Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT saya ucapkan atas selesainya penulisan buku ini, tanpa ridho dan petunjuk dariNya, mustahil buku ini dapat dirampungkan, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada teman – teman yang membantu dalam menyelesaikan buku ini, buku ini yang berkisah akan untaian – untaian kata dalam makna dari para penyangga sastra pada zamannya dikemas menurut kacamata penulis.
Kisaran, Maret 2012
Penulis
Iwansekopdarat
“ Teduh kata penyejuk jiwa
Ialah obat
Untuk kawan setia
Dalam arti sahabat
Tidaklah merpati
Yang terbang tinggi
Diharap dan dipuji
Sedang punai di tangga
Dilepas dibiarkan
Seumpama puisi
Ilmu mengenal dunia
Pijakkan kaki ke bumi
Dengan tiada memakai alasnya
Seumpama madah
Ilmu mengenal Allah
Sujud di tasbih
Bertadah sajadah
Seumpama makna
Ilmu mengenal cinta
Pahami sifatnya
Dari anugrah sang pencipta “
Karya : iwansekopdarat
Tuan Petuah
( 1 )
Ku buka kata bismillah
Tiada ragu tiada berbilah
Madahku madah berkata
Madah dari anak rimba
Terbuang di hutan belantara
Tanpa siapa sanak saudara
Ai……
Malang sungguh nasib beta
Mengadu nasib sebatang kara
Siapalah tau…
Kelak menjadi orang berguna
Takkan lupa beramal di dunia
Biar ada bekal di alam sana
Karya : iwansekopdarat
Tuan Petuah
( 2 )
Ku buka kata bismillah
Tiada ragu tiada berbilah
Madahku madah sepulau
Bersair syahdu di tepi danau
Untuk dendangkan seribu pulau
Dalam hati tiada galau
Biarlah…
Ku berteman sepasang enau
Sebelum pergi diri merantau
Akan tetap ingatkan engkau
Untuk kembali rindukan pulau
Bermadahku di tepi danau
Madah dari anak pulau
Karya : iwansekopdarat
Tuan Petuah
( 3 )
Bak kelopak bunga melati
Setangkai ia kembang sendiri
Berharap rasa yang di hati
Kan menjadi…
Bagai sembilang bertemu kali
Ia kan sama mirip sekali
Kan ku dulang makna di hati
Ku jalani…
Karya : iwansekopdarat
Duhai Rembulan
Cipt. iwansekopdarat
A D
Kau laksana sulaman sutra kayangan
E A
Cindai dipilin haluan, ku yang tertawan
D
Kau umpama gurindam lagu di kalbu
E A
Merdu bak buluh perindu, suaramu
A E
Reff Bak pungguk merindukan bulan
A
Hatiku tertawan di dalam untaian
E A
Hanyalah khayalanku dalam buaian, terbang ke awan
A E
Bak hulu hujungnya muara
A
Kemanalah biduk haluan nahkoda
E A
Karamlah hatiku di lautan makna, ku yang merana
A D
Sadarku tak mungkin terbang ke awan
A
Menggapai sinarmu duhai rembulan
E
Cukuplah bagiku dalam untaian
A
Kan ku kenang
( lagu Duhai Rembulan dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat )
Tuan Pujangga
( 1 )
Elok nian kembang seroja
Cantik di mata elok dipuja
Disanggul, dipilin sang putri raja
Pancaran insan berkilau di nusantara
Amboi……
Ibarat umpama
Andaikan dan laksana
Bisakah mampukah
Dapatkah dan sanggupkah
Tertambat hati sang putri raja
Pada beta rakyat jelata
Ai… melepas sudah…
Hanyalah khayalan pelepas senja
Pertemuan dan perpisahan hak sang pencipta
Jodoh,ajal, dan rezeki kehendak Yang Maha Kuasa
Apalah daya…
Bak kata pepatah lama
Beta bagaikan pungguk rindukan purnama
Yang hanya menatap cahyanya
Ikhlas merengkuh bias sinarnya
Karya : iwansekopdarat
Tuan Pujangga
( 2 )
Sepuh beku di tangan
Hai dentingnya berkelah badan
Rapuh rinduku kan di dahan
Rantingnya patah pucuk haluan
Walau di dahan
Pucuk haluan
Kan ku simpan
Cindai sutra laksamana
Hai dipilin palu beradu
Menyemai rasa ku di dada
Menuai rindu ku di kalbu
Walau di dada
Rindu di kalbu
Tak menentu
Karya : iwansekopdarat
Tuan Pujangga
( 3 )
Indahnya payung
Raga selendang terkuas inai
Rindu terdayung
Mata memandang terlepas punai
Berputar payung ke kiri dan kanan
Berdaun inai pakai selendang
Sekapur sirih kami haturkan
Beramai kita mari berdendang
Menyisip madah gurindam dan syair
Hendaklah mengikut petuah para musafir
Bukan cahaya pada cantik dan rupa
Hendaklah berkilau hati suci di dalam jiwa
Karya : iwansekopdarat
Seindah tiung melayang
Cipt. iwansekopdarat
Amn Amn
Kain kebaya hai sayang, kain kebaya sayang
Dmn Amn
Berenda tepi berhias sisi
Amn Amn
Jangan kau lupa hai sayang, jangan kau lupa hai sayang
Dmn Amn
Indahnya janji bertuas hati 2 x
Amn
Reff Bukannya gunung menjulang
E
Hendak kudaki hai sayang
Mengapa rindu yang datang
Amn
Di dalam hati o…o…o… 2 x
Amn Dmn
Seindah punai yang terbang
Amn
Seindah tiung melayang
E
Ku terkenang dan terbayang
Amn
Kau pujaan 2 x
( lagu Seindah Tiung Melayang dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat )
Sang Penyair
( 1 )
Dari tinta
Kami titipkan
Dari pena
Kami tinggalkan bukti
Merah darah kami
Putih tulang kami
Yang berserakan di seluruh penjuru negri
Kami yang mati muda
Kenanglah suara
Susah sungguh hidup
Tiada tempat meraup
Terpatri berselang wadah
Acungkan jari menadah
Biar mati berkalang tanah
Asal jangan negri di jajah
Karya : iwansekopdarat
Sang Penyair
( 2 )
Apa kata dunia ?
Jika benderamu tak berkibar di angkasa
Apa kata mereka ?
Jika garudamu tak terbang gagah perkasa
Dunia kan berkata
Hanya setinggi bambukah benderamu berkibar?
Mereka kan berkata
Hanya setinggi galahkah garudamu terbang ?
Buka mata dunia
Buka pikiran mereka
Tunjukkan bahwa kau bisa
Tunjukkan pada dunia
Tunjukkan pada mereka
Kibarkan merah putih di angkasa raya
Bawa garudamu mengelilingi dunia
Lantangkan suara…
Untuk satu Indonesia
Karya : iwansekopdarat
Sang Penyair
( 3 )
Renta menata hari
Bersolek menghias diri
Lupahkah engkau, dengan kesederhanaan
Tergoda kemilauan
Gedung menjulang tinggi
Bertumbangan hutan pertiwi
Pabrik mengolah industri
Lautan yang tercemari
Tersakiti
Jangan salahkan siapa
Ketika bencana melanda
Jangan tanya siapa
Ketika tangan merajalela
Salah diri
Tanya sendiri
Karna bumi bukan milik pribadi
Sekarang baru kau sadari
Menangis sudah tiada arti
Bumi menjadi saksi
Bencanalah bukti
Yang kau khianati
Karya : iwansekopdarat
Indonesiaku 2
Cipt. iwansekopdarat
Jangan kau ragu, Indonesiaku
Peluklah garuda di dadamu
Sing sing lengan baju ayo maju
Lantangkan suara untuk bersatu
Walaupun berbeda namun tetap Satu
Jangan ragu Indonesiaku
Reff
Berkibar di angkasa
Merah putih tercinta, tunjukkan pada dunia
Terbang gagah perkasa
Garudaku tercinta
Tunjukkan pada dunia……Indonesiaku
( lagu Indonesiaku 2 dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat )
( lagu Indonesiaku 1 liriknya dapat dibaca di novel tentang rindu 2 karya iwansekopdarat )
Kapal masih bersandar di dermaga, talinya pun masih tertambat di tiang tangkahan. Senja menggeliat di cakrawala, rona merah pudar perlahan, penumpang telah naik duluan. Walau sang nahkoda belum sampai di anjungan berdesakan masuk untuk mencari tempat duduk. Disaat sang biduk masih terbungkuk, anak buah kapal begitu hawas mengecek tiket keberangkatan, berencana bertolak dari dermaga mengarungi lautan luas kurang lebih seperempat jam ke depan. Sepasang suami istri berjalan tergesa – gesa. Sang suami menjinjing sebuah koper hitam sambil menggendong seorang bocah laki – laki yang tak lain buah hati mereka, sang istri pun menjinjing koper yang lebih kecil dari koper yang dijinjing suaminya, sementara satu tangannya lagi mendekap erat tas yang disandangnya.
“ cepat pak, sebentar lagi berlayar, tangga sudah mau dinaikkan!“ ujar anak buah kapal yang tadi memeriksa tiket. “ayo buk, keluarkan tiketnya”,sang suami berkata kepada istrinya yang berjalan di belakangnya. Si istri pun mengeluarkan tiket yang baru saja dibelinya dari calo dan menyerahkan kepada anak buah kapal (ABK) yang memeriksa tiket. Setelah dicek ABK tersebut menyerahkan kembali tiket itu.
Di dalam kapal sepasang suami istri itu langsung berjalan menuju dek paling atas, mencari tempat duduk, waktu membeli tiket itu dari calo sang suami sudah tau bahwa tiada bangku kosong lagi, mereka harus cepat menuju dek atas siapa tau bangku santai yang di dek atas masih kosong.
Tali – tali mulai dilepaskan dari tiang – tiang pengikatnya, tangga pun akan dinaikkan, seorang pemuda dengan sigap melangkah menaiki tangga tersebut di pintu masuk kapal, pemuda itu menyerahkan tiket yang 3 hari lalu dibelinya namun sang ABK seakan sibuk hingga lupa memperhatikan pemuda itu, pemuda itu pun langsung masuk ke dalam ruangan kapal. Setelah menyelipkan kembali tiketnya ke saku celananya, ia menaiki tangga demi tangga berencana menuju dek paling atas seperti penumpang lain yang sibuk mencari atau mencocokkan nomor tiket yang tertera dengan nomor dek dan nomor bangkunya. Si pemuda itu malah cuek padahal tiket yang dibelinya 3 hari yang lalu menandakan ia duduk di dek 2 nomor 5 A, si pemuda itu ingin melihat laut luas tanpa harus bersekat kaca sebagai pembatas.
Jika berada di dalam dek (ruangan kapal), kapal itu tergolong besar memiliki lima dek yang bertingkat, kapal tersebut juga menyediakan ruangan VIP pada tiket yang berkelas dan ruangan ekonomi pada tiket biasa, semua tiket terjual habis, hanya ada beberapa tiket saja yang lagi tersisa tanpa nomor dek dan nomor tempat duduk. Tiket itulah yang dibeli sepasang suami istri yang tadi menuju ruangan atas kapal. Ternyata di ruangan atas pun telah penuh sesak, mereka yang tadinya telah menentukan tempat duduknya masing – masing pada tiket yang tertera angka. Setelah meletakkan tas dan perbekalannya, mereka pun menaiki anak tangga menuju dek paling atas sekedar memanjakan mata melihat lautan lepas bagai tak bertepi, melihat cakrawala yang membias disaat matahari sebatas kaki, jika di dalam dek, mata mereka seakan terpenjara oleh dinding kapal, hanya dari jendela yang berlapis kaca tebal saja mereka bisa melempar pandangannya, beda dengan ruangan atas kapal, angin laut langsung menerpa raga.
Kursi – kursi santai yang ada disisi kiri ataupun sisi kanan kapal telah terisi semua, pihak perusahaan kapal membuat pagar – pagar kokoh dari besi sebagai pembatas kapal, mereka menjaga dari hal – hal yang tak diinginkan pada kedua sisi badan kapal, mereka meletakkan beberapa buah sekoci tepat berada di bawah pagar tersebut, sementara letak kursi santai tidak begitu jauh dari bibir pagar, ± semeter jarak antara kursi dan pagar itu.
Berpuluh pasang mata menyaksikan keindahan panorama alam pada senja yang dihiasi pelangi, mega mendung berganti dengan rona jingga menandakan sebentar lagi malam menjelma, gerimis baru usai setelah menyapa bumi, suara sirene mengaung ganas, ada beberapa pasang mata yang tersentak dengan suaranya menandakan kapal yang tadinya bersandar mulai berlayar. Beberapa ABK sibuk merapikan tas dan kotak – kotak berukuran besar, mereka menyusunnya serapi mungkin tak lupa menutupi tas dan kotak itu dengan terpal besar lalu mengikatnya, walau pihak kapal memberikan pelindung yang terbuat dari plat besi tipis berukuran 3 x 3 m berfungsi sebagai atap pada empat tiang di dek atas namun tidak ditutupi dengan dinding, membiarkan angin keluar masuk leluasa di dalamnya, melindungi tas atau kotak – kotak milik penumpang dari teriknya panas atau curahan hujan, jikalau hujan lebat niscaya airnya akan merembes disisi – sisi pelindung tersebut karena itu para ABK menutupinya dengan terpal menjaga jikalau hujan rembesan airnya tidak mengenaitas atau kotak – kotak milik penumpang. Seorang ABK yang baru selesai merapikan tenda penutup tas dan kotak milik penumpang, menghampiri sepasang suami istri yang sedang asyik menikmati keindahan alam bernuansa bak mutu menikam pada lautan yang membentang. “permisi pak, buk, apa tidak sebaiknya bapak dan ibu mencari tempat duduk dulu di dek, dimana yang tertera angka pada tiket yang ibu dan bapak ambil ?”, ABK itu bertanya karna ia melihat 2 koper yang tadi dijinjing oleh sepasang suami istri itu diletakkan di samping mereka berdiri. “tiket yang kami beli tidak ada nomor dek atau bangkunya lagi. Kami membelinya dari calo. Calo itu mengatakan ini hari tiket keberangkatan terjual habis. Paling tersisa 2 atau 3 tiket, itu pun tanpa nomor dek atau nomor bangku karena bangku telah terisi semua, paling bisa ibu atau bapak istirahat di dek bagian atas, jika 3 hari lagi ibu berangkat kami akan usahakan agar ibu dan bapak dapat tempat duduk”, namun sepasang suami istri tersebut tetap membeli tiket itu karena keperluan mendesak urusan keluarga.
Mendengar cerita dari si wanita tersebut, sang ABK jadi maklum, ia pun menunjukkan ke arah mana tadi dia mengikat tenda, “ disamping tenda itu masih luas cukuplah untuk bapak dan ibu serta si kecil ini berteduh, memang menurut prakiraan mungkin nanti malam tidak turun hujan, tapi siapalah tau Tuhan punya kuasa”, sang ABK kembali berujar sambil menjinjing koper yang dibawa laki – laki yang sedang menggendong putranya, meletakkan koper di tempat yang dia tunjuk. “bapak bisa pasang alas seadanya pada lantai biar si kecil tidak kedinginan karna angin malam di lautan yang sangat tidak bersahabat, permisi pak, buk, saya tinggal dulu”.
“terima kasih dek”, jawab lelaki tersebut. Tak lama sang suami mengeluarkan sarung dari dalam koper berniat menggelarnya sebagai alas mereka duduk. “ sebentar pak, waktu kita berdiri tadi, ibu lihat ada beberapa kotak aqua kosong, mungkin bekas ABK membagikan minuman”, tanpa menunggu jawaban sang suami, si istri pun melangkah ke tempat dimana dia melihat kotak minuman gelas aqua. Setibanya disana ia mengambil 3 buah kotak kosong dan kembali ke tempat suami dan anaknya menunggu, ia pun menyerahkan kotak itu kepada suaminya, dengan beberapa tarikan kotak tersebut telah menjadi bidang datar tidak pada bentuk semula yaitu kubus, sang suami meletakkan kertas karton tersebut, mereka dapat duduk santai selonjoran kaki sambil bersandar pada tas – tas yang telah ditutupi terpal. Sarung yang tadinya akan digunakan sebagai alas mereka duduk, mereka gunakan untuk anak mereka, dengan duduk pun mereka tetap dapat melihat lautan lepas. Camar – camar laut terbang kembali ke sarang, semburat rona jingga memudar, pada laki langit tersisa bias kemerahan terselubung temaram. Sang senja menitipkan waktunya ketika malam datang menjemput.
“ buk, bapak ke dalam sebentar meminta air panas untuk popmie, jaga abang ya!”. “iya pak, jangan lama ya “, jawab si istri. Mereka memanggil nama anak mereka dengan sebutan abang. “cepat ya pak, abang sudah lapar”, ujar abang yang baru berumur 6 tahun, sambil beranjak dari tempat duduknya, ayah anak itu mengangguk pasti tak lupa mencubit dagu anaknya lalu berjalan menuju pintu dengan membawa 3 buah popmie. Makanan instan pengganti makan malam mereka. Si ibu mengeluarkan minuman ringan lalu menyerahkan kepada anaknya, tak lupa memberikan sepotong biskuit, si anak menerimanya dengan tersenyum.
Bagian atas dek yang tadinya ramai dengan puluhan pasang mata penumpang yang ingin melihat langsung keindahan alam laut lepas, satu per satu mulai berkurang, mereka kembali ke dalam dek ke tempat duduknya masing – masing. Seorang pemuda menggunakan baju kotak – kotak dan jeans biru laut duduk tak jauh dari anak kecil tersebut, ia pun duduk beralaskan kertas karton, tak ingin celananya kotor karena debu pada lantai atas kapal. Anak itu tersenyum kepada pemuda itu dan pemuda itu membalas senyuman anak itu. Pemuda itu adalah penumpang yang terakhir naik sebelum kapal bertolak dari dermaga. Pemuda itu hanya menyandang sebuah ransel dan gitar kesayangannya. Ia pun mengeluarkan tiket dari saku bajunya yang belum sempat disobek oleh ABK yang bertugas di bawah tadi. Ia hanya tersenyum memandang tiket yang masih utuh itu, ia mengambil sebuah buku harian dari dalam ranselnya dan menyelipkan tiket itu disela – sela bagian tengah buku. Buku itu tidak dimasukkannya kembali ke dalam ransel, dari satu bajunya pemuda itu mengeluarkan pena lalu menulis di buku itu. Tak lama buku itu diletakkan di sampingnya, ia mengambil gitar yang tadi tergeletak dan mulai memetikkan senar, melantunkan kidung syahdu pada senja yang semakin temaram, anak kecil yang tak jauh duduk dari pemuda itu sangat menikmati permainan gitar pemuda itu, ia juga suka dengan lagu yang dinyanyikan pemuda itu.
Lautan Yang Akan Mengerti
Cipt. iwansekopdarat
Amn E
Ku tinggalkan satu cerita
Dmn Amn
Terhempas ku hilang di lautan biru
Dmn Amn
Bersama bayangan yang tak terlupakan
E Amn
Tak kuasa rindu menahan
Amn E
Dihaluan layar perahu
Dmn Amn
Terpatah tiangnya jadi tak menentu
Dmn Amn
Ku arungi juga lautan yang biru
E Amn
Tanpa arah pasti ku tuju
A Dmn Amn
Ku pergi menyebrangi lautan
Dmn E
Ku pergi bukan aku tak sayang
E Amn Dmn
Reff Hanya karena orang tuamu
G C
Terpaksa aku meninggalkanmu
F Amn Dmn
Apalah daya ku orang tak punya
E Amn
Ku hanyalah insan biasa
Amn Dmn
Biarlah samudra yang menjadi saksi
G C
Biarlah lautan yang akan mengerti
F Amn D
Mungkin sudah nasib, ku harus begini
E Amn
Kuserahkan pada Ilahi
(lagu Lautan Yang Akan Mengerti dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat)
Ayah anak itu sudah dari tadi berdiri di samping anaknya, seolah – olah tak ingin mengganggu pandangan anaknya yang asyik menatap laut luas. “bang, ni popmienya, bangunkan ibumu”, ujar sang ayah memecahkan lamunan anaknya. Si ibu yang tidur – tidur ayam segera membuka matanya saat mendengar suara suaminya. Sang suami pun menyerahkan popmie kepada anak dan istrinya. “maaf ya buk, tadi bapak lama, antriannya panjang buk”, sang suami coba menerangkan mengapa ia agak lama kembali. “ya sudah ayo kita makan sama – sama. Sang suami pun duduk di samping anaknya. Mereka pun mulai menyantap hodangan instan pengganti makan malam. “makan yok om”, si anak menawarkan makanannya kepada pemuda yang duduk tak jauh dari mereka, bersamaan dengan itu seorang pemuda yang berjalan melintasi mereka tersenyum. “terima kasih adik kecil, duh ramahnya”, lelaki berjaket hitam berhenti sejenak menjawab pertanyaan anak kecil tadi sambil berjongkok, pandangan mata anak kecil tadi terlindung oleh lelaki yang berjaket hitam. “anaknya ya pak?”, tanya pemuda itu. “iya dek”,
“siapa namanya?”,
“abang om!”, anak kecil tadi langsung menjawab pertanyaan lelaki itu tanpa menunggu ayahnya yang menjawab. “sudah kelas berapa?”, tanya lelaki itu kembali. “mau masuk SDKom”, kembali anak tadi menjawab. Sang ayah dan ibu anak itu tersenyum melihat dan mendengar percakapan anaknya dengan lelaki itu. “nanti sekolah yang rajin ya, biar bisa jadi dokter”, “iya om”.
“yok pak, buk, saya permisi dulu ke dalam, assalamu’alaikum wr.wb”.
“wa’alaikumsalam wr.wb”, secara bersamaan bapak dan ibu anak itu menjawabnya dan lelaki yang berjaket hitam itu kembali berdiri berjalan masuk menuju ke dalam ruangan kapal, sekali lagi anak kecil tadi tersenyum kepada pemuda yang masih duduk tak jauh dari mereka. Ia pun membalas senyumannya. Pemuda itu pun beranjak dari duduknya, berjalan masuk ke dalam ruangan sekedar melihat – lihat ke dalam ruangan. Buku, ransel dan gitarnya memang sengaja diletakkan di samping tempat pemuda tadi duduk. Pemuda itu percaya jika gitar, buku dan ranselnya dijaga bocah tersebut. Tak lama ABK kembali memeriksa atau mengecek tiket penumpang dengan menghampiri tiap – tiap penumpang. Ayah dari anak itu menunjukkan tiketnya kepada ABK tersebut. “pak, tadi di dek 2 ada 2 bangku kosong, kemungkinan yang memesan tiket itu tidak jadi berangkat, Bapak dan ibu bisa istirahat disana”, ABK itu memberitahukan kepada ayah dan ibu anak itu.
“ terima kasih dek, sepertinya anak kami lebih senang di atas sini, jika pun udaranya nanti sangat dingin atau hujan turun kami akan masuk ke dalam ruangan itu”. Mendengar jawaban dari ayah anak tersebut, ABK hanya tersenyum dan berjalan menghampiri penumpang – penumpang lainnya memeriksa tiket di dek paling atas tersebut. “buk, abang tak mau di dalam, gak enak”, anak itu coba mengadu kepada ibunya. “iya, tapi abang pakai topi sama jaket dan tidak lupa sarung, nanti kalau abang mau tidur biar ibu peluk”, tukas ibunya.
Berpayung pada langit dengan taburan bintang dan rembulan yang bersinar lembut membuat malam semakin indah. Riak – riak buih pada lautan yang dilewati kapal itu bak alunan simponi alam dengan suara menderu, melantunkan kidung syahdu, anak tadi masih menunggu kemana gerangan pemuda berbaju kotak – kotak itu. “bu, temani abang pipis”, si anak berkata pada ibunya. “ayoklah, sekalian ibu juga mau ke kamar mandi”, jawab si ibu. “bu toiletnya di samping turunan tangga pertama”, sang ayah memberitahukan letak toilet kepada istrinya. “iya pak”, si ibu dan anaknya beranjak dari duduknya berjalan menuju ruang dalam kapal. ± seperempat jam kemudian si ibu dan anaknya telah kembali dan duduk dimana mereka duduk pada tempat semula. Anak tersebut mendapati pemuda yang tadi memetik dawai gitar melantunkan satu lagu kembali duduk tak jauh dari mereka. Pemuda itu tidak duduk sendiri, disamping pemuda itu duduk 3 lelaki lain bersama pemuda itu mereka duduk membuat lingkaran, anak kecil itu mendengar semua pembicaraan mereka karena letak duduk mereka tak jauh dari tempat dimana ayah dan ibu anak itu duduk.
“bang, sudah malam abang tidur ya, biar bapak peluk”, ujar ayahnya. Anak kecil yang dipanggil dengan sebutan abang hanya mengangguk. Ia pun kepangkuan ayahnya. Sang ayah yang sedang bersila meletakkan anaknya di atas kedua pahanya, anak itu menutupi kepalanya dengan sarung. Sang ayah hanya tersenyum sambil geleng – geleng kepala melihat ulah anaknya, sarung yang digunakan anak itu untuk menutupi kepalanya tidaklah sarung yang terbuat dari bahan tebal walau tertutup samar – samar anak itu masih dapat melihat pemuda yang duduk di depannya bersama ketiga teman pemuda itu. Ayah dan ibunya larut dalam cerita mereka, sementara pemuda dan ketiga temannya pun larut dalam cerita mereka. Si anak lebih tertarik mendengar cerita ketiga teman pemuda itu, dengan seksama anak tersebut mendengar semua percakapannya.
“dari berkawan dengan malam sejagat
Elok rupa menggenggam yang mudharat
Laksana tertutup tiada tempat
Terpatri palung berkelah
Hidup dikandung adat
Mati dikandung tanah”
Orang yang paling tua diantara mereka mulai membuka pembicaraan.
“sungguh indah madah yang dikau lapiskan wahai tuan petuah, bersembunyi dikata, terselubung dimakna, seumpama seloka, tuan berkata – kata, isyarat pada makna tersirat yang disekat pada baris – baris sekerat,
Jika lelah tiada beda
Ia kan jadi tak tertahan
Jikalau boleh beta mengiba
Jadikan diri murid tuan”
Orang yang lebih muda dari lelaki yang memulai pembicaraan berujar dengan gaya bahasanya memuji madah yang diucapkan lelaki tua itu, ia memanggil lelaki tua yang berjubah putih itu dengan sebutan “sang petuah”.
Lidi di kayu di kapak
Diletak pada raup
Disekat pada peluh
Tinggi ilmu tiada tegak
Secupak tiada cukup
Sesukat tiada penuh
Wahai engkau tuan pujangga, pada mimbar angkasa biarlah kita menguntai makna pada masing – masing kita yang hidup dimasanya, hendaknya janganlah menjadi angan – angan mengikat tubuh “sang petuah” berkata kepada orang ang lebih muda darinya sang petuah pun memanggil orang tersebut dengan sebutan tuan pujangga. Tuan pujangga mengenakan baju kurung atau teluk belanga berwarna kuning keemasan. Tidak lupa melilitkan sarung dipinggangnya yang digulung sebatas paha, diluar celana yang ia gunakan ( pakaian khas suku melayu ).
“kepada engkau tuan petuah dan tuan pujangga
Senang sungguh aku mendengar
Di paruh kata yang hampir pudar
Kami tak sempat membaca
Membawa ucap makna atau buah pena pada karya
Hanya sekilas kami membuka halamannya
Kami yang menggunakan tinta merah
Di atas kepala kami
Berdesingan peluru dari mesiu yang terarah
Kami yang menggunakan tinta merah
Menyuarakannya dengan hati
Disaat serdadu merampas tanah
Kami yang menggunakan tinta merah
Menyatukan pikiran yang terpatri
Agar tiada lagi genangan darah”
Pemuda yang ketiga lebih muda dari tuan petuah dan tuan pujangga coba mengutarakan maksud hati lewat bait puisi.
“kepadamu wahai sang penyair, baktimu terbukti bagi negeri, dengan tinta dikau bersuara, dengan tinta pemersatu bangsa,
Seumpama nasi di dandang, melepuh di apinya
Bagaimana bunyi gendang begitulah tarinya”
Tuan petuah coba memberikan nasehat kepada lelaki yang lebih muda dari tuan pujangga dan dirinya, ia pun memanggil laki – laki itu dengan sebutan sang penyair.
“Jangan engkau bersusah hati
wahai Sang penyair, sekalipun mati muda
Tiada sair yang tertunda…………
Entah angkuh menjulang hati
Tiada belang yang berkelang
Patah tumbuh hilang berganti
Esa hilang dua terbilang”
Tuan pujangga pun menambahkan perkataan tuan petuah.
“suatu anugrah yang tiada terkira, dapat bertatap muka dengan tuan semua menyangga sastra, tiang – tiang pada aksara, suatu kehormatan bagiku jika diizinkan menulis setiapperkataan tuan – tuan semua, agar dikemudian hari kelak dapat dipahami, mereka ang hidup dimasanya nanti”, ujar lelaki yang paling muda diantara ketiganya. Ia seorang pemuda yang tadi tersenyum kepada anak yang duduk tak jauh dari mereka duduk, ia seorang pemuda penumpang terakhir kapal yang saat ini sedang berlayar yang tak sempat diperiksa ABK tiket keberangkatannya.
“padamu penulis, tulislah menurutmu patut yang engkau tulis, jangan engkau bersembunyi dibalik penamu, suarakan jika itu memang perlu karna puisi tiada ragu pada kata yang terjalin padu”, sang penyair menjawab perkataan pemuda yang berbaju kotak – kotak itu dengan semangat yang berapi-api, sang penyair memanggil pemuda itu dengan sebutan penulis. Pemuda yang disebut mereka penulis dengan sigap mengambil buku dan pena yang tadi diletakkan disampingnya, ia telah siap menulis, menulis apa saja yang akan diucapkan tuan petuah,tuan pujangga dan sang penyair, tak jauh dari penulis itu duduk bersama tuan – tuan menyangga sastra, ayah dan ibu dari anak yang tadi tersenyum kepadanya, masih tetap bercerita pada obrolan ringan mereka, membahas tentang masa depan mereka dan anak yang dipangku ayahnya, sementara si anak walau wajahnya tertutup oleh kain sarung ia belum tertidur, ia masih terjaga dan mendengarkan pembicaraan penulis, sang penyair, tuan pujangga dan tuan petuah.
“pak seandainya nanti kita diminta oleh keluargaku untuk menetap di kampungku, bagaimana menurut pendapat bapak?”, si istri bertanya kepada suaminya. “kita lihat nanti saja buk, kalau memang itu yang dikatakan mereka dan diridhoi Yang Maha Kuasa, tak salah bagi kita untuk tinggal di kampung ibu, baik di kampung bapak atau di kampung ibu sama saja yang penting tetap mendapat hidayah dari Yang Maha Kuasa”, jawab sang suami. Si istri tersenyum bahagia mendengar jawaban dari suaminya yang menjawab dengan bijaksana. Si istri pun membelai rambut anak mereka dari luar sarung yang dipangku suaminya.
“jangan dibuka sarungnya, angin yang berhembus sangat dingin kasihan abang nanti kedinginan biar saja sarung itu menutupi wajahnya, lagipula sarung itu tidak begitu tebal, jangan khawatir abang tidak sesak bernafas dibuatnya”, sang suami coba menerangkan kepada istrinya agar tidak membuka sarung yang menutupi mereka. Si istri pun mengangguk ia pun menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Penulis hanya tersenyum melihat kedua orang tua anak itu, namun mereka tidak sempat membalas senyuman penulis itu karena mata mereka mulai terpejam.
“Seumpama padaku kata
Adakah madah yang tersirat
Tak berkecuali makna
Akan wadah yang sudah terikat
Pada untaian kami berpetuah
Pipit tali makan di hujan, tak halau padi habis, hendak dihalau kain basah”, ujar tuan petuah.
“laksana tuan berpetuah, beta mencari sepantun makna,tiada sengketa padanan katanya, selaksa memakan buah simalakama”, dengan gaya bahasanya tuan pujangga mencoba mengemukakan pendapatnya.
“pada pintu – pintu hati
Terkadang hinggap bimbang menjadi
Pada pilihan hati
Terkadang sulit dimengerti
Maju tiada benar
Mundur makin sukar
Panjang tiada akal
Pendek hilang akal”
Dengan bait – bait puisinya sang penyair pun mengutarakan pendapatnya.
Sementara penulis sibuk menuliskan kata yang diucapkan para pujangga sastra, penulis menarik kesimpulan bahwa yang mereka bicarakan tadi, seumpama dihadapkan kepada 2 pilihan yang sama – sama sangat dipentingkan, disinilah letak cobaan hati, untuk menetapkan satu pikiran.
“bahu kami memikul panas
Tangan kami menjinjing hujan
Sisa tinta diperas
Menulisnya dalam kata kiasan
Kami hanya minum kopi
Tidak sempat makan pagi
Lirih singgah melintang
Hidup kami terkekang
Berkalang tulang
Berkalang darah”
Kali ini sang penyair pula yang membuka topiknya
“wahai kawan sang penyair
Lekuk madah mu tersirat mahir
Dikau usap kata yang terukir
Semangatmu tiada henti
Berkobar laksana api
Kunang – kunang terbang tinggi
Cahya sinarpun tiada pendar
Kenang hidup dari yang mati
Tinta maknanya tiada pudar”
Tuan pujangga coba menanggapi dengan madahnya tentang sajak yang baru saja diucapkan sang penyair.
Tuan petuahpun, memberikan tanggapan,
“arku kan seimbang
Jika ditimbang dengan benang
Susah hatimu pada negeri
Bukti baktimu yang terpatri
Kebatlah lidi pada namanya
Niscaya sukar mematahnya”
Sejenak mereka terdiam sesaat, penulispun meletakkan bukunya ia mengambil gitar, dengan lembut ia sentuh dawai – dawainya, memetiknya dengan hati, melantunkan satu lagu mewakili rasa, tuan petuah, tuan pujangga dan sang penyair hanyut dalam ruahan rasa yang dilantunkan penulis.
“Masihkah”
Cipt. Iwansekopdarat
G C Dmy G
Masihkah ada tersisa
C Dmy C G
Cintamu buat diriku
G C Dmy G
Masihkah ada tersimpan
C Dmy C G
Rindu mu buat diriku
C G
Kau slalu dihati
C G Dmy
Dan takkan menepi bersemi
C B Dmy
Reff Masihkah ada tersisa
C Amn Dmy
Cintamu……..buat diriku
C B Dmy
Masihkah ada tersimpan
C Amn Dmy
Rindumu untuk diriku
C G
Walau tak mungkin kata bersama
Amn G
Mungkin sudah suratan darinya
C G
Hanyalah do’a yang kupanjatkan
C Dmy G
Moga engkau berbahagia
(lagu masihkah dapat dilihat di youtube dipencarian iwansekopdarat)
“sairmu, membelah mega
Ratapmu mengangkasa
Seperti tali kasih pada makna
Engkau merindu tiada tara
Tiada kekal beroleh miliki
Tak jarang hati tersakiti
Seumpama bertanya di janjang sirih
Bagai menyeka di tepak selaseh”, Ujar tuan petuah
Dengan bahasa pantun tuan pujangga menggenapinya
Rebah kayu ditebangkan
Kayu di hulu dihanyutkan
Gubahan rindu didendangkan
Rasa di kalbu dipertanyakan
Kayu di hulu dihanyutkan
Turut jua tangkai dan benih
Rasa di kalbu dipertanyakan
Angan bertaut ditangkai kasih
Turut jua tangkai dan benih
Bertemulah muara inti
Angan bertaut ditangkai kasih
K Merindukan setara hati
Bertemulah muara inti
Digagang aksara yang terpatri
Merindulah setara hati
Tergenggamlah satu mimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar