Selasa, 27 Maret 2012

novel : DO'A SI MARJAN Bag. 1

novel : DO'A SI MARJAN Bag. 1

oleh Gurindam Kelana pada 27 Maret 2012 pukul 10:45 ·
KATA PENGANTAR


Alhamdulillah puji syukur,kehadirat ALLAH SWT saya ucapkan atas selesainya penulisan novel ini , tanpa ridho dan petunjuk dari-Nya mustahil buku ini dapat dirampungkan . Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang membantu dalam menyelesaiakan novel ini.
Suatu cerita yang dikemas dalam satu buku,mungkin dalam ukuran novel ia belum di katan tepat karena  halaman yang di tulis mungkin saja kurang dari standar untuk ukuran novel lebih tepatnya buku ini bisa disebut mini novel atau novel pendek. Sengaja di tulis demikian memang buku ini ditujukan pada bacaan ramaja khususnya dan masyarakat luas umumnya,ini disebabkan pada biasanya anak-anak akan merasa bosan dan jenuh jika harus membaca buku cerita berlama-lama. Satu kisah tentang perjuangan hidup seorang anak yang menyikapi hidupnya dalam pandangan positif.

Kisaran ,
Penulis



IWAN SEKOPDARAT








Rona kelabu pada langit,menutupi sinar mentari,seakan turun hujan, namun rintiknya enggan datang, bias-bias cakrawala yang kusam. Pada nuansa mega berselimut  pada mendung yang temaram.
Sepasang sepatu usang yang dijemur di atas kursi kayu dibelakang rumah masih belum kering benar. Seorang anak kecil berumur 8 tahun berdiri tak jauh dari sepatu tersebut. Sesekali terlihat ia jongkok seakan menunggu sesuatu.
“ Marjaan !’ mongapo kau bajomur di siang buto, itu,
( marjan,mengapa kau berjemur di siang buta, itu )
Ujar  seorang nenek kepada anak kecil yang di panggilnya marjan dari dalam rumah.
“ manunggu sopatu pung tak koring-koring “
( menunggu sepatu nek yang tak kering-kering ) ujar anak kecil yang ternyata bernama marjan.
“ karang koringnyo sopatu tu, tak usah kau batunggu “
( nanti keringnya sepatu itu,tak usah ditunggu )
“ iyolah pung “ tukas marjan.
Neneknya hanya tersenyum melihat tingkah cucunya si marjan, di karenakan mereka tinggal di lingkungan dimana tetangga-tetangganya banyak yang bersuku batak mereka lebih sering memanggil neneknya marjan dengan sebutan opung marjan ( neneknya si marjan ).
Marjan tinggal bersama neneknya, ibunya meninggal disaat melahirkan marjan, sementara ayah marjan kini bekerja sebagai TKI di negeri jiran, genap setahun usia si marjan dulu ayahnya pun merantau mengadu nasib di negeri orang.
Marjan dan opungnya tinggal di kisaran Asahan,Sumatera Utara. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari opung marjan berjualan kue buatannya sendiri. Jika ada pasar malam,pesta pernikahan atau sunatan, biasanya marjan menemani opungnya jualan jagung bakar, tak jauh dari lokasi pesta tersebut. Tak jarang mereka pulang larut malam selesai menjajakan barang dagangannya.
Saat ini marjan bersekolah di SDN 09 Kisaran,duduk di bangku kelas 2. Ia tergolong anak yang pintar, ia gemar bermain sepak bola. Jika da waktu luang selesai sore menjajakan kue. Marjan berkumpul bersama anak-anak yang lain dan mereka bermain sepak bola. Marjan anak yang bersahaja dan ramah pada semua orang. Teman-teman marjan sanagt suka bermain dengan marjan.


“ assslamu’alaikum “
“ wa’alaikum salam wr.wb “ jawab marjan.
Dengan sedikit berlari marjan menuju pintu depan yang tak tertutup sehingga dari dalam rumah ia melihat wajah yang tadi mengucapkan salam.
“ mana opung kau marjan, incek bawa jagung posanan opung kau “ tukas lelaki setengah baya yang turun dari sepedanya.
“ sabontar incek, dongar pun opungku itu “ sela marjan.
“ sakojap lagi datangnya “ sambung marjan lagi.
Tak lama nenek marjan pun keluar menghampiri marjan dan incek umar.
“ borapo biji kau bawa jagungnyo umar ?” Tanya si nenek.
“ tigo puluh opung, sesuai posanan opung “ jawab incek umar.
“ bah ! yang banyaklah tu jang ! mongapo sampai limo puluh samantaro yang aku posan tigo puluh “
“ ha,,kau dongarkan itu marjan,opungmu itu, kau torangkanlah samo opungmu itu”ujar incek sambil geleng-geleng kepala kepada marjan.
“ tigo puluh pung yang di bawa incek umar “
Sela marjan kepada neneknya dengan memberi isyarat tangannya.
“ O..tigo puluh. Mengapo tadi kau manggeleng-geleng kepalo kau itu umar,yang kau bilangnyo aku ini pokak samo si marjan ?”
Incek umar yang disangka opung marjan mengejek dirinya hanya tersenyum-senyum ia pun tersenyum kepada si marjan,sambil berkata,
“ biasolah marjan,opung kau itu ponyakit tuo,yang sabar lah kau jang “
“ hai umar, apo yang kau kombur ( cerita ) samo marjan “ tanya nenek marjan penasaran.
“ tidak adolah pung , aku hanya membilang sama si marjan,jago opung kau itu “
Dengan suara sedikit keras incek umar menjawabnya agar nenek marjan mendengarnya,opung marjan pun mengangguk sambil tersenyum.
“ sabontar you umar, aku ka dalam mengambil duit,harga biasokan “
“ iyo pung “ angguk incek umar.
Opung marjan pun masuk kedalam rumah mengambil uang untuk pembayaran jagung tersebut.
“ sudah kolas borapo kau jan ?”
“ kolas duo incek “ jawab marjan.
“ juaronyo kau di sekolah ?”
“ Alhamdulillah incek,aku juaro duo “
“ bah ! sudah mantaplah itu jang,paringkat kaduo,baparingkat di sekolah yang semangat lagi kau bolajar biar biso paringkat ka satu “ nasehat incek umar.
“ iya incek “
Opung marjan pun keluar dari dalam rumah dan menghampiri mereka sambil menyerahkan uang kepada incek umar.
“ kau kiro lagi umar,kadang bakurang “
“ iyo pung “
Incek umar pun menghitung uang yang diberikan opung marjan.
“ pas nyo pung,ma kasih yo pung,ayok jan,incek pulang dulu .assalamu’alaikum”
“ wa’alaikum salam wr.wb “ jawab opung marjan dan marjan bersamaan.
Incek umar pun kembali mengayuh sepedanya berlalu dari hadapan marjan dan opungnya.

Hari ini tetangga yang tak jauh dari rumah mereka mengadakan hajatan kecil dengan menyewa organ tunggal yang lazim di sebut keyboard. Tetangga tersebut berniat mengadakan pesta sunatan ( syukuran dengan khitanan putra mereka ). Kesempatan ini di gunakan opung marjan untuk berjualan jagung bakar di lokasi tersebut. Biasanya ± pukul 15:00 wib sore opung marjan sudah mulai berjualan di lokasi pesta, jika tidak ada pesta atau tidak bukanya pasar malam biasanya marjan sering berjualan kue keliling menjajakan kepada tetangganya dari rumah ke rumah.
Dulu opung marjan berjualan kue di pajak ( pasar ). Tiga  tahun belakangan ini opung marjan tidak lagi berjualan di pajak , mungkin di karenakan umur yang sudah tua membuat ia memutuskan untuk tidak lagi berjualan ke pajak, yang harus bangun pagi-pagi benar. Opung marjan hanya membuat kue dan marjan sebelum berangkat ke sekolah mengantarkan kue buatan neneknya ke pajak untuk di jual pedagang kue langganan mereka yang dulu kawan opung marjan selagi masih sama-sama jualan di pajak .
“ marjan,,nanti malam kau pulang copat yo,karan (nanti ) mengantuk sekolah, jam 8 malam sudah biso kau pulang “ ujar opungnya sambil membuat bumbu racikan jagung bakar yang sore nanti akan di jualnya.
“ iyo pung “ jawab marjan. Ia pun membantu opungnya di dapur.
“ pogi lah kau tidur siang,biarlah bumbu ini opung yang menyiapkannyo.”
“ sakojap lagi pung,tanggung “ ujar marjan.
Opungnya hanya tersenyum melihat cucunya dengan rela membantu pekerjaanya.
Selesai menggilingkan bumbu racikan jagung bakar,barulah marjan beristirahat sejenak,tak jauh dari opungnya bekerja dan marjan pun tertidur. Di tempat tidur kecil beralaskan tikar tanpa kasur yang sengaja di letakkan opungnya di ruangan dapur. Dulu sewaktu marjan kecil opungnya sering menidurkan marjan di tempat tidur yang terbuat dari kayu tersebut,sambil memasak  ia bisa melihat dan menjaga cucunya.
Suara besi yang bergesek di lantai membangunkan marjan dari tidur siangnya. Matahari sudah tidak tegak di atas kepala lagi,sedikit condong kea arah barat menandakan siang telah bertukar dengan sore. Opungnya yang sudah siap-siap hendak berangkat jualan tersenyum ke arah marjan.
“ mongapo aku tak di bangunkan pung ?” sela marjan dengan suara sedikit di keraskan.
“ sodap ku tengok kau tidur marjan,tak sampai hati opung membangunkan kau “
“ tunggu aku ya pung, aku mandi sabontar,biar samo-samo kito borangkat bajualan ”
Tanpa menunggu jawaban dari opungnya marjan pun beranjak dari tudurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri,tak lupa ia menyambar handuk yang tak jauh dari pintu kamar mandi yang sejajar di gantungkan. Terdengar suara air ari dalam kamar mandi yang di siramkan secara tergesa-gesa.
Opungnya pun berjalan ke teras depan sambil melihat-lihat barang kali ada becak yang lewat,yang akan membawakan barang dagangannya  ke lokasi yang tak jauh dari pesta sunatan tersebut.
Dengan menggunakan becak sampailah marjan dan opungnya di lokasi pesta tersebut,di pinggir jalan tukang becak itu menurunkan barang dagangan opungnya, jagung, kursi, tempat pembakaran dan sebuah mangkok berukuran sedang tempat bumbu yang akan di oleskan ke jagung sebelum jagung itu di bakar. Opung marjan berjualan jagung bakar di pinggir jalan tak jauh dari tempat di mana pesta hajatan itu di laksanakan.
Setelah menyusun sedemikian rupa baru lah opung marjan meletakkan arang di atas tempat pembakaranyang tidak begitu besar. Dengan sedikit minyak tanah  opung marjan pun menyalahkan apinya,arang kini terbakar dalam tempat pembakaran. Opung marjan mulai mengipas-ngipas dengan menggunakan kertas koran,hingga arang yang terbakar menjadi bara yang merah membara .
Suara organ masih bergema, mengalunkan irama pada tarian jiwa, seorang biduan dengan suara khasnya membawa tembang kenangan. Tembang lawas yang menjadi pamungkas bagi mereka.
Opung marjan mulai mengolesi jagung tersebut dengan racikan bumbu yang ia buat siang tadi di rumahnya.
“ opung, biar aku sajo yang mengipasnyo “ ela marjan. Ia pun turun dari kursi dan menghampiri tempat pemkaran. Marjan mengambil Koran bekas lalu tanganya bergerak lincah mengipas-ngipas di atas bara.
“ jangan terlalu dokat karan tabakar “ opung marjan menasehati cucunya, ia pun meletakkan jagung yang sudah di olesi dengan racikan bumbu tersebut, meletakkannya di atas bara yang membara.
Marjan asyik mengipas-ngipas, sesekali matanya memandang ke arah pentas dimana seorang biduan membawakan tembang yang tak asing lagi di dengar dari tempat mereka jualan. Marjan dapat melihat jelas,suara organ tunggal pun cukup membuat gendang telinga berdenyut. Namun, bagi marjan dan opungnya sudah biasa.
Jika jualan mereka belum habis hingga malam,tak jarang marjan tertidur di kursi plastik yang sengaja dibawa opungnya, dan opungnya pun menyelimuti cucunya dengan selendang yang di gunakannya kemana ia pergi.
Bukan hanya opung marjan saja yang berjualan dadakan dipinggir jalan tak jauh dari tempat hajatan tersebut, disana juga ada yang berjualan molen (pisang yang di goreng dalam lilitan  tepung ), berjualan balon, berjualan mainan anak-anak berjualan gorengan dan lain-lain.
Satu persatu para undangan mulai berdatangan pihak keluarga yang menyelenggarakan kegiatan, menerima tamu dengan senyum ramah dan sopan tak lupa mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi hidangan yang telah di sediaakan, biasanya para tamu undangan yang pulang dari tempat hajatan singgah sejenak ketempat-tempat dimana para penjual menjajakan barang dagangannya mereka membeli makanan tau mainan anak-anak untuk di bawah pulang sebagai oleh-oleh atau buah tangan untuk keliuarga.
Seorang wanita setengah baya menghampiri jualan marjan dengan mengundang seorang anak  perempuan yang seumuran dengan marjan kepada marjan ibu dan anak perempuan itu berujar.
 “ marjan kemana opung boru mu”( marjan kemana nenekmu )
 “ membeli plastic, tompat, jagung bakar wak “. ( membeli plastic tempat jagung bakar)  jawab marjan.
“ Jan, PR kau sudah siap, besok dikumpulkan PR nya “ ujar anak  perempuian itu yang ternyata teman sekelas marjan.
“ Sudah pun Halimah, semalam ku kerjakan”pungkas marjan sesekali ia membolak-balikan jagung yang di kipasnya di atas bara.
Ternyata anak perempuan yang di gandeng ibunya bernama Halimah.
Tak lama opung marjan pun kembali ketempat semula.
“ Opung jagung bakarnya ada berapa semua, aku borong ya ? “ ujar ibi si halimah
“apo sarung tabakar, sarung siapo tabakar ?” tanya opung marjan yang salah mengartikan  pertanyaan “ bukan pung, kato omak halimah, basiso berapo lagi jagung nyo, ondak diborong orang ito samuo” sela marjan yang bangkit berdiri dari jongkok, menghampri opungnya dengan suarasedikit agak dikeraskan mengimbangi suara speaker dari organ tunggal tersebut.
Halimah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah marjan dan orang tuanya.opung marjan pun menerangkan pada halimah dan ibunya.
“ O ..tinggal dua puluh lima bijik, saribu satu jadi samuo nyo duo puluh limo ribu, yan banyaklah jang membolik apo hajatan apo”.
“ Gk ada apa-apa lah pung, saudara dari medan saja yang datang berkunjung kerumah” jawab ibunya halimah opung marjan mengernyitkan dahinya seakan tidak paham apa yang diucap ibunya sihalimah memang saat itu suara music sangat keras di tambah lagi opung marjan yang memang kurang pendengarannya.
“ Maklum lah wak, opung aku pokak, kurang pendengarannyo, karankah  wak kuantar kerumah wak, ini belum semua kubakar”.
“ iyalah jan, makasi ya “ ibunya halimah pun memberikan uang dua pulu lima ribuan kepada kepada opung marjan dan mereka pun pamit pulang kepada opung marjan.
“ yok jan, aku pulang sampai ketemu dirumah ya,tukas halimah kepada marjan.
“iyolah halimah” jawab marjan.
Dengan semangat marjan mengipasi jagung bakarnya
“ Opo kato omak kawan kau itu jan, Tanya opung nya.
“ nantilah pung, dirumah aku critakan di sini suaronyo gaduh “ ujar marjan.
Opungnya hanya mengangguk kepalahnya, tanda mengerti, hari ini mereka pulang dari berjualan agak cepat karena ibunya sihalimah memborong semua jagung bakar mereka. Selesai memberesi dan merapikan jualannya opung marjan berniat memanggil becak yang tidak parkir dari lokasi hajatan tersebut, dengan isyarat lambaian tangan opung marjan, seseorang pengendara becak menghampiri marjan dan dan opungnya, ia pun turun dari becaknya membantu opung dan marjan mengangkat perlengkapan jualan tersebut.
“ opung marjan tunggu “ seseorang dari salah satu pihak keluarga berlari kecil menghampiri marjan dan opungnya sambil memberikan sebuah bungkusan.
“ Apo ini “Tanya opung marjan
“ tak ada apo-apolah pung, ini ada bontot sikit biar dibawak pulang kerumah”. (makanan yang dibungkus).
“ terimah kasih la yo” jawab opung marjan sambil menyalami orang yang memberikan bungkusan  makanan tadi, setelah menyalami opung marjan orang tersebut kembali ketempat kegiatan.
“ marjan kau tunggu sebentar yo, sogan opung tak menyalami orang itu”marjan mengangguk,
Opung nya berjalan menuju ketempat kegiatan, dengan uang yang digenggam ia menyalami pihak keluarga yang mengadakan kegiatan, pihak keluarga menolak halus pemberian opung marjan, mereka mengatakan, mereka memberi bungkusan, itu ikhlas, lebih bagus uang yang tadi diberikan opung marjan digunakan untuk keperluan sekolah marjan, sekali lagi opung marjan mengucapkan terima kasih kepada pihak keluarga yang mengadakan acara, tak lupa opung marjan berdoa semoga anak yang baru dikhitankan menjadi orang yang berguna  bagi keluarga bangsa dan Negara nantinya, atas doa tersebut sepasang suami istri itu memeluk opung marjan secara bergantian.
Dengan menggunakan becak marjan dan opungnya pulang ke rumah tak lupa mereka singgah sebentar di rumah halimah mengantarkan jagung bakar pesanan ibu halimah.
Di dalam kelas sekolah dasar seseorang guru sefang menerangkan pelajaran berhitung kepada anak didiknya, marjan dan teman-teman yang lain menyimaknya dengan seksama.
“ dolah dua di tambah duah sama dengan berapa ? ” Tanya Pak Lokot.
“ e..h…eh  sarupo pak “ jawab dolah gelagapan sontak murid-murid yang lain jadi tertawa semua.
“ bah ! unang modom no dolah.”
   (bah ! jangan tidor kau dolah ) tukas dapot sihotang teman sebangku dolah.
“ Dolah, mari’’ panggil pak lokot.
Dengan wajah tertunduk malu dolah pun berjalan kedepan kelas.
“ jam berapa kau tidur semalam “
“ jam sebelas pak “jawab dolah
“  kan kamu tau besoknya sekolah kenapa tidurnya larut malam “ ujar pak Lokot kembali.
“ somalam ado kenduri di rumah pak, aku lah membantu omak menyusun dan mencuci piring, jawab dolah membela diri.
Pak Lokot hanya tersenyum, dan meminta dolah untuk kembali ketempat duduknya.

Kepada murid-murid pak lokot juga mengingatkan untuk bisa berbahasa atau dapat menggunakan  bahasa Indonesia di lingkungan sekolah , dari dinilah mereka harus membiasakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar agar dikemudian hari tidak susah bagi mereka.
Pak lokot menerangkan seperti itu bukan berarti pak lokot melarang murid-murid atas siswa-siswanya menggunakan bahasa suku daerah masing-masing melainkan harus bisa menempatkan di mana bahasa tersebut dipergunakan.
Tak lupa pak lokot juga bertanya kepada murid-murid akan cita-cita mereka di masa depan.
“ Halimah, apa cita-citamu ?
“ mau jadi dokter pak” jawab halimah
“Mukdin, kalau kamu? “ kembali pak lokot bertanya .
“ mau jadi tentara pak wong tentara gagah tenan”
“ Kamu Dapot apa cita-citamu ?
“ mau macam bapakku pak, jual minyak biar nanti bisa jadi raja minyak”
Murid-murid yang lain mendengar perkataan dapot, menahan tawa geli, pak lokot pun coba menenangkan anak didiknya.
“ sudah-sudah jangan berisik jadi raja minyak pun tidak gampang harus pandai menguasai ilmu hitung seperti yang bapak ajarkan tadi.
“ iya pak, dengan serempak mereka menjawabnya,
“ kamu dolah apa cita-citamu “
“ mau jadi polaut pak, biar biso mengelilingi lautan samudro, menangkap ikan yang bosar-bosar.”( mau jadi pelaut pak, agar dapat mengelilingi samudra, dan menangkap ikan besar )
Mendengar jawaban dolah yang kocak murid-murid yang  lain jadi tertawa semua.
“ sudah anak-anak harap tenag, memang bagus dolah cita-citamu untuk jadi pelaut, tapi mengapa harus menangkap ikan besar ? Tanya pak lokot.
“ kasian ayahku dirumah pak, io pun pelaut, nelayan perahunyo kocil, asal agin koncang tak bisa melaut,takut karam, jadi tak menangkap ikan lah, tak ado yang di jual omakku  dipajak, nanti mengambil ikan orang untuk dijual mahal pak.
Karno itu aku ingin jadi pelaut membawa kapal bosar, walaupun bahaya kabarat ditokan tonggaro, ke salatan ditorjang baratdayo, aku aku tidak peduli, kapalku bosar “ jawab dengan kocak.
Pak lokot dan murid-murid yang laen tersenyum mendengar penjelasan dolah yang sederhana, kembali pak lokot berkata.
“ Dolah, kan tadi sudah bapak bilang,harus dapat menempatkan bahasa dimana ia layak di ucapkan,ini kan di lingkungan sekolah. Hendaknya kita dapat menggunakan bahasa Indonesia,begitu juga dengan anak-anak yang lain tidak terkecuali Dolah,paham kalian !”
“ paham pak “ ujar murid serempak.
“ ya Dolah “ dengan tersenyum pak lokot berujar pada dolah.
“iyo pak, e tasilap,iya pak “ jawab dolah.
“ kamu marjan, apa cita-cita mu ?”
“ mau membawa opungku naikhaji pak,e…..membawa nenek naik haji pak “
“ mengapa dirimu ingin membawa nenekmu naik haji ?”
“begini caritanyopak,bah ! tasilap lagi,,,,,begini ceritanya pak,saya ingin besar nantimemberangkatkan nenek ke tanah suci,karena saya sring dengar nenek mengatakan ingin ke tanah suci,tapi duitnyo tak ado “
Pak lokot terharu mendengar jawaban marjan dengan semangatnya ia ingin memberangkatkan neneknya ke tanah suci memenuhi panggilan ilahi melaksanakan rukun islam yang ke lima.
Pak lokot tahu benar siapa marjan dan opungnya. Ia bertetangga dengan marjan dan opungnya. Sebelum bersekolah pun marjan kecil sudah sering main ke rumah pak lokot atau sengaja dititipkan opungnya sebentar untuk menjaga marjan kepada istri pak lokot jika opungnya ada keperluan sejenak.
Pak lokot juga tahu bahwa marjan anak yang rajin dan giat belajar. Jika ada pelajaran yang kurang paham menurut marjan kepada pak lokot yang masih tetangganya marjan sering bertanya.
Lonceng sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran sudah usai, kepada murid pak lokot meminta untuk memberesi dan memasukkan buku ke dalam tas mereka masing-masing. Duduk yang rapi dan berdo’a sebelum pulang.
Dengan tertib setelah berdo’a satu persatu anak didik pak lokot menyalami gurunya dan keluar dari kelas pulang menuju ke rumah masing-masing.

Dapot, Dolah, Mukdin, Halimah, dan Marjan pulang berbarengan, mereka adalah sahabat yang kemana-mana selalu bersama, berangkat, pulang dan bermain mereka selalu bersama-sama.
“ teman-teman nanti siang main kerumahku ya “ujar halimah kepada marjan, dolah, mukdin dan dapot.
“weh,,,makan enaklah ya “ sela mukdin
“ makan saja bah ! yang kau piker Din “ celetuk dapot.
“emang ado apo limah di rumahmu “ Tanya dolah
“kalau aku limah karanlah selesai menjago kue, ini hari tak ado yang bapesta, potang aku menjual kue lah,salosai bajualan baru aku kerumah mu “ tambah marjan.
Halimah pun mengangguk, kepada teman-temannya halimah menyatakan bahwa kemaren sepupunya anak dari ibunya, berkunjung kerumahnya, paman halimah menyatakan menitipkan anaknya yang bernama maymunah untuk bersekolah disini. Kebetulan maymunah pun kelas 2 SD, jadi mereka akan mendapat teman baru di kelasnya.
Jadi karena itu, maksud halimah mengundang sahabat-sahabatnya main kerumahnya ingin memperkenalkan maymunah kepada sahabat-sahabatnya, teman-teman halimah pun mengiyahkan dan berjanji untuk bisa datang kerumah halimah sore nanti. Di persimpangan jalan mereka pun berpisah kembali ke rumah masing-masing.
Di rumah dari jendela dapur yang di biarkan terbuka marjan mendapati opungnya masih rebahan sekedar istirahat di tempat tidur kecil yang terbuat dari kayu beralas tikar usang tanpa tilam atau kasur di ruangan dapur mereka sengaja marjan jalan memutar kea rah pintu belakang untuk masuk ke dalam rumah.
“ assalamu’alaikum “ ujar marjan dengan suara sedikit di kuatkan agar opungnya yang kurang pendengarannya dapat mendengar salam dari marjan, 3 kali marjan mengulang salamnya barulah terdengar suara perempuan tua dari dalam rumah.
“ wa’alaikum salam wr.wb, kaunyo itu marjan “ jawab opungnya yang malah balik bertanya.
“ iyo pung, aku ini marjan “
Mendengar suara marjan opungnya pun membukakan pintu. Marjan pun masuk ke dalam rumah setelah terlebih dahulu melespaskan sepatunya, sepatu tersebut ia letakkan di samping pintu dapur. Marjan mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian sehari-hari.
“ salosai baganti baju copat kau makan jan “
“ iyo pung, sakojap “ jawab marjan sambil menggantungkan seragam sekolahnya.
Marjan pun berjalan ke ruang dapur dan siap-siap untuk makan siang.
“ jangan lupo badoa sabolum makan jan, salosai makan sabontar yo kau kerumah pak lokot kau itu, kau bilang opung suruh kemari menabangkan pisang di belakang rumah ini “ ujar opung kepada marjan sambil tangannya menuju kearah luar  halaman belakang rumah mereka yang di tumbuhi pohon pisang.
Marjan pun mengiahkan perkataan opungnya selesai makan dan istirahat sejenak. Marjan kerumah pak lokot yang tidak begitu jauh dari rumah mereka yang hanya berjarak lima rumah.setibahnya dirumah pak lokot, marjan pun memberi taukan apa yang dipesankan opungnya kepada pak lokot.
Pak lokot pun baru selesai makan dan istirahat, bersama marjan pak lokot pun berangkat menuju rumah opung marjan.
Opung marjan berkata kepada pak lokot begitu mereka sudah tiba dirumah.
“ lokot kau tobangkan dulu pisang itu, aku hari ini agak domam, kurang batanago.”
“ iya opung “ jawab pak lokot.
Marjan pun masuk kedalam rumah, tak lupa kepada marjan pun opungnya mengatakan agar marjan tidur siang, marjan pun masuk ke dalam kamar dan merebakan dirinya dipembaringan,mungkin karena kelelahan marjan pun tertidur pulas.
± 20 menit pak lokot pun telah selesai menebang dan mennnyisiri pisang ia pun pamit pulang kepada opung marjan setelah pekerjaannya selesai, pak lokot menolak secara halus ketika opung marjan memberikan dua sisir pisang kepada pak lokot. Sebagai tanda terima kasihnya yang sudah menebangkan pisang dan menyisirnya, opung marjan hanya berdoa semoga pak lokot sekeluarga selalu dalam lindungan tuhan yang maha kuasa ketika dengan sopan pak lokot mengatakan ia ikhlas membantu opung marjan.
Marjan bangun dari tidur siangnya setelah merasakan badannya yang kembali bugar, ia pun langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, didapur opung marjan masih menggoreng pisang yang tadi ditebang pak lokot, selesai mandi dan badan terasa segar marjan pun kembali mengulang-ulang pelajaran menyelesaikan pekerjaan rumahnya sambil menunggu pisang yang di goreng opungnya masak dan siap dijajakan, ia belajar diruang dapur tak begitu jauh dari opungnya yag sedang menggoreng dengan duduk dikurdsi kecil dan bermejakan tempat tidur marjan membuka-buka buku pelajarannya.
Tak lama kemudian pisang yang digorengkan opungnya sudah diletakkan dengan rapi dikeranjang plastic kecil dan siap dijajakan marjan, marjan pun telah menyelesaikan pekerjaan rumah  yang diberikan guru sekolahnya ia pun bersiap-siap berangkat dan menjajakan goreng pisang tersebut, opung marjan tidak menggoreng semua pisang yang tadi disisiri pak lokot ia meninggalkan sebagian untuk di goreng esok pagi dan di tolak (diberikan) kepada pedagang kul yang berdagang dipajak, langganannya.
Sebelum berangkat opungnya sempat berpesan.
“ marjan karan, kau singgahi katompat pak lokot kau kasihkan pisang goreng yang    opung masukkan kedalam plastik tadi yang didalam keranjang itu yo”.
Iyo opung, aku berangkat dulu, assalamualaikum”
“ walaikum salam wr. wb” jawab opungnya dengan wajah tersenyum.
Marjan pun mulai menjajakan gorengannya ia menawari kepada setiapo orang yang berpapasan barang dagangannya dari rumah  ke rumah pun marjan jalani menjajakan goreng pisangnya.
Dengan suara lantang marjan sedikit berteriak
“ goreng..pisaaang..goreeeng..!
goreng pisang buk !
pisang goreng pak !
ujar marjan sambil tersenyum ramah .
beberapa orang yang berpapasan dengan marjan dan rumah yang dilewatinya membeli goreng pisang yang marjan jajakan, tak lama marjan pun tiba didepan rimah pak lokot,pak lokot dan istrinya sedang duduk santai diteras depan rumah mereka, pak lokot membaca surat kabar dan istrinya sedang menyulam.
Marjan pun menyerahkan goreng pisang kepada istri pak lokot sambil menyatakan pisang goreng ini opung yang menyuruhnya memberikan pada pak lokot dan keluarganya, pak lokot dan istrinya menerimanya dengan senang hati dan tak lupa mengucapkan terima kasih istri pak lokot menyelipkan uang lima ribu di saku marjan, namun dengan polos marjan mengembalikan uang tersebut kembali marjan menyatakan kalau goreng pisang ini tidak dijual kepada pak lokot itu sebagai tanda terima kasih opung kepada pak lokot yang sudah membantu opung menebang pisang tadi, pak lokot hanya tersenyum mendengar jawaban polos marjan, dan marjan pun tak kuasa menolak menerima uang ini.ketika pak lokot mengatakan bahwa sengaja uang tersebut diberikan kepada marjan untuk membeli kaus kakinya yang sudah kedodoran, dan pak lokot ingin dengan uang itu besok marjan bersekolah dengan menggunakan kaus kaki baru, dengan hati riang marjan pun mengucapkan terima kasih kepada lokot dan istrinya, marjan pun kembali menjajakan kuenya setelah berpamitan kepada pak lokot dan istrinya .
Dengan berjalan kaki ia menyusuri sisi jalan tak lupa ia menawarkan dan menjajakan barang dagangannya.
“goreng..pisaaang…goreeeng….”
Tak terasa marjan sudah berjalan tak jauh dari rumah halimah marjan pun melihat dolah, mukdin dan dapot duduk diteras depan rumah halimah dari teras rumah dapot berkata kepada marjan”marjan, nanti kalau sudah siap jualan kemari ya.?”
“iya marjan, nanti kemari ya? ”
  tambah halimah dari seberang jalan marjan menjawabnya.
“ iyolah, kalau solosai berjualan aku kesitu “
Mendengar suara anak-anak ibunya, halimah keluar dari dalam rumah ia melihat di sebrang jalan marjan sedang menuntun keranjang kecil menjajakan barang dagangannya, dan isarat tangan ibunya halimah melambai kearah marjan, sambil berkata “ marjan mari “ marjan pun menyebrangi jalan dengan hati-hati dan berjalan menujuh rumah halimah, goreng pisang yang dijajakan marjan masih 12 biji, halimah membelinya semua dan kepada halimah ibunya menyatakan agar membagi-bagi gorengan itu sebagian untuk di makan teman-teman halimah.
Kepada marjan yang baru datang halimah memperkenalkan saudara sepupuhnya maymunah yang sebelumnya sudah kenalkan duluan pada mukdin, dolah dan dapot.
Mereka pun larut dalam obrolan kocak mereka. Maymunah dapat menyesuaikan diri dan cepat berbaur dengan mereka, bercerita, bercanda, dan tertawa bersama.dengan iseng dolah bertanya kepada marjan.
“ marjan, sabonarnyo mano yang botul, pisang goreng, atau goreng pisang, tadi ku dengar tadi kau berteriak goreng pisang, pisang goreng !”
“ menurutmu  mano yang betul ?”  jawab marjan.
“ kayaknya pisang goreng, apo botul ? ‘’ tukas dola
“ saruponyo itu dolah, sepak bola sama bola sepak menurut mu yang mano yang botul
“marjan mala balik bertanya pada dolah, sementara teman-teman yang lain mendengarnya sambil tersenyum kecil melihat raut wajah keduanya dengan cepat dolah menjawab
“ sepak bola la marjan, macam mano pulak kau ini “ marjan hanya tersenyum dan menjawab
“berarti yang botulnyo goreng pisang la dolah, aku hanya berteriak ponat ku mambilang goreng pisang  ku bilanglah pisang goreng”.
“ bah ! kau dolah tendangan pinalti dari marjan , ha…ha…ha..” celutuk dapot
“ karna itu dolah jangan coca kau menjebak kawankan kau sendiri yang masuk perangkap, piyetoh” imbuh mukdin. Dolah hanya yengir kuda melihat teman-temannya menertawakan dirinya sambil menyomot goreng pisang dolah pun berkata.
“ ahh, tak ponting lah itu, mau pisang goreng, atau goreng pisang, yang penting     masukkan kedalam mulut, ha..ha..ha..”
Teman-teman yang mendengar perkataan dolah pun ikut tertawa.
Tak terasa hari telah menjelang senja mukdin, marjan, dolah dan dapot pamit pulang kepada halimah, tak lupa sebelum pulang mereka mengucapkan salam, hanya dapot saja yang tidak mengucapkannya karena memang dapot seorang nasrani, dalam berteman mereka tidak memilih-milih teman yang penting bagi mereka sahabat itu adalah seorang yang selalu baik, pengertian dan perhatian kepada sahabatnya, dapat merasakan suka duka sahabatnya dan juga selalu menghargai rasa persahabatan tersebut.
 Detik demi detik berpacu mengejar menit dan menit tiada henti mengikuti jam, jam  berputar menemani hari, hari demi hari tiada lelah menggapai bulan, bulan-bulan pun bergulir menambah angka pada tahun, tahun pun berganti menelusuri masa.
Tanpa terasa kini marjan, mukdin, dolah, dapot, halimah dan maymunah telah beranjak remaja. Dari sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama mereka selalu bersama, bahkan di sekolah menengah umum pun mereka masih bersama bersekolah di tempat sekolah yang sama. Susah,senang mereka lalui bersama dengan canda dan tawa, menyikapi hidup dan persahabatan dengan positif. Di sekolah menengah umum mereka duduk di bangku kelas 1, atau siswa baru di sekolah menengah tingkat umum tempat mereka menimbah ilmu.
Seperti teman-teman yang lainnya marjan pun beranjak dewasa. Opungnya sudah semakin tua, namun semangat dari nenek tersebut masih tetap menyala.
Marjan masih tetap membantu opungnya membuat kue untuk di jual atau di tolak sama pedagang kue yang berjualan di pajak ( pasar ). Ia pun masih berjualan jagung bakar jika ada pesta pernikahan atau hajatan dengan berjualan di pinggir jalan tak jauh dari lokasi pesta atau  hajatan tersebut. Begitu juga jika ada pasar malam marjan pun mengambil tempat di lokasi tersebut berjualan jagung bakar, opung nya lebih sering dirumah karena memang dengan halus marjan meminta opungnya untuk di rumah saja, marjan pun masih ingat ayahnya sudah dua kali pulang dan menemui mereka, pertama sewaktu marjan duduk dibangku kelas lima sekolah dasar dan terakhir dua tahun yang lalu tepatnya marjan duduk dibangku kelas dua sekolah menengah tingkat pertama kini ayahnya telah kembali membina rumah tangga dengan wanita setempat  diperantauan  dan ia ingin membawa marjan untuk tinggal bersmanya di perantauan  bersama ibu baru (tiri) marjan, karena memang saat ini ayahnya telah menjadi pemborong bangunan yang sukses, namun dengan halus marjan menolaknya dengan mengatakan ingin menjaga opung.
Kepada opung ibu dati mantan istrinya yang telah lama wafat ayah marjan pun mengatakan akan mengurus dan membawa beliau ikut serta bersama ayah marjan, seperti marjan dengan halus opung pun menolak, dengan mengatakan biarlah ia tetap tinggal di kisaran, dirumah peninggalan suaminya, sampai akhir hayatnya.
Dengan keputusan marjan dan opungnya, ayah marjan tak dapat berbuat banyak, ia pun kembali keperantauan, dari dulu pun ayah marjan sering mengirimkan uang untuk keperluan sekolah marjan dan kebutuhan sehari-hari, marjan beserta opungnya, oleh opung marjan uang tersebut selalu ditabung di bank terdekat berharap dengan uang itu marjan dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dikemudian hari kelak untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan sekolah marjan, opungnya masih bisa mengatasi dengan membuat dan berjualan jagung bakar walau yang dihasilkan tidaklah begitu banyak.
Antara pekerjaan dan sekolah, marjan dapat menyiasatinya dengan baik menggunakan waktu luang untuk kembali mengulang-ulang pelajaran dan dengan sungguh-sungguh belajar di saat sang guru sedang menerangkan didepan kelas.
Marjan juga gemar bermain sepak bola, jika sore hari ia tidak berjualan jagung bakar, bersama dolah, dapot dan mukdin mereka selalu satu tim, dan marjan pun masuk di tim sekolah karena keahliannya dalam mengolah bola sangat diperhitungkan tim  sekolahnya.
Bagi marjan bermain sepak bola adalah suatu permainan yang menjunjung tinggi ras persamaan, kekompakan dalam persahabatan, tiada mempersoalkan siapa yang lebih hebat, namun bagai mana cara bekerja sama dengan tidak mementingkan diri sendiri atau membuat mereka keluar sebagai  pemenang.
Karena itu ketika lawan bertemu dengan tim dolah, marjan, mukdin dan dapot mereka bermain harus sangat berhati-hati jika tidak ingin gawang mereka kebobolan berulang-ulang dipermalukan tim marjan.
Mereka juga tahu dolah marjan,mukdin dan dapot mempunyai keahlian dalam menggiring bola yang tidak boleh di anggap remeh, akan tetapi kekompakkan mereka dalam menyusun serangan yang rapi itulah yang di takutkan lawan.
Sekalipun marjan yang menurut tim paling bersinar, tidak membuat marjan menjadi sombong dan angkuh, malahan dengan skill yang dimilikinya ia lebih sering memberikan umpan-umpan yang akurat kepada teman untuk diselesaikan melesakan bola ke gawang lawan dengan sempurna.
Perna juga disaat bermain bola melawan kampung sebelah di saat mereka masih duduk di banku kelas dua sekola menenga tingkat pertama .
Berujung dengan pertengkaran dan berakhir dengan perkelahian setelah menderita kekalahan telak dari tim marjan 4-0, anak kampung sebelah mulai bermain dengan tidak professional dan sedikit agak curang, mereka selalu melanggar peraturan permainan, dapot tidak terima dirinya dijatuhkan dengan tindakan curang mahtub anak kampung sebelah, mereka pun terlibat adu mulut dan berujung dengan adu jotos, marjan yang coba memisahkan malah disangka teman-teman mahtub membantu dapot akhirnya perkelahian tak terelakkan lagi diantara mereka namun untunglah aparat yag melintasi jalan tak jauh dari tempat mereka bermain dengan sigap dapat memberentikan perkelahian tersebut dan dapat menyelesaikannya dengan cara damai.
Marjan pun masih sering main kerumah  pak lokot guru SDnya dulu, jika ada pelajaran yang kurang ia pahami, marjan pun bertanya kepada pak lokot, marjan pun sangat senang dengan kemahiran pak lokot dalam bermain gitar pak lokot sangat pandai, jari-jari tangannya sangat lihai memetik dawai gitar mengalunkan nada-nada yang dapat menyentuh jiwa, pak lokot tidak pelit untuk membagikan ilmunya dalam hal bermain gitar mengajari marjan, marjan pun merasa sangat bahagia ketika pak lokot mengatakan .” sudahjah, bawa saja gitar ini kerumah mu, biar kau makin mahir bermain gitar, jika aku ingin bermain gitar biar saja aku yang kerumahmu sekalian bersilatuhrahmi dengan opung, dirumah pun bukannya pandai si roma memainkannya, tapi kau harus janji merawat dan menjaga gitar ini”.
“ iya pak, terima kasih “ jawab marjan, roma adalah anak perempuan satu-satunya pak lokot yang dua tahun lebih tua dari marjan, ia duduk dibangku kelas 3 satu sekolahan dengan marjan, ia sangat baik dengan marjan walau ia sedikit pendiam dan tergolong pribadi yang agak tertutup.
Marjan masih ingat ketika lagu pertama yang di ajarkan pak lokot dalam bermain gitar lagu itu pak lokot yang menciptakannya sendiri dan sampai saat ini marjan masih sering membawakan lagu tersbut di iringi petikan gitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar