kembali ia bertanya dari buku yang dibacanya, kepada tuan – tuan yang dianggapnya sebagai tiang – tiang aksara.
                   “ when wine is in, wisdom is out “
            ( Jika anggur masuk, kebijaksanaan keluar )

Tuan petuah pun menjawabnya
“ reguk dahaga dari minuman sesat
Hanya memuaskan nafsu sesaat
Pada tiap – tiap kerat
Pikiran pun tiada tepat
Meletaknya diatas meja
Berkurunglah meruah dari padanya
Membiarkan ia bertengger diatas kursi
Tentulah hidup ia merugi
Jauhi selagi mana bisa dijauhi
Karena ia dapat merusak hati
Akal sehat jarang terkendali”

Tuan pujangga pun berkata
“ sekali mencoba menenggak minuman yang memabukkan
Niscaya makin jauhlah ia dengan Tuhan
            Tiada rasa bangga yang tercipta
            Setelah mereguk tuak dan nira
            Kenapa yang memabukkan diharamkannya
            Tiada terdapat kebijaksanaan didalamnya
Cobalah melepas dahaga dengan seteguk air putih
Taulah ia akan semangat yang mulai putih”



Sang penyair pun berkata
“ dalam lorong – lorong gelap
Dalam gerbang – gerbang pengap
Terkadang minuman menjadi penghangat
Terkadang minuman menjadi ia kuat
Dari geliat kota yang berkembang
Yang memabukkan slalu disuguhkan
Melupakan adat ketimuran
Menelanjangi budaya yang diajarkan
Masih banyak yang menyehatkan
Mengapa ini menjadi pilihan
Pilihan yang mengangkangi kebijaksanaan”

Kembali sipenulis bertanya dari buku yang dibacanya
“ adventure is a good teacher “
( mengembara adalah guru yang baik )

Tuan pujangga pun menjawabnya
Itik dirumah dari paya
Masuk kedalam tungku belanga
Petiklah hikmah darinya
Karena pengalaman ilmu yang berguna

Bergadang gagah diberitan
Bersiteru merapal keikhlasan
Terkadang kegagalan menyakitkan
Namun disitu awal kesuksesan
          Berbaju teluk belanga
          Bersongket dirajut cindai sutra
Jangan ragu untuk mencoba
Karena salah guru yang paling mulia
Sang penyair pun menjawabnya
“ perjalanan bersimbah peluh
Duduk bersimpuh
Dikaki cakrawala
Ditiang – tiang aksara membaca
Talu bertalu diangkasa
Ach………
Ternyata sudah senja
Perjalanan tiada renta
Menafsir ilmu manusia
Dari memandang yang berguna”

Tuan petuah pun berujar
          “ Pada tiap – tiap pengalaman, hendak dapat memetik pelajaran, tiada ilmu yang paling berguna, selain pengalaman yang ada.
          Belajar tidak harus selamanya apa yang kita baca, ada kalanya belajar dari apa yang kita lihat, tak jarang belajar dari apa yang kita ingat ( pengalaman )

Kembali si penulis bertanya dari apa yang ia baca
“ He laughed on the wrong side of his mouth “
            ( ia tertawa pada sudut mulut yang salah )

Tuan petuah pun berkata
“ Tertawa dalam suka lumrah adanya
Tertawa dalam duka sungguh tersiksa
Tertawa dalam terpaksa tiada beroleh bahagia
Tersenyumlah seumpama senyum itu dapat membuat kebahagian
Walau senyum yang keluar menyakitkan
Seumpama tertawa karena terpaksa
Berturut ikhlas namun tak rela

Tuan pujangga pun berujar,
          “ hidup penuh tanda tanya
          Tertawa pun terkadang ada suka dan dukanya
                             Seandainya tertawa di batin yang merana
                             Sungguhlah hati yang tersiksa
          Sepandai – pandai ia melapisi dengan tawa
          Tak jarang matalah yang berbicara
                             Tanda di sudut hati yang sepi
                             Bahwasanya ia menangisi diri sendiri

Sang penyair pun ikut berkata
“ kerlingnya meratap
Tertawanya menyurat
            Dipalung tanpa urat
            Ditawa tinggal sekerat
Rupa kaku menyurat
Pikiran beku sarat
            Tawa dilolongan rembulan
            Menatap selah berbilang
            Tersenyum usang
            Dan coba tertawa yang dipaksakan”

          Sipenulis terdiam sesaat seolah – olah menyimak semua perkataan, ia pun menutupkan halaman demi halaman sampai buku itu ia dekap dalam dada, mereka tiada bergeming, ataupun berbaling. Sementara abang yang tak jauh dari mereka, masih memperhatikan sambil mencerna semua perkataan yang ada.

Sipenulis pun berkata kepada tuan petuah
“ kepadamu tuan petuah
Aku berolh ilmu dengan apa yang tuan kata
Kembali kita bersua
Kembali aku mendengar madah seribu rupa
Aku yang masih meraba
Dengan tongkat pada tiang – tiang aksara
Aku yang masih meraba
Dengan tongkat pada tiang – tiang aksara
Aku yang masih merangkak
          Tertatih – tatih ilmuku tiada tegak
          Berpetuah tuan seumpama
Bermadah tuan berlapis laksana
Berkidung tuan diuntaian laksmana
Bernasehat tuan dengan seksama
Terkadang aku terlupa
Teringat masa yang ada
Menganggap tuan kata usang belaka
Yang dianggap barang pusaka
Yang tak perlu dibaca
Padahal disetiap lekuk hidup di alam nyata
Telah tuan gariskan dengan kata dan peribahasa
Kecil tapak tangan nyiru ditadahkan
Di akhir kata
Salam hormatku sepenuhnya raga “








Tuan petuah tertegun mendengar untaian penulis dan ia pun berkata,

“ Terkadang kata yang lama
Dianggap usang dan tiada mengena
Tiada banyak yang mengingat
Tiada sedikit pula yang menyurat
Tak jarang yang muda
Tiada tau berpijak dimana
Ketika ditanya tentang madah bahasa
Yang bergayut ditiang – tiang aksara
Ingatlah akan budi luhur negeri
Yang menjunjung tinggi adat dan budi pekerti
Melapisi dengan umpama
Menaburi dengan laksana
Menyemai dengan selaksa
Pada akar – akar bahasa
Menancapkan tiang – tiang aksara
Untuk dikenang sepanjang masa
Menjadi pedoman kehidupan manusia
Untuk melihat negeri yang bebudaya
Lihatlah dari ilmu dan santun budi bahasanya
Sebagaimana aku jua manusia
Tiada gading yang tak retak
          Tiada beroleh sempurna
          Terkadang tersilap madah dan kata
          Hendaklah menyiratnya dengan seksama”






Kepada tuan pujangga pun penulis berkata

“ kepadamu tuan pujangga
Aku beroleh tau dari madah yang tuan pantunkan
Aku beroleh tau
Dari fatwa yang tuan lapis dalam gurindam
Jika hidup boleh membeli mimpi
Maka kan ku beli mimpi yang berlapiskan untaian
Bergurindam memberi nasehat
Taulah kami ilmu yang makrifat
Dalam pantun yang tuan kerat
Dengan khidmat kami menyurat
          Tiada mutiara yang paling berharga
          Dibanding fatwa dan madah pujangga
Seteru resah bersusun pantun
Disitulah letak ilmu yang tuan tuntun
          Anak resun hendak berlayar
          Kakinya terendam di benua
          Dari pantun kami belajar
          Dari gurindam kami mencerna
Diakhir kata
Salam hormat ku diuntai rasa”






Mendengar perkataan penulis, tuan pujangga terharu ia pun berkata,

                             “ dari gurindam dua kerat
                              Selami iman yang bermakrifat
                   Dari pantun empat kerat
                   Pahami ilmu yang tersirat
                              Berjajar dimadah semu
                              Berpada diwadah kecil
                              Belajar beroleh ilmu
                              Berusaha beroleh hasil
                   Berpada diwadah kecil
                   Bermuara digalah raga
                   Berusaha beroleh hasil
                   Berdoa beroleh sorga
                               Bermuara di galah raga
                               Tempahlah dikaca atau suasa
                               Berdoa beroleh sorga
                               Mintalah pada Yang Maha Kuasa
                   Tempahlah dikaca atau suasa
                   Agar ragu tak hinggapi disana
                   Mintalah pada Yang Maha Kuasa
                   Dimana ilmu letak berguna “


Dan kepada sang penyair tak lupa si penulis berkata,
“Kepadamu sang penyair
Dari bilik kata terukir
Terdapat suatu rahasia sair
Tuan lapis dalam tabir
Susah sungguh pahami akhir
Sementara awal tiada kami mahir
Derap kata tuan
Ringkik pena tuan
Dengus tinta tuan
Menyelimuti sair tuan
Terbata kami membaca
Mengeja kami berkata
Beroleh maksud hati tuan
Akan sair dalam untaian
Termenung pulang
Akan tiang – tiang pada aksara
Kau pahat jalang
Terkadang lembut dan menghanyutkan
Tak jarang buas beringas dengan perikebinatangan
Itulah sair dengan apa yang tuan tuliskan
Diakhir kata padamu sang penyair
Salam hormatku tiada mencair “



Sang penyair pun tertegun dengan apa yangkdiucapkan penulis dengan mahir. Ia tersenyum simpul pada si penulis yang dapat menyerap madah petuah, fatwa pujangga, dan puisi penyair, maka sang penyair pun berkata,
“ titik dari pena
Tidak merubah tinta didalamnya
Warna pada tinta
Tidak merubah titik pada nuansa
Bentuk rupa
Ingatlah menari pena dimasanya
Luahan rasa
Ingatlah tinta yang melukiskannya
Seteguk diminum terasa
Secawan dituang percuma
Itu rupa resah kami berkata
Dari tali
Dari tiang
Sungguh kami berpuisi
Tinta kami petualang
          Dari api
          Dari air
          Pena kami tulis mimpi
          Mimpi tak kunjung akhir “



Selesai si penulis berkata, tak lama mereka saling berjabat tangan dengan erat sebagai tanda salam perpisahan tak lupa tuan petuah, tuan pujangga dan sang penyair melambaikan tangannya ke arah abang. Abang ingin membalas lambaian tangan itu namun tangannya seolah – olah sulit digerakkan. Tangannya seakan kaku, dari sorot matanyalah abang mengisyaratkan melambaikan tangannya. Mereka pun tersenyum satu persatu dari mereka seolah – olah larut dalam angin hingga menjadi satu titik cahaya. Dan titik cahaya itu dengan cepat melesat keangkasa membaur dengan kerlap kerlip bintang diuntaian sepenggal malam, kini hanya tinggal si penulis yang tak lain seorang pemuda yang sangat dikenal abang, ia masih menggunakan baju kotak – kotak berwarna hijau.
Kepada abang si penulis tersenyum dan ia berkata,
“ wahai engkau anak muda yang dulu ku kenal masih belia, suatu hidayah dan karunia dari Yang Maha Kuasa memberimu kesempatan dapat bersua dengan para penyangga sastra.

          Yang berkata pada tiang – tiang aksara
          Ingat kamu akan petuah dari madah bahasa yang ada
          Pahamimu akan fatwa yang dilabuhkan pujangga
          Dan cerna olehmu akan sair yang diuntai oleh penyair
          Ingat jua akan kamu

“ janganlah berusaha mengucapkan bilangan tiga di depan
 jika bilangan yang satu engkau tinggalkan
 janganlah berusaha memahami kata dimasa depan
jika kata dimasa lalu engkau abaikan
dari fatwa pujangga maka taulah engkau letak ilmu berguna kemana bermuara
jika pun engkau coba memahami makna yang tersirat

“ maka janganlah mendahului mempelajari ilmu yang empat
 Jika ilmu yang satu tiada tepat “
Kepada ilmu syariat yang bertarekat dan hakikat
Yang bermakrifat hendaklah lebih dulu mengenal
Sifat sang pencipta penguasa alam jagat
Agar tiada salah menafsir makna yang tersirat
Ingat jua akan sair yang diuntai berlapis puisi
Haruslah mencernanya dengan jeli
Yang melontar kata pada relung ruang hati
Bersuara tersekat dijari
Pada tiang aksara bersembunyi
Bersembunyi di rupa
Berselimut dirasa
Cernalah ilmu bahasa dalam puisi
Yang harus dipahami dengan hati
Diakhir kata padamu anak muda yang dulu ku kenal belia
Salam hangat dariku, sahabat yang terpisahkan masa

          Sipenulis pun melmbaikan tangannya kepada abang sebelum raganya seolah larut, turut dengan bayangan menyatu dengan alam dan menjadi satu titik yang bercahaya bak kerlipan bintang surga.
          Abang tak sempat membalas lambaian tangan penulis, ia tersentak dan terjaga terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara kuali yang dipukul dengan sendok mengeluarkan suara nyaring sambil berujar lantang.
Seorang murid pak Rahim berujar
          “ makan – makan, makan, dah siap masak, sarapan, sarapan!”
Abang yang terbangun dari tidurnya hanya tersenyum melihat tingkah kocak anak tersebut. Pak Rahem pun menghampiri abang dan membawa 2 gelas kopi hangat
“ ha, baru bangon, bang, nyenyak tido tadi malam agaknye?”
“ iya pak Rahem, mungkin kamu kelelahan menempuh perjalanan semalam!” jawab abang
“ ai gitu lah bang name pon jalan jaoh, cepatlah bejalan cuci muke tu, sarapan kite “
“ iya pakcik “
          Abang pun bangkit dari duduknya menuju belakang kemah untuk membersihkan wajahnya. Ia tersenyum mengenang mimpinya tadi malam. Suatu pelajaran yang sangat berguna baginya dengan bertemu tuan – tuan penyangga sastra yang merangkai kata pada tiang – tiang aksara.
          Tak lama abang pun duduk ditempat semula. Bu Ida dan beberapa siswi mempersiapkan sarapan pagi sebelum melanjutkan kembali perjalanan menuruni gunung muncung. Walau sarapan menu yang sangat sederhana apa adanya mereka makan dengan lahapnya, bercengkrama, saling canda menambah rasa keakraban diantara mereka, seolah makan dalam kumpulan keluarga besar yang ceria dan bahagia.
          Selesai sarapan dan istirahat sejenak mereka membersihkan tempat dimana mereka mendirikan tenda dan kemah semalam. Tepat 08.00 wib pagi mereka pun mulai melanjutkan perjalanan dengan menuruni lereng dan tebing gunung muncung yang licin, tidak seperti waktu mendaki mereka melewati jalan yang beraspal. Disaat menuruni lembah dan tebing mereka melewati jalan setapak yang digunakan orang yang pernah naik ke gunung muncung sebelumnya. Disini mereka harus ekstra hati – hati, jika tebing yang dilalui agak terjal dan licin mereka saling berpegangan, mereka mengikuti jalan dari mata air gunung muncung.
          Pukul 11.00 siang mereka sudah kembali di kaki gunung muncung, berjalan diatas air yang mengalir pada bebatuan yang berhamparan. Suara gemerincing air yang melewati sela – sela bebatuan bagai satu orkestra musik pada komposer alam. Kicau burung bersautan, hutan pun tersenyum berseri menandakan pemandangan alam yang masih asri dengan semangat abang dan lainnya terus menapaki jalan membiarkan kaki basah kala melintasinya diatas air.
          Tak lama kemudian sampailah mereka pada air terjun ang tidak begitu tinggi namun menawan hati. Patahan batu telah tersusun rapi menjadikan ia salah satu tempat rekreasi atau objek wisata aset berharga dari Pulau Dabosingkep. Objek wisata tersebut diberi nama “ batu ampar “. Disitu abang dan yang lainnya membersihkan diri berkejaran di dalam air bermain bersama, dengan riang gembira abang sangat bahagia melakukan perjalanan ini. Melihat keindahan alam dari dekat, menyatukan hati dan pikiran dengan alam dan masih banyak lagi pengalaman yang berharga yang dapat dipetik dari perjalanan ini.
          Kembali ia teringat pada Indah, ingin rasanya ia segera pulang untuk menceritakan semua pengalamannya kepada kekasihnya tercinta. Indah pasti senang mendengar kisah yang dibawa abang, ingin suatu saat abang mengajak Indah untuk mendaki gunung muncung dan menuruni tebingnya berjalan mengikuti aliran mata air pegunungan dan bercengkrama dibawah siraman air terjun yang romantis batu ampar. ( satu kenangan bersama sahabat di gunung muncung salam hangat selalu buat Ibrahim, Rafik, Zainal, Bakri, Dekko, Darwis, Sarni, Ani, Maya, Rabiah, Mila, Dewi, Ncek Wan, Asna, Santi, Rita dan teman – teman A2 biologi lainnya tahun ajaran 1996 SMA N 1 Dabosingkep ).

                    “ Aku Ingin Pulang”      Cipt. iwansekopdarat

          Dmy                               Amy
Dalam waktu yang berganti
                             B
Tiada yang menemani
                   E
Tetap kujalani
                           Dmy
Walau harus sendiri
                   Dmy                             Amy
                   Dalam waktu yang berganti
                                    B
                   Harus kuakui
                                          E
                   Tak bisa memiliki
                                        Dmy
                   Berharap menanti
                     G                                B
                   Terasa semua menghilang pergi
                    C                 Amy
                   Kemana ku cari ho…o…o…
Amy             Dmy
Reff   Aku ingin pulang
          Amy                              B      
          Bermain ditengah padang
           G                               Amy
          Berteman rumput ilalang
                 B                             C
          Yang luas membentang ho…o…o…
           G                   D
          Aku ingin pulang

SELESAI
BIODATA PENULIS
Lahir di Dabosingkep, Kepulauan Riau pada tanggal 26 Januari 1976, terlahir dengan nama kecil yang akrab disapa Iwan, tumbuh dan besar di kampung sekopdarat (Dabosingkep). Beragama Islam, berjenis kelamin laki – laki, dan kini menetap di Kisaran, Asahan Sumatera Utara. Berprofesi sebagai pedagang sayuran di pasar kartini, Kisaran dan juga pedagang di pasar kaget (pekan) di sekitar kota Kisaran.
Beberapa karya tulis iwansekopdarat,
  1. Novel tentang Rindu
  2. Novel tentang Rindu 2
  3. Novel Layang – Layang Zaman
  4. Buku Fatwa Cinta
  5. Buku Madah Aksara
  6. Novel Primadona di Ujung Trotoar
  7. Buku Tiang - Tiang Aksara

TIANG - TIANG AKSARA Bag.1

TIANG - TIANG AKSARA Bag.1

oleh Iwan Sekopdarat pada 19 Maret 2012 pukul 10:48 ·

SEKAPUR SIRIH

          Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT saya ucapkan atas selesainya penulisan buku ini, tanpa ridho dan petunjuk dari-Nya mustahil buku ini dapat dirampungkan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman – teman yang membantu dalam menyelesaikan buku ini. Buku yang diberi judul Tiang – Tiang Aksara adalah suatu buku yang berkisah akan rangkaian sair dari kata – kata yang tersisa. Disini saya sebagai penulis hanya mengumpulkan beberapa kata yang tersisa dari para penyangga sastra, merangkumnya dan mengemasnya dalam satu buku. Semua sair yang ditulis menurut kacamata atau sudut pandang penulis.

                                                                                      Kisaran, April 2012
                                                   Penulis

                                                                         Iwansekopdarat




“ hidup ……………….
Adalah pengenalan diri
Pengenalan akan alam dan isi
Hidup …………………
Adalah semangat untuk bertahan
Bertahan dari keikhlasan
Hidup ………………..
Adalah kenangan bagi yang mati
Kenangan yang menjadi kisah abadi
Kenangan dari masa yang pernah di isi

Hidup ……………….
Adalah perjalanan yang tak sempurna
Perjalanan usia
Perjalanan masa
Hidup ……………….
Adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa
Anugrah pada tiang – tiang aksara
Aksara kapan terakhir menutup mata
Hidup ……………….
Adalah isi perjanjian mati
Perjanjian pada zat yang maha tinggi
Perjalanan yang tak dipungkiri



TIANG AKSARA
TUAN PETUAH ( I )


Ku buka kata bismillah
Bermunajat kalamullah
Semula asalku jadi faedah
Dari segenggam tanah

Ku buka kata bismillah
Bermunajat kalamullah
Tersirat kata berselah
Bersangga pada tiang hidayah

Ku buka kata bismillah
Bermunajat kalamullah
Hatur sujud menjunjung sembah
Dari apa yang disebut anugrah





TIANG AKSARA
TUAN PETUAH ( 2 )

Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Terjepit tiada tertahan
Sakit bukan kepalang
Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Tergigit sariawan
Menjerit tak berbilang
Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Seringgit di uangkan
Selangit digelang - gelang
Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Terhimpit gigi depan
Yang dibait berkumandang
Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Semua ciptaan Tuhan
Dari madah yang didendangkan
Pit kudayan
Burung pipit kuda dan bayan
Bertauhid memuji Tuhan
Berakit do’a menjelang






TIANG AKSARA
TUAN PETUAH ( 3 )

Terdepan ku menyebut Satu
Tiada pernah hati meragu
Terkadang ku menyebut dua
Tiada sengketa diantaranya
Tak jarang ke menyebut tiga
Ialah pilihan diantaranya
              Sesekali kusebut empat
Ingatlah ilmu yang bermakrifat
Terpatri kusebut lima
Rukun dihati berikat makna
Terlarung kusebut enam
Pada iman bersemat gurindam
Sepantun menyebut tujuh
Menjulang tiada merapuh
Bertalibuh menyebut delapan
Ingatkan aku akan untaian
Di ujung kusebut sembilan
Selimut menjunjung ilmu amalan




Petuah Lama
                          Cipt. iwansekopdarat

C                        G   
Sejajar sirih tuan
                                      C
Tepak jua yang dihidangkan
C                           G
Pandai diri berangan
         F            G             C
Tersesatlah dikeremangan
               G                             C
Seberat papan terapung ia
           D                      C
Dalam air kan hanyut jua
       G                           C
Sekerat iman terguncang didada
               F              G         C
Dalam hasutan yang menerpa
                          &nbp;       F                   C      
Reff                   o…..o….. rampailah berlatih
                                        D                  C
                          Jika pandai meniti buih
                                           F                 C
                                      o…o…. bersemat selendang
                                              F                 G            C
                                      selamatlah badan kesebrang              






TIANG AKSARA
TUAN PUJANGGA ( 1 )


                   Rentak gemulai menari zapin
                   Bertepuk loncat ikut irama
                   Madah dan syair terpatri yakin
                   Akan petuah semat umpama
                                      Cindai disulam beranyam ganda
                                      Limar bersangga pada laksmana
                                      Cinta menjulang bertanam rasa
                                      Akor pujangga rupa laksana
                   Ku reguk jua payau terasa
                   Gurindam bentuk landasan hati
                   Seelok rupa engkau dipuja
                   Bertanam adat berdahan budi
                                      Seiring pantun puisi lama
                                      Kias berkata para pujangga
                                      Kami haturkan madah laksmana
                                      Ikhlas dijiwa hidup di dunia






TIANG AKSARA
TUAN PUJANGGA ( 2 )


                   Cahaya hati………
                   Engkaulah penerang makna penyejuk jiwa
                   Dari titik noda hitam kau hapus dosa
                   Kau sirami dengan sabda
                   Berbalut cinta
                   Pada gagang kata
                   Dari tiang – tiang aksara
                   Cahaya hati ………
                   Penuntun doa menuju alam nirwana
                   Seserpih debu mengusap luka di dada
                   Membasuhnya dengan tobat nasuha
                   Untaian kata
                   Merangkai laksana
                   Dari tiang – tiang aksara






TIANG AKSARA
TUAN PUJANGGA ( 3 )


Tangan direndam berkeringat
Putri turun dari angkasa
Ia kan berembun diujung semat
Tiada sekata yang dirasa
Dengan Gurindam bernasehat
Dari Pantun berbudi bahasa
Akan Talibun menjunjung adat
Pada Seloka budaya bangsa







Serampang 12       
Cipt. iwansekopdarat
C
Alangkah indahnya
                                        G
Lenggak lenggok menggoda

Bunga yang kembang
                                  C
Melenggang tari serampang
  C
Serampang dua belas
                          G
Tari dayang penghias
                                                      C
Walau kau puas bukan tari yang panas
    &nbs;                     F          C             G             C
Reff                Tari melayu milik pujangga lalu
                          F          C               G           C
                        Tari melayu hanyalah saksi bisu
                                     C 
                                    Bertabur bintang
                                                                 G
                                    Bulan senyum memandang

                                    Indahnya malam
                                                                                C
                                    Melenggang tari serampang
                     C         
                        Redup rembulan
                                            G
                        Elok nian menawan

                        Kembang setaman
                                                            C
                        Membuat hati tertawan
                        F           C            G       C
Reff                Dahulu parang sekarang besi
                          F          C           G         C
                        Dahulu sayang sekarang benci
( Lagu Serampang 12 dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat)





TIANG AKSARA
SANG PENYAIR ( 1 )


                   Usap tangan garis senja
                   Kau mulai menua
                   Tumit tertahan terbias renta
                   Langkahmu terbata
                   Raga boleh hancur
                   Kasihmu tiada luntur
                   Nyawa terlepas badan
                   Sayangmu tiada berbilang
                                      Bagai ainun jariah
                                      Bermuara di mata
                                      Laksana nur hidayah
                                      Berhulu di rasa
                   Ku tiada kata
                   Hanya terbalut di tiang aksara
                   Untuk merangkai doa
                   Padamu ibu tercinta





TIANG AKSARA
SANG PENYAIR ( 2 )

                             Melenguh tertahan
                             Mencuat tersekat
                             Akan kisah pada soalan
                             Bukan dari suatu siasat
                                                Terpilih diantara
                                                Mencari hak yang pantas
                                                Aku diatas bara
                                                Dikaki tanpa alas
                             Gaung gema pantulkan wajah
                                                Hati tak beriman
                                                Niat tanpa mufakat
                                                Berkaca diseruas nampan
                                                Budi berbias setakat
                             Tertawa engkau pongah
                             Tersenyum engkau sumringah
                                                Sadarkah engkau
                                                Amanah jadi haluan
                                                Bukan jadi pengikut setan
                             Tiang aksara dipilin melengkung
                             Bagai berkaca di cermin cekung



TIANG AKSARA
SANG PENYAIR ( 3 )

                             Terpasung
                             Dalam lingkaran
                             Tak urung
                             Mana lawan mana kawan
                                                Pagar makan tanaman
                                                          Menggunting dalam lipatan
                                                                   Menikam dari belakang
                                                Lempar batu sembunyi tangan

                             Terpasung
                             Dalam akhiran
                             Tak jarang
                             Tertikam termakan
                                                Haram jadi halal
                                                Yang halal dipersoal
                                                          Zakat diperdebat
                                                          Yang diperdebat perut rakyat

                             Jika ingin selamat
                             Jangan campuri lingkaran siasat
                             Salah melangkah dikau sesat
                             Sesat memahami amanat
                             Terkurung      
                                  Cipt. iwansekopdarat
Dmy
Terkurung aku

Terkekang dalam sangkar emas
 Dmy
Tak bebas aku
                                          B                    Dmy
Bermain di alam yang luas,……….bersama……
                        D
                  Terhempas semua

                  Cerita cinta yang indah

                  Tertinggal hanya
                                                        B               Amy
                  Kenangan manis asmara,………bersama………
                  D                     A
Reff          Kini hanya terkurung
                                         B
                  Kini hanya terkekang
                                                        G                          D
                  Terhempas tak bebas hanya tinggal kenangan
                  D                      A
                  Ku hanyalah merpati
                                             B
                  Di sangkar emas ini
                                               A            G           D
                  Tanpa bisa terbang jauh melayang tinggi
                 D                        A
                  Terkurungku sendiri
                                               B
                  Tiada yang menemani
                                                          G                                D
                  Ku harap engkau mengerti coba untuk menanti
                   C                     A
                  Ku coba menyelami
                                                 B
                  Merpati tak ingkar janji
                                                 A                  G           D
                  Tetap setia di hati, aku pasti kembali
( Lagu Terkurung dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat)
       Sambil bersiul abang berdiri di depan kaca dengan jari tangan ia merapikan rambutnya, begitu simple tanpa harus menggunakan sisir, menyemprotkan beberapa kali parfum ke bajunya. “ cuit, cuit yang mau malam mingguan”, goda adek yang melihat abangnya berdiri gagah di depan kaca. Sejenak abang menoleh ke ara suara yang barusan menggodanya. Sambil tersenyum kecil abang berkata,
“ ngapain dek?”
“ nggak ngapa-ngapain, hanya ingin lihat abangku tersayang bergaya di depan kaca”
       Abang tidak menimpali perkataan adiknya ia hanya mengusap kepala adiknya
“ wah, nggak rugilah ya kak Indah dapat abangku yang ganteng ini”
“ hmm, kayaknya ini ada udang dibalik bakwan”, ujar abang
“ kok tau bang!”, celutuk adek
“ yaiyalah, kalau sudah kayak gini pasti ada maunya”
“ he..he..he.. nanti pulangnya  bawakan adek martabak ya bang!”
“ iya tuan putri, adakah lagi yang tuan putri pesan?”, kini abang yang balik bercanda   sama adek
“ pokoknya jangan lupa, martabak”
“ oke bos”, jawab abang mantap
          Adek pun beranjak dari duduknya, ia menuju ruang depan dimana ayah ibunya duduk. 5 menit kemudian abang pun keluar dengan mengendarai sepeda motor di jalan raya. Tepat di rumah yang bercat hijau muda, abang memarkirkan sepeda motornya. Di teras rumah Indah telah duduk sambil membolak balikkan majalahnya.
“ assalamu’alaikum”, sapa abang
“ wa’alaikumsalam”, jawab Indah dengan nada ketus, pandangan matanya tetap tertuju pada majalah yang ia baca tanpa melihat dengan siapa lawan bicaranya
“ boleh duduk”, sela abang coba menenangkan suasana hanya sekilas Indah memandang wajah abang, kembali ia membaca majalahnya.
“ ada apa ndah? Apa kau marah sama aku?”, selidik abang
“ tanya saja diri sendiri!”, hanya itu yang keluar dari bibir mungil milik Indah
“ apa aku datangnya terlambat, atau ach… katakanlah ndah, biar aku tak penasaran”
“ apa betul minggu depan abang berangkat ke Dabo?”, ujar Indah sambil menutup majalahnya, ia lemparkan pandangannya ke jalan raya
“ tadi siang sebelum pulang kuliah Bendri bercerita, katanya minggu depan abang berencana berangkat ke Dabo, mengapa aku nggak diberi tau?”, kembali Indah menambahkan perkataannya
          Abang hanya tersenyum sambil memandangi wajah kekasihnya yang lagi cemberut
“ kau tambah cantik ndah kalau lagi marah”
“ nggak lucu”, ketus Indah
“ owalah ndah, ndah, jangan kau cepat marah,lekas tua. Opung bilang hidup ini harus banyak tertawa biar awet muda”
“ tertawa saja sendiri, biar disangka orang gila”
“ oke…oke… maaf aku yang salah nggak ngasi tau kau duluan kalau minggu depan aku ke Dabo, maksudku malam ini mau kuberi tau, e… nggak taunya kamu sudah tau dari Bendri”
          Abang melihat ekspresi wajah Indah namun Indah tetap memandang lurus ke jalan raya
“ awas ndah, di kakimu ada apa itu”, ujar abang tiba – tiba
“ mana!”, Indah tersentak tak tertahan dan memandang ke bawah melihat kalau ada ada kecoa atau makhluk kecil lain, abang tertawa tertahan
“ abang !” , hanya itu yang diucapkan ketika Indah sadar ia dipermainkan abang
“ sudah ah marahnya, senyumlah ya, kan pangerannya sudah di depan mata!”, sela abang menggoda
          Indah yang tadinya cemberut, kini mulai tersenyum ia memang tak bisa berlama– lama sewot dengan abang karena ketika ia lagi dongkol abang slalu mengoda dengan candaannya, itu yang membuat Indah tidak bisa berlama – lama marah kepada kekasihnya.
          Dari dalam rumah keluar ayah dan ibu Indah dengan berpakaian rapi.
“ ndah, kamu jaga rumahnya, papa sama mama mau pergi sebentar, undangan”, ujar ayahnya kepada Indah
“ iya pa “
“ ndah, koq abang nggak dibuatin minum?”, sela ibu Indah
“ ntar lagi ma”, jawab Indah
“ ayok bang, bapak sama ibu pergi dulu”
“ iya pak, bu”, jawab abang dengan sopan
          Ayah dan ibu Indah pun berjalan menuju garasi di samping rumah mereka, tak lama sebuah kijang inova silver keluar dari garasi meluncur perlahan menuju jalan raya
“ koq diam lagi ndah?”, tanya abang
“ jadi aku harus kayak mana, nangis, tertawa”
“ ya, cerita kek ndah”
“ cerita apa, abanglah yang cerita, kan jadi berangkat ke Dabo?”
“ o…. sebenarnya berangkat ke Dabo itu nggak aku rencanakan, bapak aku semalam yang bilang, liburan semester minggu depan nyuruh aku ke Dabo ngantar obat buat nenek, karena di Dabo obatnya nggak ada katanya”, abang coba menjelaskan kepada Indah
          Indah hanya memandang kedua bola mata kekasihnya, disana ia dapati tidak ada dusta dari perkataan kekasihnya
“ bentar ya bang, aku buatkan minum dulu”
“ sekalian sama kuenya, ni malam nggak kemana – mana, selamat kantong, alhamdulillah”
          Indah hanya mencibir manja mendengar candaan abang sambil tersenyum Indah pun masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Indah keluar dengan membawa segelas kopi dan sedikit makanan. Kembali ia duduk ditempat semula. Indah menyuguhkan minuman kepada abang, disela – sela obrolan ringan mereka bercerita apa saja sekedar mengisi kekosongan suasana seperti layaknya pasangan muda mudi yang merajud tali kasih sebagai kekasih abang tau batasan – batasannya dengan tidak meniru gaya pacaran muda – mudi yang biasanya ke arah ke barat-baratan. Itu yang membuat Indah makin bertambah cinta kepada abang, hari – harinya lebih bahagia oleh candaan kekasihnya.
          Tak lama setibanya orang tua Indah di rumah, abang pun pamit pulang, satu usapan lembut di rambut Indah sudah cukup bagi Indah untuk memahami bahwa abang sangat menyayanginya.
          Indah dan adek hanya mengantar abang sampai di loket saja, dari penjaga loket alat transportasi darat yang biasa disebut loket bus. Mereka tau bahwa bus yang berangkat jurusan Medan – Dumai pukul 18.00 wib, menurut perkiraan tiba di Kisaran ± 3 jam setengah berarti pukul 21.30 abang sudah harus berada di loket. Abang memesan satu tiket di bus makmur. Abang, adek, Indah tiba di loket pukul 20.30. mereka duduk di warung tak jauh dari loket bus makmur memesan 3 buah the botol sosro dan nasi goreng sambil menunggu bus dari jurusan Medan – Dumai yang membawa abang ke Dumai. Menurut cerita ayah abang dari Kisaran menuju Dabosingkep banyak jalannya bisa dari Kisaran langsung ke Medan yang memakan waktu dengan menggunakan kendaraan umum ± 3 jam setengah perjalanan. Di Medan kita bisa naik pesawat atau kapal laut ( pelni ) menuju Tanjung Pinang, baik menggunakan pesawat ataupun kapal laut tetap harus singgah atau transit di Tanjung Pinang karena akses yang langsung dari Medan ke Dabo belum ada. Setibanya di Tanjung Pinang kita harus menyambung lagi menggunakan kapal feri untuk sampai di Dabosingkep. Kapal Feri yang berangkat dari Tanjung Pinang ke Dabosingkep hanya pukul 12.00 s/d 13.00 wib. Jika kita tiba di Tanjung Pinang menunggu esok siang kapal feri yang membawa kita ke Dabosingkep, bisa juga dari Kisaran kita langsung menuju Jambi dengan menggunakan bus Rapi ( raja inti api ) biayanya pun lebih murah dari kita harus berangkat lewat Medan. Jarak tempuh dengan menggunakan bus Rapi lebih jauh ± 18 jam perjalanan untuk tiba di Jambi.  Di Jambi kita harus menyambung lagi dengan menggunakan kapal laut ( kapal kayu ) untuk tiba di Dabosingkep.
          Bisa juga dari Kisaran menuju Dumai dengan menggunakan bus – bus umum, baik itu ALS, Makmur, Intra, Pelangi, dll. Dari Dumai kita harus menyambung lagi dengan menggunakan kapal laut ( kapal feri ) untuk sampai di Tanjung Pinang menginap satu malam di Tanjung Pinang. Keesokan siangnya barulah kita bisa berangkat menuju Dabosingkep dengan menggunakan kapal feri, hanya 2 kapal feri yang berangkat ke Dabosingkep pukul 12.00 s/d 13.00 wib.
          Abang berangkat ke Dabosingkep kali ini lewat Dumai, tidak seperti tahun lalu abang berangkat lewat Medan, pulangnya pun abang menuju Kisaran dari Tanjung Pinang menggunakan kapal laut ( pelni ) yang berlabuh di Medan. Sewaktu pulang itulah ia berkenalan dengan Indah ( untuk lebih jelasnya Anda bisa membaca buku “ madah aksara “ karya iwansekopdarat ).
          Abang hanya ingin menambah pengalamannya saja dengan melihat – lihat perkampungan disisi – sisi jalan menuju Dumai ( Riau ). Ibunya Indah berasal dari Tanjung Pinang, sementara ayahnya asli putra Kisaran. indah lahir di Kisaran, tahun lalu Indah liburan ke rumah paman ( neneknya yang menetap di Tanjung Pinang. Siapa sangka pemuda yang dikenalnya di atas kapal sewaktu kembali ke Kisaran kini menjadi kekasih hatinya.
          Tampak mendung di wajah Indah, ia tidak menghabiskan makanan yang dipesan abang, padahal hanya 10 hari abang pergi tapi rasanya begitu sulit jauh berpisah dengan abang.
“ koq murung gitu ndah, semangat!, aku pergi hanya sebentar ± 10 hari”
“ siapa yang murung, wek”, Indah oba menyembunyikannya dari abang, dengan ejekan manjanya
“ mata kau tidak dapat ditipu ndah”, ujar abang
“ ehm…ehm… yang lagi pacaran, kayak dunia milik mereka saja, yang laen numpang”, celutuk adek
“ adek gem, gayanya itu!”, sela abang sambil mengucek – ucek rambut adiknya
          Indah tersenyum melihat keakraban mereka sesama saudara, tak lama mobil jurusan Medan – Dumai yang mereka nantkan pun tiba di loket, abang pun bersiap – siap akan naik. Ia menyalami adek dan Indah.
“ nanti begitu nyampek di Dabo, aku telepon!”
“ hati – hati, jangan sering begadang”, nasehat Indah
“ ingat pulang bang, kasian kak Indah, ha…ha…ha…”, canda adek
“ kau ya dek tak sudah – sudah ngerjai kak Indah kau tu”, celutuk abang
          Indah coba tersenyum di palung matanya yang berkaca – kaca
“ aku pergi dulu ndah”, abang memegang pundak Inda seolah – olah memberikan semangat. Indah hanya mengangguk pelan.
“ jangan lupa pesan bapak bang, kretek, lempok, tempoyak”, ujar adek kembali mengingatkan
“ bah yang banyaklah tu jang posan bapak”, timpal abang
          Setelah kernet bssiap memberesi bagasi, memasukkan tas – tas penumpang laen ke dalamnya abang pun masuk ke dalam bus tersebut. Abang duduk di pinggir, dari kaca jendela abang membalas lambaian tangan Indah dan adek bus makmur pun berlalu dari hadapan Indah dan adek, tak lupa mereka berdoa smoga selamat diperjalanan dan sehat sampai tujuan.
          Indah termenung di kamarnya sepulang mengantar kekasihnya. Tidak terasa air mata jatuh dari sudut matanya. Ia tak tau mengapa ia begitu merindukan abang, padahal barusan ia bertemu liburan semester ini Indah banyak disibukkan dengan acara kampus membuatnya harus tiap hari ke kampus biasanya kalau nggak ke rumah, mereka pun sering bertemu di kampus, setidaknya dapat mengobati kerinduan Indah namun kini 10 hari mereka berpisah.
“ apakah aku sanggup?”, batin Indah. Indah merebahkan dirinya di pembaringannya, membiarkan air mata rindu itu mengalir dipipinya.
“ yang mengantar tadi pacarnya ya mas?”, tanya seorang wanita yang duduk di sebelah abang.
“ yang mana satu?”, abang ditanya malah balik tanya
“ kayaknya yang pake sweater merah muda”, ujar wanita itu kembali
“ bah, kok tau pasti bapaknya tukang ramal”, sela abang dengan sedikit canda
“ ya taulah mas, habis yang pake jaket hitam mirip sekali dengan mas, mungkin adek mas”
“ o….tapi jangan panggil mas lah kak, panggil abang saja, bukan aku merasa tua minta dipanggil abang, memang namaku abang, nenek pun di kampung memanggil aku abang”
          Wanita itu tersenyum geli mendengar jawaban abang yang kocak sambil berkata,
“ panggil saja aku Tasya, jangan panggil kakak”
          Abang pun mengangguk
“ mau kemana sya?”
“ Batam, abang kemana?”, ujar Tasya
“ mau ke Dabo, tapi berenti di Tanjung Pinang”
“ nggak ada yang langsung ke Dabo?”, tukas Tasya
“ nggak ada”, jawab abang
“ kerja di Batam sya?”
Iya, aku kerja di Batam, di kawasan dormitori muka kuning, pernah ke Batam?”
“ belum sya, asli orang Medan ya sya?”
“ iya, jabat alias jawa batak, he..he..he..”, jawab Tasya dengan nada bercanda
          Disepanjang perjalanan malam mereka terlibat obrolan ringan,dari gaya bicara abang Tasya dapat menilai bahwa abang seorang pemuda yang baik, periang, ramah, dan suka humor walau baru pertama kenal Tasya merasa enak bercerita dengan abang.
          ± pukul 02.00 dini hari bus makmur yang membawa abang dan penumpang lainnya berhenti sejenak, bus tersebut berhenti di Batam. Para penumpang turun termasuk abang da Tasya, mereka memesan kopi susu hangat di rumah makan tersebut. Abang da Tasya duduk di meja yang sama, mereka saling berhadapan, Tasya melempar satu senyum ke arah abang sementara abang membalasnya dengan satu senyum ringan dan santai.
“ diminum sya, jangan senyam senyum gitu, emang ada yang lucu kau lihat?”
          Seketika wajah Tasya memerah di tanya sebegitu rupa, cepat – cepat ia menyembunyikan kegugupannya.
“ abang yang lucu”
          Seperempat jam kemudian bus makmur kembali melanjutkan perjalanan. Tasya tak kuasa melawan rasa kantuknya, ia tertidur diperjalanan, begitu juga dengan abang. Abang coba memejamkan matanya sekedar beristirahat. Baru saja abang tertidur ia tersentak, terjaga ketika kepala Tasya bersandar dilengan bahunya dengan perlahan abang coba menggeserkan kepala Tasya pada posisi semula namun Tasya kembali bersandar disamping lengan bahu abang, abang tak sampai hati membangunkan Tasya yang tertidur pulas, dibiarkannya Tasya tertidur bersandar dibahunya, kembali abang coba memejamkan matanya, diiringi alunan musik dari bus makmur yang memutar lagu – lagu romantis, abang pun tertidur dibuat suara emas Kristin Panjaitan.
          Bus makmur melaju di gelap malam menelusuri lorong jalan terkadang mendaki dan menurun berbelok dengan hati – hati para penumpang pun terbuai pada mimpi mereka masing – masing.
“ Dumai, Dumai, nga sahat di Dumai hita”
          Suara lantang kernet bus dengan logat bataknya yang jelas membangunkan beberapa penumpang bus. Tasya pun tersentak dari tidurnya, ia melirik ke arah abang yang masih tertidur di kursnya. Tasya jadi malu sendiri mengingat ia tertidur di lengan bahu abang, namun terselip sedikit rasa bahagianya yang sulit dilukiskan.
“ bang, bang, kita sudah sampai Dumai”
“ eh..eh.. dah dimana?” tanya abang yang terjaga ketika perlahan Tasya membangunkannya dengan mengguncangkan sedikit bahunya.
“ di Dumai”, jawab Tasya sambil menyerahkan selembar tisu, abang pun mengambil tisu tersebut dan menyapukan ke wajahnya, mata abang masih memerah menandakan ia baru tertidur.
“ berarti ia tau bahwa aku tertidur dibahunya”, ujar Tasya dalam hati

“ maaf bang, tadi aku tertidur di bahumu”
“ nggak apa – apa”, jawab abang tersenyum
          Bus makmur berhenti di terminal Dumai, para penumpang pun turun dan melanjutkan perjalanan mereka masing – masing. Satu mini bus menghampiri bus makmur. Para penumpang yang ingin ke pelabuhan segera naik ke mini bus tersebut yang disediakan memang oleh pihak CV Makmur, sebagai servise mereka terhadap penumpangnya, abang dan Tasya naik dan masuk ke dalam mini bus tersebut, bersama penumpang lainnya. Tak lama mini bus melaju dikeheningan subuh menuju jantung kota Dumai, dari dalam mini bus abang mendengar suara adzan subuh, Tasya melirik arlojinya.
          Mobil berhenti di depan loket bus makmur yang berada di Dumai, abang, Tasya dan beberapa penumpang lain turun sekedar merapikan dan membersihkan diri di loket tersebut yang menyediakan fasilitas kamar mandi da ruangan untuk sholat.
          Selesai membersihkan diri abang pun menyempatkan untuk sholat, Tasya sudah menunggu dengan dua buah indomie yang sudah diseduh mereka sarapan seadanya. Masih di loket yang sama mereka membeli tiket kapal, ternyata abang dan Tasya berangkat dengan kapal yang sama yaitu kapal feri.
“ Dumai ekspress”, dengan rute perjalanan Dumai – Tanjung balai karimun – Batam – Tanjung Pinang, tepat pukul 06.00 wib pagi mini bus yang tadi menjemput mereka di terminal, kembali mengantar sampai di pelabuhan pukul 07.30 wib, kapal feri Dumai ekspress yang bersandar di dermaga mulai bertolak haluan mengarungi lautan lepas. Abang dan Tasya duduk di deret bangku yang sama dengan asyik merasa terlibat di obrolan ringan pagi yang cerah, sedikit Tasya bercerita mengenai kenangan pahitnya kepada abang.
          Abang merasa iba mendengar cerita Tasya yang mengatakan bahwa sebenarnya ia seorang ibu, anak yang dilahirkannya 3 tahun silam, dititipkan kepada keluarganya di Medan. Pihak keluarga sempat marah besar atas perbuatannya yang membuat malu nama keluarga, namun apa mau dikata nasi telah menjadi bubur, kekasih Tasya tidak mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Tasya sangat terpukul oleh kejadian itu barulah ia sadari semua perkataan kedua orang tuanya benar adanya untuk berhati – hati dalam bergaul dan memilih teman. Tasya terlupa ia terlelap oleh kehidupan glamor Pulau Batam, ia salah menafsir arti cinta, ia salah melangkah. Kini hasil dari perbuatannya baru ia rasakan dengan penyesalan yang panjang sekalipun perbuatan anak sudah melampaui batas tiada seorang pun ibu yang tega membiarkan putrinya menanggung deritanya seoranng diri. Ibu Tasya pun berangkat ke Batam menemani Tasya dalam persalinannya. Setahun setelah Tasya melahirkan seorang anak perempuan, ibunya membawa bayi tersebut ke Medan sementara Tasya kembali bekerja, ia tak ingin menambah beban keluarga, membiarkan nenek dan kakeknya membiayai keperluan putri kecilnya itu dan baru saat ini dari pihak perusahaan tempat ia bekerja Tasya mendapat cuti 1 bulan. Cuti tersebut digunakan Tasya untuk pulang ke Medan melepas rindu kepada buah hatinya. Waktu sebulan bagi Tasya sangat singkat bermain dengan buah hatinya. Setelah masa cuti habis Tasya kembali berangkat ke Batam dan bekerja di perusahaan dimana tempat ia bekerja. Tak lupa kedua orang tuanya slalu menasehatinya untuk slalu menjaga diri dan berhati – hati dalam bergaul. Sebelum ia kembali di Pulau Batam. Di mata kedua orang tuanya dan saudaranya Tasya telah banyak berubah lebih bersikap dewasa dan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
          Abang mendengar kisah Tasya dengan seksama, abang pun melihat foto mungil gadis kecil dari telepon genggam milik Tasya yang dilihatkan Tasya padanya, gadis kecil itu adalah anak Tasya. Taulah abang bahwa kepulangan Tasya ke Medan untuk melepas rindu kepada buah hati putri kecil tersebut.
          Tasya juga bercerita bahwa ayah dari anaknya sebenarnya pemuda yang baik, namun ia salah dalam melangkah, salah dalam bergaul, hingga terjerumus dalam lingkaran setan, mabuk, berjudi dan pengguna obat – obatan terlarang, ini diketahui Tasya setelah setengah tahun mereka pacaran. Tasya sangat kecewa dengan perubahan sikap kekasihnya, yang dulu waktu pertama mereka bertemu tidak seperti sekarang ini, Tasya pun tak berharap banyak ketika kekasihnya menolak untuk bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Tasya berpikiran dengan keadaan kekasihnya saat ini, tidak menutup kemungkinan dapat mengganggu ketenangan jiwanya, dan juga anaknya ketika lahir kelak melihat ayahnya seorang pengguna obat – obatan terlarang dan minum – minuman keras, biarlah nanti suatu saat bila tiba masanya ia akan menerangkan semuanya pada putrinya, yang terpenting saat ini biarlah putrinya tumbuh dan besar ditengah – tengah keluarganya tercinta dalam naungan pemahaman ajaran agama yang kuat.

Kepada abang Tasya juga mengingatkan untuk selalu berhati – hati dalam bergaul, agar tidak tergelincir kejalan yang menyesatkan, tidak terpengaruh pada lingkungan yang tidak sehat, selalu ingat dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa  “ karena godaan dan amalan hanya terpaut tipis untuk kita mengambil sikap”.
Abang pun selalu ingat akan pesan itu, Abang kagum dengan ketegaran Tasya dalam menyikapi hidup walaupun usia mereka terpaut tidak begitu jauh, palingan lebh tua Tasya 3 atau 4 tahun, namun soal hidup Tasya lebih banyak mengenyam asam garam dan liku hidup ini, akan kenangan pahitnya membuat Tasya tegar, dan lebih banyak berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Setelah mendengar Tasya becerita, abang naik kedek atas disusul Tasya, dari belakang sekedar melihat lautan lepas melempar pandangan disamudra yang membentang tidak hanya abang dan Tasya saja, beberapa penumpang lainnya ikut jua menyaksikan panorama indah tersebut pada pagi menjelang siang, mereka duduk dikursi santai sisi kanan kapal,
Disebelah abang duduk seorang pemuda yang sedang memeluk gitar, kepada pemuda yang sebaya dengannya abang berkata
“ bang bisa pinjam gitarnya sebentar “
“ ini bang, tapi ma’af belum distel, aku kurang paham menyetelnya “ tukas pemuda itu sambil menyerahkan gitar kepada abang.
“ turun dimana bang“? tanya abang
“ di Tanjung Balai Karimun, oh ya panggil saja aku Damar “
Pemuda yang menyebut dirinya Damar menyodorkan tangannya, abang pun menjabatnya disusul Tasya disebelahnya, tak lupa abang dan Tasya pun menyebutkan nama masing – masing, kepada abang dan Tasya, Damar bercerita bahwa ia seorang mahasiswa di Universitas Sumatera fakultas hukum. Liburan semester ini ia diminta abangnya yang bekerj diTanjung Balai Karimun untuk liburan dan tak lupa membawakan gitar kesayangan abangnya itu.
          Abang pun mulai menyetem gitar, setelah selesai abang mulai memetik dawai gitar dan melantunkan satu lagu. Satu lagu yang dilantunkan abang setelah mendengar kisah pahit yang diceritakan Tasya akan perjalanan hidupnya kepada abang. Tak terasa sebulir air mata tergenang di sudut mata Tasya mendengar lagu tersebut. Tasya dan Damar tertarik dengan permainan gitar dan suara abang yang mengalun syahdu disaat kapal memecah buih di lautan lepas.

                   “ Kasih Kandas di Jalan”
                                                          Cipt. iwansekopdarat
Bergetar rasa rindu di dada
Menganak sungai meluap tidak terasa
Haluan cinta berlayar entah kemana
Kasihmu menerpa hatiku karam disana
          Berkeping hancur tidak terkira
          Menuju samudera ditelan badai tenggara
          Apalah daya jangkarpun aku tak punya
          Dibawa gelombang cintaku hanyut kemana
                   Kau dustai kasihku kelabui
                   Ku bermimpi di tepi riak yang berbuih
Reff :
Mungkinkah sudah suratan
Kasihku kandas di jalan
Kutanya pada sang malam
Nasibku yang sungguh malam
          Hanya terkenang
          Wajahmu duhai pujaan
Haruskah aku menyepi
Membawa luka sendiri
Kemana ku bawa pergi
Hancur hatiku berkeping
          Hanya terbayang
          Kau selalu dalam lamunan
( lagu Kasih Kandas di Jalan dapat di lihat di Youtube di pencarian iwansekopdarat)

          Selesai membawakan lagu tersebut abang kembali membawakan satu lagu yang berirama riang mencoba menghibur Tasya dan Damar, Tasya yang tadinya terharu menjadi tersenyum kecut mendengarkan abang membawakan lagunya dengan nada dan suara kocak. Tasya jadi terhibur dengan nyanyian abang yang sedikit konyol.

                   “Selalu Setia”
Sudah lupakan saja
Sudah jangan kau ingat
Cerita, kasihmu
          Biarkan berlalu
          Kisah kasih yang dulu
          Janganlah, ingat selalu
Reff :
Coba bukakan pintu hatimu sayang
Pastikan aku segera datang
Jangan biarkan diriku di luar ini
Tanpa kau yang datang menemani

          Ku kan selalu setia
          Sampai lanjut usia
          Padamu, oh kasihku
                   Berduakan bersama
                   Bersatu selamanya
                   Bukanlah, engkau ku rayu
Reff :
Kau slalu sayang yang ada dihati ini
Terukir indah dusanubari
Percayalah sayang akan cintaku
Bukan maksud hati untuk merayu
( lagu Selalu Setia  di lihat di Youtube di pencarian iwansekopdarat)

          Pukul 13.00 wib siang, kapal bersandar di dermaga Tanjung Balai Karimun. Abang pun menyerahkan kembali gitar kepada Damar. Sebelum turun Damar pun pamit kepada abang dan Tasya. Damar dan beberapa penumpang lain turun di pelabuhan Tanjung balai karimun, dari dek atas abang dan Tasya melambaikan tangan kepada Damar yang telah menginjakkan kakinya di pelabuhan. Damar pun membalas lambaian tangan mereka. Setengah jam kemudian kapal feri Dumai ekspress kembali berlayar menuju Pulau Batam dimana tempat Tasya berhenti, abang dan Tasya kembali ke bawah, duduk ditempat semula. Kepada Tasya abang juga bercerita tentang Indah kekasihnya. Tasya hanya tersenyum mendengar cerita abang, Tasya mengatakan beruntung sekali Indah menjadi kekasih abang, yang baik, perhatian dan piawai bermain gitar. Abang hanya manyun dipuji sedemikian rupa.
          ± pukul 14.45 kembali Dumai ekspress bersandar di dermaga Pulau Batam. Disini Tasya dan abang berpisah. Tasa menjabat erat tangan abang sahabat yang baru dikenalnya. Tak lupa ia memberikan nomor telepon selulernya kepada abang. Abang pun memberikan nomor HPnya juga kepada Tasya.
“ sampaikan salamku untuk Indah”, ujar Tasya.
“ iya, kamu hati – hati sya”, jawab abang
“ jaga diri baik – baik di kampung orang”, sambung abang lagi
          Tasya hanya mengangguk, ia pun turun dari kapal, Tasya melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan, abang pun balas melambaikan tangannya. Abang sempat memandang sekilas sinar mata Tasya yang bening, kapal pun kembali bertolak dari dermaga Pulau Batam meninggalkan satu kisah tentang persahabatan abang dan Tasya. Tasya terus memandang kapal yang terus membelah buih seakan ada yang pergi darinya.
          Di dalam kapal abang hanya termenung sesaat banyak yang dapat diambil hikmahnya dari ceritakTsya sahabat yang baru dikenalnya. Tak lama abang pun tertidur. Abang terjaga dari tidurnya ketika dibangunkan seoang ABK ( anak buah kapal ) yang mengatakan kapal telah merapat dan bersandar di pelabuhan Tanjung Pinang dan memang kapal tersebut stand by atau istirahat di Tanjung Pinang. Keesokan harinya lagi barulah kapal itu kembali beroperasi.
          Abang pun turun dari kapal, ia melirik arlojinya yang menujukkan pukul 16.25 wib sore. Ia berjalan menyusuri jembatan pelabuhan dan mencari penginapan yang terletak tak jauh dari pelabuhan itu.
          Setelah tiba ditempat penginapan tersebut, abang segera merebahkan dirinya di pembaringan sesaat. Abang pun menyusuri kota Tanjung Pinang dengan berjalan kaki selesai sholat Isya, mencari makanan mengganjal perutnya yang sudah keroncongan. Masih disekitar pesisir pantai abang memesan makanan. Tak lupa lewat telepon genggamnya, ia pun memberi kabar kepada orang tuanya dan Indah, baik Indah dan orang tuanya sangat senang mendapat kabar dari abang yang mengatakan abang tetap sehat walafiat.
          Selesai makan sambil melihat pemandangan alam dari bibir pantai, geliat malam kota Tanjung Pinang yang bersolek berhias diri. Abang pun kembali ke penginapan karena terlalu lelah di perjalanan abang pun tertidur pulas. Beduk subuh dan takbir azan membangunkan abang dari tidurnya. Dengan sujud bersimpuh kembali ia menghadapkan wajahnya kepada sang pencipta melaksanakan rukun Islam, sholat subuh. Pagi – pagi sekali abang sudah keluar dari penginapan mencari sarapan pagi yang ditawarkan penjaja makanan disekitar bibir pantai, selesai sarapan pagi abang pun berjalan menuju pelabuhan. Setibanya di pelabuhan abang bertanya kepada salah seorang penjual tiket jurusan Tanjung Pinang – Dabosingkep. Mereka mengatakan bahwa kapal feri yang berangkat dari Tanjung Pinang Dabosingkep pukul 12.30 siang.
          Abang pun membeli satu tiket penumpang di kapal tersebut. Hari masih pagi abang  berencana ke Pulau penyengat yang tidak begitu jauh dari Pulau Tanjung Pinang, dari cerita ayahnya, abang  ingin sekali melihat langsung masjid penyengat dengan menggunakan perahu mesin abang berangkat menuju pulau penyengat. Di penyengat abang singgah di masjid putih telur. Ziarah di tempat makam – makam raja dan mengunjungi tempat sejarah lainnya. Dari pengurus masjid penyengat abang mendengar kisah pulau penyengat ( untuk lebih jelas Anda bisa membaca novel tentang rindu 2 karya iwansekopdarat, kisah pulau penyengat )
          Pukul 11.30 abang kembali ke Tanjung Pinang bertolak dari pulau penyengat.       Di pelabuhan Tanjung Pinang tidak begitu lama menunggu kapal feri “superzet” pun yang bersandar di dermaga bertolak haluan menuju Dabosingkep tempat dimana ayahnya dibesarkan dan tempat dimana ia dilahirkan. Di pelabuhan Jogoh Dabosingkep pakciknya   ( paman ) menjemput abang didermaga. Abang pun menyalami pakciknya, dan menggunakan sepeda motor mereka manuju rumah nenek. Mereka tiba dirumah nenek puku 17.00 sore, makcik ( bibi ) sudah menyiapkan dan menghidangkan makanan buat abang, adiknnya ( ayah abang ) telah memberi Kedatangan abang yang membawakan obat yang dipesannya.
Abangpun menyerahkan obat tersebut makcik. Malamnya mereka bercerita, makciknya menanyakan kabar keluarga di Kisaran, pakciknya saat ini berada di dabo karena memang tender borongan masih sepi biasanya ia bekerja di pulau – pulau tak jauh atau sekitar pulau Dabo, neneknya hanya tersenyum saja. Melihat cucunya yang kian bertambah dewasa.
Karena malam semakin larut, abang pun pamit untuk beristirahat. Keesokan hari setelah makan siang abang berkata pada makciknya.
“ makcik aku pergi sebentar mau kerumah pak Rahem, aku pinjam sepeda motornya ya “
“ pakailah, hati – hati jangan ngebot dijalan “ jawab makcik
“ pakcik kemana ?, makcik tak liat pun dari tadi “ tanya abang
“ hem…. Pakcik kau tu dah ketempat kawan die mungkin bebual “
“ o……ayoklah makcik aku pergi dulu, assalamu’alaikum “
“ wa’alaikum salam, hati – hati dijalan og” jawab makciknya mengingatkan
Dengan mengendarai sepeda motor abang berniat kerumah pak Rahem, saudara kembar Rahman yang dulu pernah dikenal abang sewaktu kecil diatas kapal. Seorang pemuda dengan baju kotak – kotak yang duduk bersama 3 sahabatnya         ( mengenai pemuda tersebut anda bisa membaca dibuku Madah Aksara karya iwansekopdarat ).
Ketika abang tiba dirumah pak Rahem, ternyata orang lain yang menempati rumah pak Rahem. Kepada abang orang tersebut memberikan alamat pak Rahem sekarang, Abang pun kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana pak Rahem tingal. Abang memarkirkan sepeda motornya tepat dirumah pak Rahem.
“ assalamu’alaikum “ ujar abang sambil mengetuk pintu
“ wa’alaikum salam wr. wb “ jawab seorang wanita dari dalam rumah ia membuka pintu buat abang sambil menggendong bayinya
“ eh ….. abangkan “ ujar wanita itu

“ ia makcik “
“ masuklah, bang Rahem kau ade didalam“
Abang pun masuk dan duduk diruang tamu, tak lama keluar seorang lelaki sambil memegang tas ransel
“ eh, …. Bang bile sampai “ tanya lelaki tersebut
“ kemaren, pak “ abang pun menyalami bang Rahem dan istrinya, istrinya kembali kebelakang setelah meletakkan bayinya yang tertidur, ia membuatkan minuman buat abang
“ ape hal maen ke dabok, keluarga sehat di Kisaran?
“ ngantar obat nenek pak, keluarga di Kisaran sehat walafiat”
“ sukorlah sehat walafiat, nenek kau orang saket ape?”
“ biasalah pak, namanya sudah tua”, jawab abang
“ kami tinggal dulu ya bang, nak nidokan si kecik tu”, ujar istri bang Rahem
“ iya buk”
“ mau kemana pak membersihkan ransel itu”, tanya abang
“ o…ai budak – budak sekolah tu punye acare, nak ke gunong muncong, saye sebagai guru ditunjuk untok mengawasi budak tu same bu Ida, same pak Wahab
“ kapan berangkat pak?”, tanya abang penasaran
“ besok suboh, selesai sholat suboh, orang tu semue ngumpol disini, ngape awak nak ikot bang?”, jawab pak Rahem
“ iya pak, aku ingin melihat pemandangan gunong muncung”
“ ha..kalau nak ikot, besok mesti cepat awak kemari, suboh – suboh dah jejak kemari”
“ iya pak makasih”, jawab abang
“ maenlah ke rumah kak Ida kau tu, rumah die dak jauh dari abang ni, di ujung komplek guru ni, baru setengah taon abang pindah kemari”, tukas bang Rahem
“ jangan panggel bapak lah, panggel abang je, dirumah pon”, sambung bang Rahem
“ nggak apa – apa loh pak, lebih enak panggil bapak”, tukas abang
          Bang Rahem hanya tersenyum, ia juga menjelaskan baru setengah tahun ia dipindah tugaskan di sekolah dimana ibu Ida mantan kekasih kembarnya mengajar Bang Rahem adalah guru sebagai tenanga pendidik di bidang studi olahraga. Setelah ngobrol sesaat abang pun pamit pada pak Rahem dan istrinya. Tak lupa bang Rahem mengingatkan agar esok subuh abang sudah dirumahnya, abang pun mengangguk dan mengingat pesan tersebut.
          Sebelum kembali ke rumah neneknya abang menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah kak Ida, kak Ida sangat senang atas kedatangan abang apalgi mendengar abang ingin ikot haiking ke gunung muncung besok. Kak Ida makin bertambah senang, mereka hanya mengobrol sejenak dan abang pun permisi untuk kembali pulang ke rumah neneknya kepada Kak Ida.
          Di rumah makcik dan pakciknya sudah menunggu diteras depan, mereka duduk di bangku santai sisi kanan rumah.
“ dari mane je bang”, ujar pakcik
“ dari rumah pak Rahem, pakcik”, jawab abang
“ pak Rahem mane?”, kembali pakciknya bertanya
“ itu pak e, yang kami pernah cerite kan dulu”, tukas makciknya mengingatkan suaminya
“ o……”, jawab pakciknya
“ makcik, pakcik bolehkan besok subuh abang ikut Pak Rahem dan siswa – siswanya, rekreasi ke gunung muncung”
“ ai tak penat ke bang, baru semalam jejak isoklah nak bepetualang, gunong muncong tu jaoh bang, jalannye mendaki ke atas kelak ngyungap pulak napas awak, sempot”, tukas makcik mengingatkan abang
“ ai orang mude yah e, bialah die ke gunong muncong itong – itong nambah pengalaman, ade geg cerite yang dibawak abang ke Kisaran, betol dak bang?”, jawab pakcik, abang hanya tersenyum mendengar makcik dan pakciknya berujar
“ ielah kalau nak kesane, tapi permisi juge same nenek awak tu, ni malam jangan nak ngerayau kemane – mane, cepat tido, banyak istirahat bia besok suboh ade tenage kuat bejalan ke gunong muncong”, nasehat makciknya
“ iyalah makcik, abang kedalam dulu permisi sama nenek”, jawab abang
          Abang pun masuk ke dalam rumah, neneknya pun mengizinkan abang untuk pergi ke gunung muncung.
          Selesai sholat subuh dengan diantar pakcknya abang ke rumah pak Rahem, disana telah berkumpul beberapa siswa sekolah menengah umum. Abang pun menyalami Pak Wahab teman sesama tenaga pengajar Pak Rahem dan Bu Ida. Siswa – siswa pun menyalami abang secara bergantian, siswi – siswi tersenyum menyalami abang. Setelah semua perbekalan disiapkan mereka pun mulai bergerak berjalan menuju gunung muncung, udara subuh masih segar, mentari belum menampakkan sinarnya. Mereka menapaki jalan dari kampung bukit abun mereka menuju kampung bukit kapitan. Setelah melewati kampung bukit kapitan mereka menelusuri jalan setapak, cukup lumayan jauh mereka menapaki jalan setapak. Mereka pun masuk di kampung tanah sejuk dan berbelok kekiri dari jalan besar, kembali mereka menelusuri jalan setapak setelah melewati jalan raya di kampung tanah sejuk. Di sisi kiri dan kanan setapak terdapat semak dan hutan hutan kecil. Suara kicau burung pagi seakan memberi semangat perjalanan mereka. Kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tibna di gunung muncung, jalan yang kini mereka lalui mendaki dan berkelok sampai ke atas. Jalan yang mendaki dan berkelok tersebut oleh pihak perusahaan timah Dabosingkep telah diaspal, jadi tidak begitu sulit bagi kita untuk mendakinya.
Abang, pak Rahem, bu Ida, Pak Wahab dan beberapa siswa lainnya istirahat sejenak di kaki gunung muncung sekedar sarapan roti dan teh manis untuk memulihkan tenaga. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menapaki jalan beraspal yang mendaki dan berkelok menuju puncak gunung muncung kurang lebih 28 kelokan menurut hitungan abang, mereka pun tiba di puncak gunung muncung tepat pukul 10.30 pagi menjelang siang. Mereka semua telah menginjakkan kakinya di gunung muncung. Udara disana sangat dingin walau pagi sebentar lagi berganti dengan siang. Mereka membangun tenda tak jauh dari bangunan yang dibuat pihak perusahaan timah singkep, dulunya berfungsi sebagai pemancar siaran TVRI. Bu Ida dan siswa perempuan menyiapkan makan siang, sementara abang, pak Wahab dan siswa laki – laki membangun tenda. Pak Rahem dan beberapa siswa lainnya mencari kayu bakar untuk dibuat api unggun nanti malam. Abang sangat senang berada di puncak gunung muncung. Dari atas abang dapat melihat – lihat desa atau kampung di Dabosingkep. Suasana alam yang asri jauh dari kebisingan dan aktivitas perkotaan, disini abang merasa tentram, bercengkrama dengan teman – teman seolah – olah kelelahan dalam perjalanan sirna oleh pemandangan yang terhampar indah di depan mata.
          Mereka berkemah satu malam di puncak gunung muncung, esok paginya mereka berniat menuruni lereng gunung muncung menuju batu ampar. Salah satu tempat rekreasi yang berada di Pulau Dabosingkep. Karena udara dan hawa yang dingin malamnya mereka membuat api unggun kembali bercengkrama abang membaur dengan mereka, bernyanyi bersama – sama dan main riang gembira. Pak Rahem meminta abang untuk bernyanyi sambil bermain gitar, abang pun mulai bernyanyi. Mereka mendengar nyanyian abang sambil tersenyum.

                   “ Kau Slalu Ada”
                                                Cipt. iwansekopdarat
          Yang terindah dalam hidupku
          Yang termanis dengan cintaku
          Kau slalu ada, mengisi hariku
                   Yang terpendam dalam hatiku
                   Yang terkesan dengan senyummu
                   Kau slalu ada, hadir dalam mimpiku
                             Waktu yang berganti
                             Masa terlewati
Reff   Kau slalu ada
          Dalam mimpiku mengisi hariku
          Kau slalu ada
          Berputar waktu, kau tetap kutunggu
          Kau slalu ada
          Berganti masa ku slalu setia
          Kau slalu ada
          Setiap waktu kau slalu ku rindu
( lagu Kau Slalu Ada  di lihat di Youtube di pencarian iwansekopdarat)
          Malam semakin larut, para siswa perempuan sudah kembali ke kemah masing – masing untuk istirahat dan tidur. Beberapa siswa laki – laki, abang, pak Rahem, Pak Wahab dan Bu Ida masih diluar dekat api unggun, abang menghampiri Bu Ida.
“ belum tidur bu”
“ belum bang, belum ngantok”, jawab Bu Ida

          Ia segera menutup buku yang dibacanya.
“ buku apa itu bu”, tanya abang melihat buku yang dipegang bu Ida
“ o… buku lame je bang, buku pribahasa dalam bahase Inggris, ni buku dulu Rahman yang kasi sewaktu kami maseh sekolah, awak nak bace?”
          Bu Ida menyerahkan buku tersebut kepada abang. Abang pun menerima dan membolak – balikkan halaman – halaman buku itu. Abang ingat tulisan tangan yang bertuliskan satu nama sama dengan tulisan di halaman depan bagian atas buku. Abang tersenyum membaca nama tersebut. Pak Rahem pun menghampiri mereka dan berkata,
“ tido la buk Ida, bia kami yang jantan je bejage, dah larot malam”
“ iyelah Pak Rahem, yok bang, kakak tido duluk, ikak hati – hati ye di lua”, ujar Bu Ida
“ iya buk Ida”, jawab abang
          Tak lama Bu Ida pun masuk ke kemah bagian putri untuk istirahat
“ awak pun tido la bang, habes jalan jaoh penat, mungken isok kite melanjotkan perjalanan lagi ke batu ampar”
“ nggak apa – apa Pak Rahem, biar aja tiduran dekat api unggun ini, kalau capek tertidur sendiri koq”, jawab abang
          Sambil tiduran ia membaca buku yang dipinjamkan bu Ida, tak jauh dari api unggun karena tak kuasa menahan rasa kantuk dan kelelahan dalam menempuh perjalanan. Abang pun tertidur sambil mendekap buku itu. Pak Rahem menyelimuti abang yang tertidur pulas, ia hanya tersenyum sekilas. Tak lama Pak Rahim pun kembali bergabung bersama Pak Wahab dan beberapa siswa laki – laki untuk berjaga – jaga.